Tampilkan postingan dengan label Media Zainul Bahri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Zainul Bahri. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Mati Syahid atau Mati Terkutuk?

Mati Syahid atau Mati Terkutuk?

Media Zainul Bahri  ;   Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Alumni Alexander von Humboldt Stiftung pada Universitas zu Köln, Jerman
                                                  KORAN SINDO, 19 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kaum teroris atau beberapa kalangan menyebutnya sebagai “para pembunuh” meyakini bahwa mereka adalah para syuhada jika mati dalam “perang suci” melawan musuh-musuh mereka.

Mati syahid adalah kondisi kematian yang sangat mulia, setidaknya dalam tradisi agamaagama Semitik karena kaum syuhada akan ditempatkan dalam derajat surga yang tinggi. Dalam keyakinan kaum pembunuh, ketika mereka mati dalam aksi, akan disambut seekor merpati cantik berwarna hijau; para pembunuh itu ditempatkan di tembolok sang merpati, lalu terbang menuju surga yang tinggi.

Tapi, benarkah mereka mati dalam keadaan syahid? Atau malah sebaliknya: mati secara terkutuk di mata Tuhan? Kata syahid dalam bahasa Arab yang berarti “saksi” menurut David Cook (2008) sesungguhnya berasal dari bahasa Suriah Kuno sahido yang bermakna “saksi”. Menurut Quraish Shihab (1998), kata syahid yang terdiri dari huruf syin, ha dan dal memiliki makna dasar “kehadiran”, “pengetahuan, informasi dan kesaksian”.

Dalam Alquran, kata Shihab, syahid menunjuk kepada sifat Allah, sifat para nabi, malaikat dan umat Nabi Muhammad yang gugur di jalan Allah, yang menyaksikan kebenaran atas makhluk Allah. Yang gugur dalam perang di jalan Allah dinamai syahid karena para malaikat menyaksikan (menghadiri) kematiannya atau karena ia gugur di bumi sedang bumi juga dinamai “syahidah“ sehingga yang gugur dinamai “syahid“.

Menurut Shihab lebih lanjut, berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 143 dan 283 serta Surah Al-Thalaq ayat 2, Nabi Muhammad adalah syahid dan umatnya adalah syuhada, namun pengertian syahid dalam ketiga ayat itu adalah “teladan” dalam arti kaum muslim pengikut Muhammad harus menjadi syuhada atau teladan-teladan kebajikan bagi umat lain dan Nabi Muhammad adalah “teladan tertinggi” bagi umatnya.

Jika Allah memiliki nama Al- Syahid, apakah Allah juga memiliki nama sang pembunuh (Al- Qatil)? Tentu saja tidak! Apakah Allah melalui kitab-kitab suci yang diturunkan mau mengembangkan kehidupan dan kesejahteraan atau malah memiliki semangat untuk kehancuran dan kebinasaan makhluk-makhluk- Nya? Ada banyak ayat dalam Quran yang menghardik manusia untuk tidak merusak kehidupan dan membunuh jiwa-jiwa karena hidup adalah mulia.

Bahkan, ketika malaikat protes, “Apakah Engkau akan menciptakan spesies makhluk yang gemar membunuh,” Tuhan langsung merespons, “Hei! Aku lebih tahu dari kamu! (spesies yang baru ini tidak begitu semuanya)!” Nabi Muhammad juga disebut syahid meskipun tidak mati syahid dalam perang. Selama masa kenabiannya, Nabi Muhammad tidak pernah melakukan tindakan “kriminal kenabian” seperti memancung kepala, memotong tangan, atau membunuh secara keji.

Tidak semata melarang pembunuhan terhadap kaum sipil, tokoh agama, musuh yang sudah menyerah atau lari dalam keadaan tidak melawan, bahkan nabi melarang memetik buah yang masih mentah dan bunga yang sedang mekar. Nabi sangat humanis, karena itu ia disebut alsyahid : sang teladan. Lalu, para teroris-pembunuh itu mau meneladani siapa?

