Tampilkan postingan dengan label Mumu Aloha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mumu Aloha. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2021

 

Hidup yang (Tak) Dipertaruhkan

Mumu Aloha ;  Wartawan, Penulis, Editor

DETIKNEWS, 21 Agustus 2021

 

 

                                                           

Saya menonton kembali film animasi Spirit: Stallion of the Cimarron yang secara kebetulan tayang di sebuah saluran televisi. Ini film tahun 2002, salah satu film yang masih membekas di benak saya. Sampai kini, hampir tiap hari saya masih terus memutar lagu-lagu soundtrack-nya yang sengaja saya pasang di playlist laptop saya, dinyanyikan oleh Bryan Adam. Awalnya, ketika mendapati film itu di layar televisi, saya berniat akan duduk menonton sebentar. Tapi, tak terasa, ternyata saya tak beranjak ke mana-mana sampai film selesai.

 

Saya masih ingat sebagian jalan ceritanya. Dan sehabis menontonnya malam itu, yang saya rasakan masih sama dengan saat pertama kali menontonnya nyaris 20 tahun lalu dalam pemutaran rutin perdana untuk wartawan. Mata saya berkali-kali tergenang air hangat yang saya biarlah meleleh di pipi. Saya menikmati momen itu. Saya mendadak jadi melankolis.

 

Betapa hidup begitu penuh perjuangan bagi seekor anak kuda jantan yang baru saja beranjak dewasa. Kehidupannya yang tenang dan bahagia di sebuah padang hijau bak surga bersama keluarga dan kerabat yang dicintainya, mendadak terenggut ketika sekelompok pemburu berkemah di hutan. Si kuda liar yang elok, gagah, dan perkasa itu pun segera menarik perhatian para manusia itu, dan mereka berusaha menangkapnya.

 

Perlawanan si kuda nyaris membuat manusia-manusia itu celaka, tapi bagaimana pun mereka lebih pintar dan yang pasti lebih jahat. Kuda itu akhirnya bisa dijerat dan dibuat tak berdaya, digiring untuk dibawa ke markas mereka. Sejak itu, hidup si kuda tak lagi sama. Terpisah dari keluarga dan kumpulannya, serta kehilangan surga kehidupannya, ia terus berusaha melakukan perlawanan ketika hendak dijinakkan. Karena terus melawan, akhirnya ia dilumpuhkan dengan siksaan, lalu dikurung sebagai tawanan.

 

Nasib mempertemukannya dengan seorang anak muda suku Indian yang juga menjadi tawanan para koboi itu. Mereka bersekongkol hingga berhasil meloloskan diri, tapi manusia-manusia itu rupanya masih terus mengincar si kuda. Manusia-manusia itu berhasil kembali menangkapnya, dan Kebebasannya kali ini ia diangkut dengan kereta untuk bergabung dengan kuda-kuda lain, untuk melakukan kerja yang sangat berat.

 

Sadar bahwa dirinya kini makin jauh dari padang surga tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, gelora perlawanan dalam dirinya meronta tanpa bisa dikendalikan lagi. Begitulah, untuk mendapatkan kebebasannya kembali, dan kedamaian hidup seperti semula, ia harus terus menerus berjuang mengatasi berbagai rintangan yang tak putus-putus dan berkali nyaris merenggut nyawanya. Semangatnya yang tak padam dan usahanya yang tak kenal menyerah untuk bisa kembali berkumpul dengan keluarganya dilukiskan dengan indah dalam lirik lagu sound track:

 

I can't stand the distance

I can't dream alone

 

Dan, tekad itu memberinya keyakinan:

 

Yes, I'm on my way home

 

Dada saya terasa sesak, sekaligus lega -perasaan saya campur aduk. Saya merasa baru saja mendapatkan kejutan kecil, sebuah penghiburan gratis yang tak terduga-duga di tengah pembatasan aktivitas yang menekan mental dan menyurutkan gairah di masa pandemi ini. Tiba-tiba saya teringat beberapa waktu sebelumnya, netizen dibuat heboh oleh sebuah tweet kutipan filosofis yang sebenarnya lumayan klise, ditambah karena "diucapkan" pada saat yang tidak tepat --waktunya tidak nyambung, kata Derrida-- menjadi terdengar "salah sasaran".

