Tampilkan postingan dengan label Melawan Flu Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melawan Flu Burung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2013

Salah Kaprah Menghadapi Flu Burung


Salah Kaprah Menghadapi Flu Burung
Mangku Sitepoe ;  Anggota PDHI dan IDI,
Mantan Anggota Tim Ahli Flu burung di BPK
SINAR HARAPAN, 15 Januari 2013



Flu burung di Indonesia sudah bersifat zoonosis. Flu burung dijumpai pertama sekali di Italia pada tahun 1878, ditularkan hanya antar-unggas saja. Kemudian pada tahun 1997 di Hong Kong, flu burung dengan virus H5N1 ditularkan dari unggas ke manusia jadilah virus H5N1 bersifat zoonosis.

Zoonosis adalah penyakit dari hewan ditularkan ke manusia dan sebaliknya. Untuk menjadi zoonosis di dunia internasional memerlukan waktu 119 tahun, yaitu 1878-1997. Penyakit flu burung di Indonesia pada unggas pertama sekali terjadi pada Agustus 2003, sedangkan pada manusia dijumpai pada Juli 2005 atau dalam kurun waktu 23 bulan telah menjadi zoonosis.

Penyebab flu burung di Indonesia adalah jenis virus Orthomyxoviridea tipe A subtipe H5N1 clade 2.1.2 dan 2.1.3 yang telah bersifat zoonosis, yang menyerang ayam, bebek, angsa dan puyuh serta manusia.

Adapun flu burung menyerang bebek mulai September 2012 berbeda dengan virus penyebab: subtipe H5N1 clade 2.3.2., yang masih ditularkan antarbebek saja dan belum ditularkan ke unggas lainnya juga belum ditularkan ke manusia. Dengan kata lain belum bersifat zoonosis di Indonesia.

Perjalanan Virus H5N1 Zoonosis

Penyakit flu burung di Indonesia pada unggas pertama dijumpai pada Agustus 2003 di Pekalongan. Sampai awal 2005, telah 10 juta ekor unggas yang diserang di delapan provinsi.

Otoritas Veteriner melalui Menteri Pertanian melalui SK No 96/Kpts/PD.620/2/2004 menetapkan penyakit flu burung pada unggas berstatus wabah di delapan provinsi di Indonesia.

Sayangnya Menteri Pertanian kemudian membatalkan peran Otoritas Veteriner melalui SK No 413/Kpts/TD.160/11/2005 pada 22 November 2005 sehingga pada penanggulangan flu burung pada unggas atau pada hewan di Indonesia tidak memiliki payung hukum yang kuat. Ini menimbulkan berbagai kontroversi dalam penanggulangan penyakit flu burung pada unggas di Indonesia.

Sampai awal 2012, penyakit flu burung telah mewabah di 31 provinsi dari delapan provinsi pada 2004. Penyakit ini telah menelan korban puluhan juta ekor unggas, yaitu ayam, bebek, angsa, dan puyuh. Namun, angka kematian tidak dilaporkan.

Flu burung pada bebek di Indonesia di luar dugaan, yang dimulai pada September 2012. Kompas edisi 11 Desember 2012 menyatakan bahwa telah 320.000 ekor bebek mati disebabkan virus H5N1 subclade 2.3.2. Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian melaporkan sampai 16 Desember 2012 terdapat 85.911 ekor bebek mati di 29 kabupaten/kodya di Pulau Jawa dengan virus H5N1 clade 2.3.2.

Virus H5N1 yang hidup pada bebek di Indonesia saat ini dijumpai ada dua clade, yaitu H5N1 clade 2.1.2 yang hidup baik pada bebek (dan unggas lainnya) dan juga hidup pada manusia. Adapun H5N1 clade 2.3.2 yang hanya hidup pada bebek saja belum dijumpai pada unggas lainnya dan juga belum ditularkan ke manusia.