Soal peperangan Nabi, saya masihpercaya dengan pandangan Husain Haykal dalam karya klasiknya, Hayatu Muhammad (1932). Bagi Haykal, Nabi dan kaum muslim perdana berperang bukan untuk menaklukkan atau menjajah, melainkan untuk mempertahankan keyakinan (akidah) ketika mereka diancam, diintimidasi, disiksa, dan dibunuh oleh kaum Arab.

Selain bersifat defensif (bukan ofensif apalagi agresif) dalam tiap peperangan, Nabi tidak pernah memaksa musuh-musuhnya untuk memeluk Islam karena memang tidak ada paksaan dalam agama (la ikraha fid-din). Karena itu, Haykal mengkritik Washington Irving, seorang sejarawan Amerika kenamaan yang pernah menulis biografi Nabi.

Tulisan Irving itu di satu sisi bagus dan objektif, tetapi di sisi lain menurut Haykal tampak bernada sinis, intoleran, dan penuh prasangka terhadap Islam. Atas nama Kristen, Irving “menuduh” Islam. Irving mengutip sebuah ayat dalam Perjanjian Baru “siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” ketika menulis bahwa salah satu watak Islam adalah perang!

Menurut Haykal, jika menelaah sejarah Nabi secara benar, pernyataan Iriving itu adalah keliru dan salah alamat. Justru Eropa yang Kristen yang suka menjajah (negeri-negeri Timur) dan melakukan Kristenisasi dengan pedang dan peluru. Bagi Haykal, Islam tidak pernah menggunakan pedang dan karena itu tak akan binasa oleh pedang.

Menjadi jelas, perang ala nabi berdasar titik pijak “mempertahankan akidah” ketika keyakinan suci itu mau dilarang dan dibungkam. Jika diusir dan diperangi karena akidahnya dan seorang muslim harus meninggal karena melawan, insya Allah itulah mati syahid. Pertanyaannya: apakah pemerintah negeri-negeri Barat yang memerangi Al-Qaeda, Taliban dan ISIS di negeri-negeri kaum muslim untuk mengintimidasi keyakinan(akidah) kaummuslim atau semata mau mencari bala tentara organisasi-organisasi radikal Islam tersebut?

Jika katanya mau membalas atasmasyarakat sipilmuslimyang mati karena peluru tentara Barat, maka alamatkanlah dendam itu kepada para tentara pasukan Barat. Begitucara perang ala Nabi, face to face. Bukan dengan membabi- buta membunuh masyarakat sipil yang tak berdosa. Sekali lagi, cara perang ala Nabi adalah dengan mengharamkan membunuh masyarakat sipil dan merusak tempat ibadah.

Apalagi, satu kenyataan yang tak bisa dibantah adalah kaum muslim di Eropa terus meng-alami perkembangan dan musala-musala serta masjid besar terus bertambah. Eropa, terutama Jerman, Belanda, dan Inggris, memberi kebebasan penuh kaum muslim untuk berkeyakinan dan beribadah (di tempat-tempat ibadah yang telah dibangun).

Kata syahid juga disematkan kepada orang-orang suci dalam tradisi Islam seperti kaum sufi dan para wali. Mereka menjadi “teladan” dan “saksi” bagi semua perbuatan umat manusia dan kaum muslim khususnya. Terkait dengan terminologi syahid, KH Mujib, seorang kiai dan orator ulung dari Surabaya, membuat pengakuan yang mengejutkan mengenai kewalian Kiai Asad Syamsul Arifin, seorang tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Menurut Mujib dalam acara haul Kiai Asad, hampir 20 tahun ia menjadi murid Kiai Asad, tetapi sosok sang kiai tetap misterius; laksana samudra tak bertepi, semakin didekati semakin tak kelihatan. Akhirnya pada suatu musim haji, Kiai Mujib mendapat “informasi” dari seorang ulama di Kota Madinah.

Ketika berjumpa di Jawa Timur sepulang haji, di depan Kiai Asad, Kiai Mujib membacakan ayat “Fa kayfa idza jina min kulli ummatin bi syahidin wa jina bika ala haulai syahida (Maka bagaimanakah [keadaan orang kafir] jika Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap umat dan Kami mendatangkan engkau [Muhammad] sebagai saksi atas mereka).”