 

Seorang jubir istana "tiba-tiba" nge-tweet, "Hidup yang tak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan," sebagai caption untuk posting-an fotonya yang gagah dan tersenyum sentausa dalam busana resmi jas dan dasi. Sebuah kutipan dari seorang filsuf yang tidak terlalu penting untuk disebutkan di sini, namun kita tahu, pernah dikutip kembali antara lain oleh tokoh bangsa Sutan Syahrir.

 

Kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Dunia sedang menjadi buruk, lagi-lagi kata Derrida. Dunia sudah usang, tetapi...tak ada lagi yang menyadari atau pun peduli dengan keusangan. Sebab, apa yang sedang terjadi hanya penting bagi zamannya sendiri. Dan sekarang adalah zaman kita, zaman yang tak disangka-sangka akan mendapat serangan dari "makhluk" tak kasat mata, dan memporak-porandakan hampir seluruh tatanan dan sistem kehidupan kita --kesehatan, ekonomi, pergaulan sosial, budaya.

 

Pertengahan tahun ini banyak sekali orang mati, berjibaku dengan virus, berebut tempat dan perawatan di rumah sakit, sampai kehabisan obat-obatan dan tabung oksigen, dan tiba-tiba seorang pejabat negara bicara tentang "hidup yang tak dipertaruhkan" --mau dipertaruhkan seperti apa lagi?

 

Memang, bisa jadi sang pejabat tidak memaksudkan "ucapannya" itu dengan konteks yang terjadi di luar sana, saat ini. Bisa saja ia memang hanya sedang ingin menyemangati dirinya sendiri berkaitan dengan apa yang secara personal sedang dihadapinya. Tapi, apapun itu, keterhubungan digital kadang tak mau peduli dengan konteks yang hilang. Ketika kita semua terhubung, kepekaan menjadi tuntutan dan keniscayaan.

 

Terlepas dari pro-kontra tweet itu, yang sejujurnya malah memberikan hiburan dan intermezo sesaat d tengah sumpeknya realitas, betapa pun klise dan basinya, kalau dipikir-pikir "masih" ada benarnya, dan masih bisa dipertimbangkan kembali. Saya tidak bicara tentang badai kematian yang sempat mengguncang kita pada Juni lalu. Orang-orang sudah bicara banyak sekali tentang kematian. Banyak yang sampai menyelam ke dasar fisosofi.

 

Saya teringat obrolan beberapa teman di Facebook, yang membahas tentang makna kematian. Yang membuat saya agak kaget adalah salah satu komentar yang bagi saya memang mengejutkan, ketika dia menyebut istilah "meromantisasi kematian". Saya agak lama tercenung. Apa maksud teman saya ini? Agak lama saya tak melanjutkan membaca komentarnya yang agak panjang, tapi kemudian pelan-pelan saya baca sampai akhir.

 

Saya tak sepenuhnya bisa setuju dengan opini teman saya, dan memang tidak harus, tapi saya bisa menangkap "spiritnya". Kata-katanya mungkin memang agak "keras", tapi maksud yang ingin ia sampaikan sebenarnya, kalau dipikir-pikir ada benarnya. Intinya, secara tersirat dia hendak menegaskan bahwa dalam hidup ini, menghadapi atau bahkan menantang kematian adalah tema utama manusia. Ia mencontohkan orang-orang yang sepanjang hidupnya harus berjuang antara hidup dan mati karena menderita terminal illness hingga mereka yang sampai melakukan percobaan bunuh diri.

 

Selama masa PPKM yang sambung-menyambung setiap minggu ini, saya secara random membaca buku-buku lama, dan entahlah, seperti kebetulan tiga buku yang saya baca, semuanya bicara tentang hidup yang tidak mudah. Satu tentang John Nash, matematikawan peraih Hadiah Nobel bidang Ekonomi untuk temuannya tentang teori permainan yang mengidap sakit jiwa. Lainnya biografi vokalis The Door Jim Morrison yang kematiannya di usia muda masih menyisakan misteri hingga kini. Dan, satu lagi novel semi biografis Sylvia Plath, The Bell Jar, yang juga bercerita tentang "kegilaan" dan percobaan bunuh diri.

 

Menyaksikan kembali film Spirit: Stallion of the Cimarron seolah memperpanjang benang merah yang tergurat di benak saya setelah membaca ketiga buku itu tadi: benar juga, hidup ini memang mengandung pertaruhan, dan ada saat ketika kita harus menebusnya. Setidaknya, bagi sebagian orang, hidup ini tidak selalu mudah, bahkan tidak pernah mudah. Tentu saja, kuda hanyalah metafora. Film selalu bicara tentang kehidupan.