Virus ini Indonesia belum bersifat zoonosis, tetapi di Korea Selatan, China, dan Banglades telah dijumpai virus H5N1 clade 2.3. 2 yang juga menyerang manusia sehingga sudah bersifat zoonosis. Virus H5N1 clade 2.3.2 berpotensi menjadi zoonosis di Indonesia. Menjadi pertanyaan apakah clade H5N1 clade 2.3.2 berasal dari luar negeri atau hasil mutasi di dalam negeri.

Widiasmara, virolog dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, 26 Desember 2012, mengungkapkan kemungkinan penyebaran virus H5N1 clade 2.3.2 dari China melalui bebek liar yang singgah pada daerah pantai utara Pulau Jawa daerah pertama terjadi kasus fu burung di Indonesia, yaitu Brebes. Kemungkinan lain dapat juga melalui impor doc (kutuk) bebek, bebek hidup, maupun daging bebek serta bulu bebek untuk pembuatan kok bulu tangkis.

Antisipasi pada Bebek

Kala virus H5N1 clade 2.3.2 atau varian baru menyebabkan ribuan ekor bebek mati di 29 kabupaten/kodya di Indonesia, seharusnya Otoritas Veteriner menetapkan bahwa penyakit flu burung pada bebek di Indonesia telah mewabah sebagai aspek epidemiologis. Diberlakukannya UU Penanggulangan Penyakit Menular pada hewan (Staatsblad 1912 No 432 Pasal 7, sayang telah dicabut UU No 18 Tahun 2009 Pasal 98 Ayat 2a) sebagai aspek legal.

Dengan demikian penanggulangan flu burung pada bebek di Indonesia memiliki payung hukum. Otoritas Veteriner juga memiliki hak prerogatif melaksanakan penanggulangan flu burung pada bebek di Indonesia.

Namun dalam kenyataannya, Otoritas Veteriner telah sirna serta Staatsblad 1912 No 432 Pasal 7 telah dicabut. Di luar negeri, H5N1 clade 2.3.2 telah menyerang manusia, dan di Indonesia memiliki potensi untuk menyerang manusia.

Antisipasi flu burung pada bebek yang akan menyerang manusia di Indonesia hingga saat ini masih berstatus KLB flu burung dari aspek epidemiologis dan masih berlaku UU No 4 Tahun 1984 serta UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Masih berlaku dari aspek legal MenteriKesehatan masih memiliki hak prerogatif menanggulangi flu burung di Indonesia. Beberapa langkah menanggulangi flu burung di Indonesia:
·         Laksanakan Piagam Kerja Sama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Kesehatan No 226.9a/DDI/72 dan No 601/XIV/Piagam E pada 9 Agustus 1972. Sesuai dengan WHO, FAO, dan OIE dalam menghadapi emerging and re-emerging disease: One World One Health dimanifestasikan synergism animal health and human health. Kementerian Kesehatan menggerakkan fund and forces untuk membantu Kementerian Pertanian. Itu karena Kementerian Pertanian kehilangan payung hukum dalam menanggulangi wabah penyakit flu burung di Indonesia.
·         Larangan importasi unggas hidup maupun produk unggas dari negara-negara diperkirakan masih tertular virus H5N1.
·         Adakan pengawasan terhadap importasi dan perpindahan unggas hidup maupun produk unggas dari negara atau daerah tertular virus H5N1.
·         Intensifkan pemeriksaan pada masyarakat yang berhubungan dengan penderita atau bangkai bebek yang mati disebabkan virus H5N1.
·         Adakan depopulasi pada daerah-daerah tertular dengan kompensasi.
·         Adakan vaksinasi pada bebek dengan seed virus H5N1 clade 2.3. yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri (Nidom Ch, 2012).

Sabtu, 29 Desember 2012

Flu Burung Lagi!


Flu Burung Lagi!
CA Nidom ;  Ketua Avian Influenza-zoonosis Research Center Universitas Airlangga
KOMPAS, 28 Desember 2012



Tidak jauh dari Bandara Juanda, Surabaya, ada warung kaki lima dengan tulisan ”Bebek Teroris” secara mencolok. Pengunjungnya antre untuk menikmati kuliner bebek goreng dengan aneka sambal itu.