Mendengar ayat ini, sontak Kiai Asad menangis sejadi- jadinya karenajatidirinya sebagaiwaliyullahdiketahui orang. Sebagai syahid, bagaimana akhlak para wali? Apakah suka membuat teror, menyakiti manusia atau suka mengobarkan semangat kebencian, permusuhan dan pembunuhan terhadap manusia? Aduhai, jangankan terhadap manusia, akan binatang saja para wali-sufi itu memiliki akhlak yang mulia. Jikapun berdakwah pastilah dakwah mereka dengan cara yang lembut dan santun.

Pemahaman syahid di atas sulit dipraktikkan, mungkin juga sulit dicerna, oleh kaum teroris yang hidup di negaranegara yang penuh konflik. Menurut Komaruddin Hidayat (28/11/2015), tidak sedikit kaum jihadis itu mulanya adalah preman jalanan musuh polisi. Kini mereka berbalik menjadi pasukan perang suci di medan juang global.

Perang di jalan Tuhan, selain sebagai penebusan dosa masa lalu, juga jika mati masuk surga, dibandingkan mengharap insentif jabatan dunia yang tidak mungkin diraih karena kondisi negaranya yang kacau. Namun tetap saja, pertempuran itu bukan perang suci! Apalagi yang dibunuh adalah sesama muslim.

Karena itu, tindakan teror, bunuh diri dan membunuh atas nama syahid (martir)—apalagi dalam situasi normal dan aman seperti di tanah air—tidak memiliki (kesahihan) landasan teologis sedikit pun seperti telah dijelaskan di atas. Para tokoh agama—yang mendalam pengetahuan keagamaannya selalu mengingatkan: alih-alih mati syahid, jangan-jangan kaum teroris-pembunuh itu mati secara terkutuk!  

Sabtu, 22 Desember 2012

Mimpi Besar Utusan Tuhan


Mimpi Besar Utusan Tuhan
Media Zainul Bahri ;  Postdoctoral Researcher of Alexander von Humboldt Stiftung pada Department of Oriental Studies Universitas zu Köln, Jerman;
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
MEDIA INDONESIA, 22 Desember 2012


CIVILIZATION will not last, freedom will not survive, peace will not be kept, unless a very large community of mankind unite together to defend them and show themselves possessed of a constabulary power before which barbaric and atavistic forces will stand in awe.  (Winston Churchill)

RASANYA pernyataan Churchill itu masih relevan mengiringi perayaan Natal tahun ini yang tidak jauh berbeda dengan Natal-Natal sebelumnya, bahkan dalam satu dekade terakhir. Kita telah dan masih terus bergulat dengan krisis kemanusiaan yang memilukan hati. Di saat perusahaan-perusahaan besar teknologi dengan bangga meluncurkan produk baru tercanggih yang disambut meriah kaum terdidik, sebagian umat manusia dengan keyakinan minor di belahan lain harus berjuang mempertahankan keimanan mereka dari diktator mayoritas.

Sebagian lain menangis dan ambruk di tanah lantaran diberedel tentara negeri sendiri karena mempertahankan kebebasan dan kehormatan. Dua negeri yang ‘diberkahi’ Tuhan, tempat para utusan-Nya lahir dan memulai tugas nubuat mereka, malah terus terkoyak oleh konflik dan dendam yang tak berujung. Kita gelisah dengan munculnya banyak pertanyaan. Sesungguhnya hendak meluncur ke arah mana peradaban ke manusiaan kita? Apa yang salah dengan tafsir kita atas kemanusiaan? Bukankah manusia dan kemanusiaan konon selalu condong kepada kebenaran, keindahan, dan kedamaian? Akan tetapi, apakah ada alasan lain yang lebih sublim sehingga manusia terus saling mengobarkan perang? Mengapa di beberapa negeri teokrasi, yang kepada rakyatnya dipertontonkan hukuman ‘primitif’ bagi para pendosa, mereka malah bersorak gembira merayakan banalitas?