 

Saya lalu ingat diri saya sendiri. Apa yang telah saya pertaruhkan selama ini? Baru ingat cicilan yang harus dibayar di awal bulan saja kadang sudah merasa hidup ini berat sekali. Padahal kata Gus Baha', punya utang itu penting. Bahkan kita "harus" punya utang, meskipun sedikit. Semata agar kita tidak menjadi sombong. "Jadi, kalian semua punya utang itu sudah bener," seloroh ustad idola itu dalam salah satu potongan videonya.

 

Dalam sebuah obrolan terbaru dengan teman via WA, saya mendadak seolah keceplosan mengeluh tentang kebosanan. Saya bosan dengan pandemi ini. Saya bosan di rumah terus. Saya bosan tidak bisa jalan-jalan dengan bebas seperti dulu. Bahkan, saya kemudian juga mengatakan, "Aku kadang merasa sampek bosan hidup." (Astaghfirullah....)

 

Awalnya teman saya hanya menanggapi dengan menawarkan untuk main ke tempatnya (dia tinggal di Bandung), tidak secara khusus merespons keluhan saya. Tapi beberapa jam kemudian, dia mengirim pesan yang diawali dengan permintaan maaf, "Aku tidak tahan memberanikan diri untuk membahas ucapanmu yang ini," kata dia. Maksudnya, ucapan saya tentang "merasa sampek bosan hidup" tadi.

 

Tiba-tiba saya merasa bersalah. Mungkin saya telah berlebihan. Mungkin saya "meromantisasi kebosanan". Orang lain mempertaruhkan hidup, dan masalah saya hanya "bosan". Kok rasanya sepele banget! Teman saya menasihati:

 

Sepertinya tidak bolehlah kita berpikir seperti itu. Aku mencoba mengubahnya menjadi "hidupku tak lama lagi". Maka, dengan begitu, harus digunakan sebaik mungkin. Apapunlah, tidak ada hal yang sepele untuk menyelesaikan hidup.

 

Kalimat terakhir itu mengingatkan saya pada kata-kata Arnold Bennet, penulis buku self help klasik Bagaimana Hidup 24 Jam Sehari yang terbit pertama kali pada 1908: tidak ada yang membosankan dalam hidup.

 

Pandemi membuat saya memikirkan kembali banyak hal, sampai tiba pada kesimpulan bahwa hidup mungkin ya memang "gini-gini aja". Atau barangkali lebih tepat dikatakan: kalau hidup ternyata memang gini-gini aja, lalu kenapa? Mau apa lagi sih? Masih pengen apa lagi? Tak ada yang perlu dirisaukan. Kalau kata teman saya: don't worry, tidak selalu happy tidak apa-apa.

 

Saya suka sekali dengan ucapan itu. Ya, tidak selalu happy tidak apa-apa.

 

Saya teringat sang kuda. Saya teringat kalimat sang filsuf yang dikutip dari zaman ke zaman. Sang kuda telah melewati sebuah pertaruhan hidup yang berdarah-darah. Pertaruhan hidup saya, dan mungkin sebagian dari kita, paling banter, sejauh ini, sekali lagi, hanyalah soal utang --cicilan ini dan itu yang harus diselesaikan setiap awal bulan, sesaat setelah transfer gaji masih ke rekening. Dan, rasa bosan yang sepele itu.....

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5690600/hidup-yang-tak-dipertaruhkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 17 Juli 2019

Alangkah Indahnya Politik Itu

Minggu 14 Juli 2019, 12:08 WIB

Alangkah Indahnya Politik Itu

Mumu Aloha - detikNews

Jadi, apakah politik itu?

Kalau gigimu sakit, dan kau harus pergi ke dokter untuk mencabutnya, salahkan negara, dan itu artinya urusan politik. Masyarakat Jakarta sekarang bisa menikmati sore yang indah dengan bermain skate board di trotoar jalanan yang luas dan nyaman, itu tak terlepas dari keputusan politik. Kita bisa saja (tetap) mengeluh, untuk sekadar punya trotoar yang luas dan 'manusiawi' saja kita mesti menunggu berpuluh-puluh tahun, memangnya apa yang dikerjakan oleh para penguasa kota sebelum ini?