Tampaknya tidak ada yang terpengaruh berita banyak bebek mati karena flu burung. Memang demikianlah seharusnya. Konsumsi daging dan telur bebek tetap aman.
Situasi di mana bebek terserang flu burung agak mengejutkan. Biasanya bebek tahan terhadap virus flu burung. Bebek punya kemampuan mengubah sifat keganasan dari virus flu burung. Apakah kejadian akhir-akhir ini menunjukkan penurunan kemampuan bebek atau ada faktor lain? Yang jelas, para peternak bebek, kebanyakan petani tulen, bukan berdasi, mengalami kerugian finansial.

Pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam menghadapi keadaan saat ini terlihat lebih sigap dan cepat dibandingkan saat wabah flu burung pertama kali pada 2003. Mengingat mereka punya laboratorium dan SDM yang baik serta tersebarnya petugas reaksi cepat (PDSR) sehingga bisa menyebarkan informasi secara cepat. Faktor lain yang mempermudah, kejadian ini tidak semasif tahun 2003 pada ayam komersial.

Varian 2.3.2

Dalam tata nama virus influenza dunia dikenal beberapa istilah. Ada tiga tipe, A, B, dan C. Tipe A merupakan virus influenza yang banyak ditemukan pada berbagai spesies, termasuk manusia, sehingga tipe A dibagi lagi menjadi beberapa subtipe. Pembagian itu didasarkan pada struktur protein permukaan virus influenza, hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N), seperti virus flu burung H5N1 dan virus flu musiman H1N1.

Sifat virus yang mudah mutasi dan variasi dalam satu subtipe yang bisa bermunculan membuat satu subtipe punya varian (clade dan subclade). Virus flu burung subtipe H5N1 yang selama ini ada di Indonesia merupakan subtipe varian 2.1, selanjutnya terjadi perubahan menjadi 2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3. Kedua varian terakhir juga menginfeksi manusia. Sejak 2008, varian 2.1.3 banyak ditemukan pada hewan dan manusia, yakni sekitar 80 persen. Tidak jarang istilah ini membingungkan, apalagi jika ada tambahan pembeda lain, genotipe, grup, dan lainnya.

Belum ada informasi sebelumnya di Indonesia telah ditemukan varian selain 2.1, apalagi 2.3.2. Sampai kemudian terjadi banyak kematian pada bebek, khususnya di Pulau Jawa. Dari pendekatan pola mutasi, varian 2.3.2 tidak mungkin hasil mutasi dari varian 2.1.3 yang sudah ada di Indonesia. Sebab, bagaimanapun, pola mutasi virus influenza punya tata aturan alamiah.

Secara geografis, varian 2.3.2 banyak ditemukan di Asia sebelah barat dari Danau Qinghai (China). Namun, karena burung migrasi, varian ini ditemukan di bagian timur Asia, seperti Hongkong, Korea, dan Jepang. Bahkan sampai di Bulgaria. Sementara di Indonesia berasal dari mana?

Dari kajian kekerabatan yang dilakukan oleh beberapa laboratorium, tampak bahwa varian 2.3.2 punya kedekatan dengan virus sejenis dari Qinghai (China), Rusia, Mongolia, India, dan Vietnam. Juga merupakan kerabat jauh dengan virus yang berasal dari Hongkong.

Skenario Koalisi Virus

Dari kajian lintasan dan terminal burung migrasi, belum ditemukan lintasan burung yang berasal dari negara-negara tersebut. Oleh karena itu, diduga kuat varian baru ini masuk ”sengaja” melalui importasi semua hewan dan produknya. Bahkan, perlu ditelisik adanya pihak yang memasukkan vaksin flu burung untuk unggas secara ilegal, yang berisi varian baru dan terjadi ”kebocoran” vaksin.

Pertanyaannya, apakah bebek itu ketularan ayam yang terinfeksi varian baru atau sebaliknya? Mutlak perlu dilakukan dan ditelisik hewan lain yang diduga terinfeksi varian baru ini.