Selain condong kepada harmo ni, manusia kelihatannya memiliki watak dasar yang juga menyenangi kekerasan, apalagi jika hal itu dilakukan atas nama Tuhan atau ideologi lain yang di anutnya. Mencintai manusia dan terus merawat harmoni, itulah salah satu tugas besar para utusan Tuhan. Karena alasan itulah Yesus lahir dan Muhammad memulai tugas kenabiannya. Kita tidak bisa membayangkan Yesus tanpa ajaran kasih-Nya sebagai doktrin pokok. Muhammad ternyata diberi gelar sebagai nabiyurrahmah (nabi kasih sayang) yang diutus dengan misi rahmat bagi semesta universal (al-mab’uts rahmatan lil ‘alamin). Bani Israel sebagai bangsa dan komunitas tempat Yesus lahir memiliki sejarah panjang penderitaan dan ratapan kesedihan karena selalu ‘dijajah’.
Perjalanan Panjang
Memang, bangsa itu--pada seribu tahun sebelum Yesus lahir--pernah menikmati kejayaan politik, militer, dan budaya pada masa tiga raja besar mereka, Saul, Daud, dan Sulayman. Namun, setelah itu hanya bencana dan penderitaan panjang yang mereka ratapi. Hingga menjelang awal abad Masehi, mereka terus menunggu datangnya ‘Pangeran Penyelamat’, ‘Al-Masih’, ‘Putra Tuhan’, dan ‘Kerajaan Tuhan’. Pada mulanya itu istilah-istilah politik demi menunggu seorang raja sekaliber raja Daud atau Sulayman yang akan mengakhiri penderitaan mereka di bawah rezim monarki Romawi. Apalagi terdapat ramalan nubuat bahwa “Rakyat yang berjalan dalam kegelapan akan melihat cahaya terang,“ kata Nabi Isaiah, dan “mereka yang berada di tanah bayang-bayang kematian, kepada mereka cahaya memancar.“ Itulah yang disebut ramalan penebusan.

Namun, apa yang terjadi? Ketika Yesus datang dan memproklamasikan sebagai Al-Masih, Anak Tuhan, dan menawarkan Kerajaan Tuhan, ia tidak membawa terompet untuk memanggil perang dan berpakaian lengkap militer. Ia malah berjalan memakai sandal dan baju selempang dengan ajarannya tentang mencintai tetangga, mengasihi orang lemah dan miskin, serta mengampuni mereka yang bersalah, bahkan kata dia, “Berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik bukan lah kebaikan, melainkan membalas kebaikan. Berbuat baik adalah memberi kebaikan kepada orang yang membencimu. Berilah maaf pada musuh musuhmu.“ Selain mempraktikkan semua teladan kasih, Yesus tidak merasa hina ketika ia berbicara dengan para pelacur, lintah darat, dan para pemberontak politik.

Dengan melangkah lebih jauh ia mengatakan bahwa seseorang yang telah menghabiskan dengan sia-sia seluruh harta warisan bapaknya atau seorang pegawai pajak yang mencuri uang pajak negara tetap diterima sebagai hamba Tuhan jika memohon ampun karena belas kasih Tuhan begitu luasnya.

Bahkan selangkah lebih jauh lagi, Yesus mengatakan para pendosa itu masih lebih utama di mata Tuhan dan lebih patut mendapat ampunan-Nya jika dibandingkan dengan kaum Pha risi (sekte kun Yahudi) yang berkhotbah agama dengan hanya membual, mencari kekayaan sembari memamerkan kebaikan mereka.

Dengan cerdik Yesus berkomunikasi dalam bahasa rakyat yang haus akan perang; suatu bahasa sederhana, padahal ia sedang mewartakan ajaran yang benar-benar baru dan luas. Yesus membawa mimpi besar bahwa tradisi perang dan kekerasan harus diputus dengan ajaran kasih. Kekerasan selalu diikuti dengan kekerasan baru. Tradisi kisas (hukum balas-membalas) dalam Yahudi harus diganti dengan sentuhan kemanusiaan. Hanya dada lebar yang berisi kasih yang akan membawa wajah baru bagi dunia baru.

Terbukti, betapa Mahatma Gandhi, Dalai Lama, dan Nelson Mandela, misalnya, dengan meneladani Yesus dan Buddha Gautama dapat meredam konflik yang akan melebar dan mentransformasikannya menjadi energi baru yang lebih humanistis dan positif bagi bangsa masing-masing.