Tapi, sekali lagi, itu(lah) politik. Atau, lebih tepatnya kalau kita katakan, itulah indahnya politik.

Politik memberi kita harapan, mewujudkan kebaruan-kebaruan, dan pada akhirnya menciptakan kondisi-kondisi yang mengarahkan kita untuk perlahan-lahan semakin dekat dengan kehidupan yang kita impikan, kebahagiaan yang kita angankan, dan keinginan-keinginan lainnya. Pendek kata, kita tak bisa hidup tanpa politik. Udara yang kita hirup setiap bangun tidur pada pagi hari adalah politik, angin semilir yang membelai pipi kita saat berlibur di pantai adalah politik.

Langit yang memayungi kita, bumi yang kita pijak, dan ruang tempat kita bergerak ke sana ke mari semua adalah politik.

Ada suatu cerita dari khasanah pelajaran zen. Seekor ikan kecil bertanya kepada ikan besar. "Aku sering mendengar pembicaraan tentang laut. Laut itu apa?" Jawab ikan besar, "Segala yang di sekelilingmu itu adalah laut." Mendengar penjelasan itu, ikan kecil pun menyahut, "Kok aku tak bisa lihat?"

Kata ikan besar, "Kamu hidup, bergerak, dan keberadaanmu dalam laut. Laut ada di dalam dan di luar dirimu. Laut memberimu kehidupan dan saat kematian tiba kamu kembali ke asalmu. Laut di sekelilingmu seperti dirimu sendiri."

Demikianlah, sebagaimana ikan, kadang kita tidak menyadari "tempat hidup" kita. Ikan hidup di sungai, danau, rawa-rawa, empang, kolam, blumbang, hingga laut, dan mereka tidak menyadarinya. Demikian pula kita, warga negara, hidup dalam politik, dan sering melupakannya.

Politik itu sederhana. Ketika kau mengulek cabai menjadi sambel kesukaanmu, ingatlah bahwa itu semua urusan politik. Apa kau lupa, pernah marah karena harga cabai melambung tinggi? Kemarin, belum lama, harga daging ayam di pasaran anjlok, masyarakat konsumen girang, tetapi peternak dan penjual ayam naik pitam hingga protes dengan cara membagi-bagikan ayam mereka secara gratis. Kejadian serupa pernah menimpa petani tomat, ketika mereka membuang hasil panennya ke jalanan sebagai protes karena harga tomat rendah sekali.

Begitulah, bahkan untuk urusan jumlah uang yang harus kita keluarkan dari kantong untuk membeli barang-barang pun, ada keputusan politik di belakangnya, yang kadang rumit, sampai bisa membuat seorang menteri jadi kurang tidur. Sekali lagi, alangkah indahnya politik itu.

Bahkan, misalnya kau seorang laki-laki dan menyukai (sesama) laki-laki, atau perempuan yang hanya bisa jatuh cinta pada perempuan juga, lalu orang-orang menyebutmu LGBT, dan kau merasa dikucilkan, diperlakukan tidak adil di masyarakat, karena hak-hakmu tidak setara dengan warga negara lain pada umumnya, tenang, ada politik yang bisa membelamu. Kalau kau buruh, atau guru honorer, atau karyawan kontrak, dan merasa upahmu rendah, tenang, politik bisa memperjuangkan tuntutanmu.

Politik adalah jawaban bagi setiap persoalan kita.

Seorang pakar akan berkata begini: politik adalah upaya untuk membuka celah kemungkinan bahwa sesuatu yang tidak dihitung menjadi dihitung dalam tatanan sosial serta memiliki kesinambungan yang kontingen pada beberapa subjek-subjek lainnya. Terdengar agak memusingkan?

Lupakan, dan bayangkan saja ini: dengan politik, kita memilih pemimpin-pemimpin yang kita dukung, kita percaya, kita cintai, lewat sebuah hajatan besar pesta demokrasi yang gegap gempita --bahkan pada hari itu kita diberi libur (terima kasih, politik!) khusus untuk mencoblos, memberikan suara kita dengan bebas. Alangkah indahnya demokrasi. Lalu, setelah suara kita dihitung, dan pemimpin yang kita pilih kalah, kita masih bisa menggugatnya dan membawanya ke sidang perselisihan hasil pemilu ke sebuah mahkamah yang nantinya akan memberikan keputusannya. Apa yang lebih indah dari demokrasi di dunia ini?