Jika memang benar ada kesengajaan dengan tujuan tertentu, bisa dilihat perkembangan selanjutnya. Apakah akan ada bibit atau daging bebek yang akan diintroduksi besar-besar ke Indonesia, termasuk vaksin unggas yang berisi varian 2.3.2, seperti kejadian pada tahun 2003-2004? Hanya waktu yang akan membuktikan.
Adanya introduksi varian 2.3.2 menambah variasi virus influenza yang beredar di Indonesia. Selama ini virus influenza, termasuk flu burung yang beredar di Indonesia, meliputi virus H1N1 dan H3N2 yang populer disebut flu musiman serta H1N1 pandemik (2009) yang sering disebut flu babi.

Ketiganya kebanyakan menginfeksi manusia dan babi. Selain itu, H5N1 dengan berbagai variannya juga telah menginfeksi unggas, mamalia (kucing, babi, dan lain-lain), dan manusia. Sekarang telah ditambah varian baru 2.3.2 pada bebek. Berdasarkan data di beberapa negara, varian baru ini telah menginfeksi unggas, bangau, angsa, merpati, dan elang. Pernah dilaporkan 2.3.2 menginfeksi manusia di Hubei pada 2010 dan Guangxi (China) tahun 2009.

Dua sifat mutasi virus influenza yang dominan selama ini adalah mutasi titik (drift) dan mutasi koalisi (shift). Semua subtipe dan varian virus flu punya peluang untuk saling berkoalisi meskipun masih perlu hewan adaptor. Jika terjadi koalisi, tentunya keselamatan jiwa manusia yang paling utama jadi perhatian karena otomatis aspek ekonomi juga terselamatkan.

Secara teori, yang perlu dicegah adalah terjadinya koalisi antara H5N1 2.1.3, H1N1 pandemik, dan varian 2.3.2 karena bisa membuat kesulitan tersendiri. Varian 2.1.3 merupakan virus flu burung yang sudah beradaptasi pada manusia dengan tingkat keganasan tinggi, 82 persen meninggal. Virus H1N1 pandemik dikenal punya tingkat penyebaran yang cepat, sementara varian baru 2.3.2 diketahui punya mesin (gen internal) yang efisien dalam perbanyakan virus.

Dengan demikian, meski kejadian flu burung masih pada bebek, antisipasi terjadinya loncatan—baik secara utuh atau hasil koalisi—perlu segera dilakukan pada unggas produktif ataupun keselamatan jiwa manusia.

Antisipasi

Kementerian Pertanian sudah membuat rujukan dalam pengendalian pada hewan ternak, mulai dari cara budidaya, biosekuriti, pengaturan lalu lintas perdagangan bebek, sampai mencegah bebek diangon lintas daerah lain. Sebab, virus ini bisa bertahan di air sawah atau kolam dengan suhu 25-32 derajat celsius selama satu minggu.

Sebetulnya ada dua cara yang bisa mempercepat pengendalian varian baru ini. 
Pertama, memusnahkan bebek terinfeksi dengan penggantian yang layak, mengingat kondisi ekonomi peternak bebek (meskipun jumlah bebek Indonesia saat ini tidak kurang dari 2 juta ekor).

Kedua, program vaksinasi ”darurat terkendali” dengan menggunakan virus yang sedang menginfeksi sebagai seed vaksin. Proses pembuatannya hanya perlu waktu sekitar satu minggu. Cara ini seharusnya mudah dilakukan mengingat pemerintah punya unit/industri vaksin hewan di Pusat Veterinaria Farma di Surabaya. Tentunya proses dan standar prosedur lainnya di unit ini telah mengikuti ketentuan yang berlaku. Cara yang kedua ini tidak perlu menunggu pembiayaan dari pusat. Sebab, bisa dilakukan oleh setiap daerah atau provinsi dan pelaksanaan vaksinasi dan pemantauannya bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat melalui kegiatan mahasiswa.

Sementara itu, guna mengurangi risiko pada manusia Indonesia perlu dilakukan pembentengan pada tubuh mereka. Kita tidak bisa hanya pasif menunggu korban jatuh baru bertindak. Hal ini mengingat kecepatan dan sifat infeksi virus 2.1.3 dan juga oleh pola kehidupan masyarakat Indonesia selama ini yang tidak bisa dihindarkan dari kedekatan hidup dengan hewan. Perlu waktu untuk mengubah kebiasaan hidup rumah tangga jauh dari hewan secara simultan.

Hampir 10 tahun flu burung berada di Indonesia, sudah cukup banyak program komunikasi, informasi, dan edukasi yang telah dilaksanakan, tetapi perubahan pola kehidupan masyarakat belum terlihat secara nyata. Karena itu, program vaksinasi pada manusia dengan menggunakan seed virus varian 2.1.3 sebagai pembentengan diri menjadi kebutuhan yang mendesak.

Masalah utama Indonesia dalam mewujudkan masyarakat sehat adalah terhindarnya dari penyakit zoonosis (dari hewan ke manusia). Selama ini masih terjadi antara hewan ternak dan manusia. Jika ditambah adanya ”serbuan” penyakit zoonosis dari satwa liar, akan lebih menyulitkan. Sebab, banyak melibatkan berbagai sektor yang punya kepentingan dan punya titik pandang yang berbeda satu sama lain. Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis (Komnas Zoonosis) bersama kementerian terkait perlu segera turun gunung untuk merumuskan langkah- langkah antisipasi.

Akhirnya, selama 10 tahun virus flu burung di Indonesia bukan berkurang dan terbebas, malah kedatangan varian baru. Sepertinya virus flu burung ini menuntut hak hidup di Indonesia. 

Selasa, 31 Januari 2012

Berperang Melawan Flu Burung


Berperang Melawan Flu Burung
CA Nidom, KETUA AIRC–UNAIR, SURABAYA
Sumber : KOMPAS, 31 Januari 2012



Flu burung di Indonesia meminta korban lagi. Awal tahun 2012, paman dan keponakan yang tinggal serumah terinfeksi. Ini kasus kluster pertama tahun ini di Indonesia.

Sampai 24 Januari 2012, korban flu burung di Indonesia mencapai 184 orang dan 152 meninggal (32 persen dan 44 persen korban dunia), tertinggi di dunia, diikuti Mesir dan Vietnam. Di Thailand dan Turki, kasus manusia berhenti sejak 2007.

Dari 33 provinsi di Indonesia, 32 merupakan daerah endemis flu burung pada unggas dan hewan lain. Belum tampak kemajuan cara pengendalian, apalagi edukasi kepada masyarakat, masih seperti delapan tahun lalu. Padahal, kasus pada manusia akan habis jika kasus pada hewan juga berhenti.

Belum ada sinergi antar-otoritas. Setelah Komnas Flu Burung bubar, masyarakat menunggu kiprah Komnas Penanggulangan Penyakit Zoonosis yang diharapkan berperan lebih, tidak lagi seperti ”koboi tanpa pistol”.

Interaksi inang dan virus

Sejak 1997, agen/virus flu burung berinteraksi spesifik dengan inang (host). Tatkala virus ini menginfeksi ayam, angka kesakitan dan kematian sangat tinggi, bisa 100 persen. Pada bebek, kesakitan tinggi, tetapi tingkat kematian rendah. Pada spesies unggas lain bersifat sporadis. Pada hewan lain, babi, kucing, anjing, dan mamalia lain, pola penularan belum jelas diketahui.

Saat virus melompat ke manusia, jumlah kasus sangat rendah dibandingkan jumlah penduduk, tetapi angka kematian (case fatality rate/CFR) sangat tinggi, 60-80 persen, tergantung penanganan penderita.

Akhir-akhir ini pola interaksi inang (manusia) dengan virus tampak spesifik dan perlu dicermati semua pihak. Khususnya tiga kasus terakhir di Bali, Jakarta, dan Tangerang.
Kasus di Bali, akhir 2011, korban tiga orang: dua anak dan ibu yang tinggal serumah. Saat kedua anaknya dirawat di rumah sakit, ibu masih sehat. Ibu sakit dan meninggal beberapa hari setelah kedua anaknya meninggal. Informasi awal, ibu bukan terinfeksi flu burung, tetapi akhirnya positif. Dari lapangan, sulit mencari hubungan dengan faktor penularan dari hewan.