Seorang pakar akan berkata begini: perhatian utama demokrasi bukanlah pada formulasi kesepakatan atau penjaminan tatanan, namun juga mendorong dan memberi tempat pada "ketaksetujuan". Apa ini juga terdengar agak memusingkan? Baik, baik, bagaimana kalau kita bayangkan saja sebuah pertunjukan. Panggungnya adalah gerbong MRT yang kini menjadi kebanggaan warga Jakarta. Terlihat dua orang aktor, bukan, tokoh bangsa, ya pemimpin-pemimpin yang kemarin kita coblos dalam pemilu yang demokratis itu.

Entah janjian atau bagaimana, keduanya sama-sama memakai kemeja warna putih, duduk berdampingan, intim, mesra. Seperti tampak pada foto-foto yang kemudian beredar di media massa dan lini massa media sosial kita, Pak Prabowo begitu semringah, tak lepas menatap Pak Jokowi yang seperti biasa agak "malu-malu", dan "tak berani membalas" tatapan yang mengarah kepadanya. Itulah pertunjukan politik yang terjadi Sabtu (13/7) pagi kemarin.

Media massa dan para netizen pun seolah bersorak: akhirnya! Seperti ada perasaan lega yang membuncah. Seperti ada beban tak tertanggungkan yang telah sekian lama memberati pundak, dan mendadak sontak terlepas. Plong. Semua senang. Ringan dan riang gembira.

Tapi, ternyata ada juga yang #kecewa. Lagi-lagi, ingat, inilah politik, inilah demokrasi. Kita boleh sepakat untuk tidak sepakat. Kita boleh kecewa di tengah banyak orang yang menyambut pertemuan itu sebagai "merajut kembali tali persaudaraan bangsa yang terkoyak", atau apalah ungkapan yang semacam itu. Yang kecewa mungkin berpikir, lho, sudah didukung "mati-matian", sampai titik darah penghabisan, menguras seluruh emosi, lha kok akhirnya berangkulan tertawa-tawa dan makan sate bersama. Apa-apaan ini!

Seorang netizen berkata: Nggak akan lupa kerusuhan 22 Mei dan semua energi negatif yang dibuat selama ini. Nggak akan!

Netizen lain meratap: Hancur sehancurnya hati ini bila kalian bisa merasakan apa yang berkecamuk dalam jiwaku.

Netizen lainnya lagi menambahi: Foto Pak Prabowo yang sudah berbulan-bulan saya pajang di rumah dengan penuh kebanggaan...dengan penuh kekecewaan, dengan perasaan sedih hari ini saya turunkan... 

Netizen lain pula menyahut: Jangankan yang berjuang siang malam mengorbankan tenaga, pikiran dan harta, saya yang hanya berjuang di medsos dengan sedikit uang saja merasa marah.

Ada juga yang perih tapi lucu karena mengingatkan kita pada lagu dangdut: Tega-teganya Prabowo menyakiti kami. Ya Allah.

Yang kemudian diisengi dengan sahutan yang tak kalah lucu, dan kali ini benar-benar bikin kita tertawa, melupakan bagian "perih"-nya tadi: Kalau pakai perasaan jangan berpolitik, mending pacaran saja.

Adapun yang merasa lega dan gembira, agaknya lebih realistis dan paham bahwa ya, inilah politik. Apalagi yang kamu harapkan? Apakah terlalu sulit untuk memahaminya? Jadi, apakah politik itu? Apakah masih perlu penjelasan? **
*

Selasa, 09 Juli 2019

"Ngetawain" (Anak) Presiden

Minggu 07 Juli 2019, 11:10 WIB

"Ngetawain" (Anak) Presiden

Mumu Aloha - detikNews

"Terima kasih tuhan, saya masih bisa ngetawain presiden dan anak presiden untuk 5 tahun ke depan."

Itulah respons salah seorang netizen atas tweet kocak Kaesang Pangareb beberapa waktu lalu. Putra bungsu Presiden Jokowi itu me-retweet foto yang diunggah oleh akun bapaknya yang tengah berpose dengan sejumlah perempuan pemimpin dari negara-negara G20 di sela konferensi di Osaka, akhir Juli lalu. Bunyi caption foto itu: di antara perempuan-perempuan perkasa. Kaesang me-retweet dengan menambahkan: cc: ibu.