Di Jakarta, keponakan meninggal setelah paman meninggal dan juga tinggal serumah. Keponakan sempat diumumkan tidak terinfeksi flu burung, tetapi kemudian dinyatakan positif. Tidak ditemukan virus H5N1 pada burung dara di rumah mereka.

Kasus terakhir, di Tangerang, sudah diumumkan terinfeksi virus flu pandemik (H1N1-p), tetapi tindakan di RS Tangerang seperti menangani korban flu burung. Berdasarkan informasi keluarga, korban tidak kontak dengan bebek di rumah.

Fatwa Otopsi

Berdasarkan kajian korban di negara lain, virus H5N1 tidak hanya menginfeksi saluran pernapasan, tetapi juga seluruh organ tubuh. Korban flu burung meninggal bukan hanya karena badai sitokin yang sangat cepat merusak jaringan pernapasan, melainkan juga infeksi pada beberapa organ (multiorgan failure). Hal serupa tampak pada hewan coba.

Sebetulnya virus flu burung manusia dari Indonesia paling sedikit menghasilkan sitokin dibandingkan virus flu burung negara lain dan virus H1N1-p. Namun, karena korban menunjukkan gambaran sebaliknya, setiap korban perlu diotopsi. Otopsi dan analisis virus pada organ akan membantu mendapatkan informasi perjalanan penyakit (patogenesis) yang penting untuk mencegah korban selanjutnya.

Memang tak mudah melakukan ini karena ada faktor sosial, budaya, dan agama. Diperlukan suatu peraturan atau fatwa agama agar korban flu burung atau penyakit lain yang menular dan mematikan bisa diotopsi.

Proses otopsi dan pengkajian ini memerlukan rumah sakit dan laboratorium khusus. Sebagai negara dengan korban tertinggi, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas ini agar segera bisa menanggulangi flu burung. Kita bisa mencontoh Turki, yang sejak 2007 tidak ada korban manusia, dengan menangani penderita secara maksimal.

Penanganan korban sangat tergantung keaktifan penderita. Selama ini di Indonesia flu dianggap penyakit yang tidak membahayakan. Karena itu, perlu kesiapan tenaga medis untuk mengantisipasi penyakit flu burung, dan terakhir kesiapan rumah sakit rujukan. Jika rangkaian ini ada yang terlewatkan, kasus tidak akan tercatat sebagai flu burung. Jadi, jumlah selama ini hanya sebagian kecil saja dan merupakan fenomena gunung es.

Langkah yang bisa dilakukan adalah vaksinasi flu burung pada masyarakat yang berisiko, terutama yang tinggal di segitiga flu burung, yaitu Jakarta, Jawa Barat, dan Tangerang. Pilihan lain, menjual bebas obat antivirus flu (osiltamivir) di toko obat, mengingat obat ini hanya efektif 48 jam setelah terinfeksi.

Agar diagnosis awal tepat, diperlukan tes cepat (rapid test) yang tersedia di puskesmas. Gejala flu burung hampir sama dengan flu lain, bahkan sering dikelirukan dengan penyakit lain, seperti demam berdarah atau tifus. Sementara konfirmasi dengan uji lab (PCR) perlu waktu.

Koalisi Virus

Virus influenza, termasuk flu burung dan H1N1-p, mempunyai struktur sama: 8 gen yang saling lepas. Virus ini sangat gampang bermutasi, baik dalam gen tersebut (drift) maupun antargen (shift). Mutasi drift biasanya dipicu oleh kondisi ekstrem, seperti perubahan cuaca, vaksinasi yang tak tepat, dan faktor inang.

Vaksin yang tak tepat bisa menyebabkan virus melompat ke inang lain, terutama manusia, sehingga hati-hati menggunakan vaksin flu burung pada hewan. Apalagi saat ini dunia dikejutkan pandemik flu oleh virus baru, H1N1-p, yang begitu cepat menyebar. Padahal, flu burung belum berhasil dikendalikan.

Jadi, saat ini di Indonesia tersebar virus influenza musiman (H3N2, H1N1), H1N1-p, dan flu burung (H5N1) hewan dan manusia. Kita ”biarkan” mereka hidup leluasa di Indonesia, berkoalisi (rekombinasi) antarjenis virus flu, bertukar gen satu dengan lainnya, sehingga menimbulkan aneka karakter virus.

Tidak aneh jika dunia khawatir dengan Indonesia. Kita tidak rela negara lain memanfaatkan virus flu burung Indonesia, tetapi kita juga tak melakukan apa pun. Kita perlu segera tahu, bagaimana karakter virus flu burung dari penderita terakhir dan bagaimana kemungkinan penularannya antarmanusia.

Meski beberapa pakar berpendapat tak mungkin virus flu burung menular antarmanusia, simulasi dengan berbagai model virus di lab berfasilitas keamanan tingkat tinggi (minimal BSL-3) perlu segera dilakukan.

Para peneliti di Avian Influenza-zoonosis Research Center- Universitas Airlangga (AIRC- Unair) telah meneliti pola virus influenza di lapangan dan di laboratorium. Tahun 2006, dilakukan mutasi ”buatan” pada virus H5N1 dari unggas di Indonesia tanpa koalisi.

Ternyata virus H5N1 unggas yang berkoalisi dengan H3N2 lebih virulen. Selama ini para pakar mengira virus H5N1 unggas akan beradaptasi pada mamalia, termasuk manusia, jika terjadi mutasi pada asam amino protein PB2, nomor 627 dan 701. Namun, para pakar dikejutkan struktur virus H1N1-p yang mampu beradaptasi tanpa mutasi 627. Mungkinkah ada mutasi serupa pada flu burung yang menginfeksi hewan ataupun manusia?

AIRC-Unair bersama Tim Universitas Tokyo melacak virus H1N1-p dan virus H5N1 pada hewan tahun 2011. Dari 1.607 sampel ayam sehat ditemukan delapan ayam positif membawa virus H5N1. Ayam sehat tetapi positif flu burung tersebut berada di Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Keseluruhan struktur virus yang berhasil diisolasi tahun 2011 lebih dekat dengan virus bebek dari Yogyakarta 2007. Virus H5N1 ayam di Indonesia sangat variatif. Ini berpengaruh pada keberhasilan vaksin yang digunakan. Kementerian Pertanian telah menetapkan master seed vaksin yang akan digunakan mulai 2012.

Dari serosurvei antibodi (zat kebal) anak-anak Indonesia berumur 10-11 tahun terhadap virus H1N1-p, 66,9 persen memiliki antibodi tanpa ada riwayat sakit. Artinya, anak-anak Indonesia secara alamiah terinfeksi virus H1N1-p tanpa gejala sakit dan sebagian besar mampu menimbulkan antibodi. Ini berbeda dengan anak seumur di Jepang, 75,6 persen memiliki antibodi dengan gejala sakit influenza jelas.

Penularan Antarmamalia

Apakah betul virus flu burung tidak menular antarmanusia? Jika virus flu burung berdiri sendiri tanpa koalisi, pendapat tersebut bisa dibenarkan. Namun, jika terjadi koalisi (mutasi shift), penularan antarmamalia (manusia) bisa terjadi.

Baru-baru ini dua pusat penelitian influenza, grup Universitas Wisconsin (AS) dan Erasmus Medical Center (Belanda), mengoalisikan virus flu burung H5N1 dengan virus H1N1-p. Hasilnya mirip: virus flu burung H5N1 koalisi berpotensi menular antarmamalia pada ferret.

Hal ini sangat penting bagi Indonesia untuk menghadapi pandemik, mengingat wilayah kita merupakan tempat ideal terjadinya koalisi. Semua strain virus flu tersedia, padahal penataan lingkungan hewan dan manusia masih belum jelas.