Kebesaran Jiwa

Nabi Muhammad SAW juga hidup dalam masyarakat yang gemar dengan tradisi kekerasan fisik, balas dendam, dan perang. Muhammad lahir dan besar dalam bangsa yang mengagungkan pedang, bahkan simbol itu dipakai Kerajaan Arab Saudi hingga hari ini. Namun, sejak remaja Muhammad sudah terobsesi oleh mimpi besar tentang harmoni dan kasih yang akan abadi. Ketika suku-suku di negerinya bertikai dan berebut untuk meletakkan kembali hajar aswad ke tempat semula karena rusak oleh suatu bencana sebagai simbol kebesar an klan, Muhammad tampil dengan karisma dan sentuhan kasihnya.

Setiap pemimpin suku akhirnya dapat berjalan dengan memegang batu hitam itu secara bersama-sama. Konflik yang akan meledak menjadi perang dapat terhenti. Dalam Surah al-Syura: 39-42 terungkap jelas kesamaan ajaran Islam dengan doktrin kasih yang dibawa Yesus. Orang Islam yang dizalimi tidak dikenai dosa jika ia mau membalas dengan setimpal kezaliman itu. Suatu kejahatan harus dibalas dengan perbuatan serupa (wa jaza sayyiatin sayyiatun mitsluha). Namun biasanya, sikap balas dendam suka berlebihan. Karena itu, dalam ayat 40 al-Syura, Tuhan akhirnya mengetuk dada kaum muslim; jika ia mau memaafkan musuhnya dan melakukan rekonsiliasi, hal itu jauh lebih agung jika dibandingkan dengan harus balas dendam. Bukankah itu ajaran Yesus? Senada dengan spirit Yesus, Muhammad kembali menyentak kebesaran jiwa kaum muslim.

Kata dia, “Tidaklah disebut orang yang menyambung (alwashil)--maksudnya menyambung tali kekerabatan--seseorang yang membalas kunjungan. Yang disebut al-washil itu adalah ia yang dengan besar hati rela menyambung tali yang putus karena diputus oleh saudaranya.”

Jadi, hadis itu menegaskan hal yang tidak biasa, yaitu berkunjung ke rumah orang yang mengunjungi kita bukanlah silaturahim, melainkan membalas kunjungan. Silaturahim ialah mau menyambangi saudara kita yang memusuhi (memutus tali kekerabatan dengan) kita. Akhirnya, kembali kita menyak sikan kebesaran jiwa Nabi Muhammad, ketika ia menaklukkan Kota Mekah dan para penduduknya mulai meringis mengingat dulu mereka begitu kejam dalam ‘menghina’ dan ‘membantai’ Muhammad dan pengikutnya. Dalam keadaan putus asa, penduduk Mekah itu berujar, “Hari ini adalah hari pembantaian, habis kita akan dicincangnya (al-yawm yawmul malhamah).”

Namun, pidato Muhammad di luar dugaan. Dengan nada bergetar Muhammad justru berseru, “Hari ini adalah hari kasih sayang (al-yawm yawmul marhamah), kalian kumaafkan, kalian semua bebas (antum althulaqa).” Tentu saja, meledak tangis haru sebagian agitator dan musuhnya.

Yesus dan Muhammad tidak datang membawa nuklir atau peralatan teknologi yang paling canggih saat itu. Mereka hanya membawa mimpi besar mengenai kasih kemanusiaan untuk dunia baru yang tenteram dan bahagia. Terbukti, kebencian, senjata, dan perang makin memperparah ratap tangis umat manusia. Tentu, kasih yang akan membawa perubahan cerah bukan semata dalam pengertiannya yang ‘naif’ atau ‘pasif’. Namun, pesan profetik kasih dan energi kreatifnya yang di apresiasi secara luas itulah yang akan menggerakkan dan menyatukan manusia melawan sadisme dan barbarisme seperti yang diisyaratkan Churchill tadi. Itulah kasih kreatif yang akan melestarikan peradaban, harmoni, dan kebebasan, yang ledakannya mungkin akan lebih dahsyat daripada nuklir.

Rabu, 05 September 2012

Apakah Agama Hadir untuk Membunuh?


Apakah Agama Hadir untuk Membunuh?
Media Zainul Bahri Fellow di Universitas zu Köln, Jerman;
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ISLAMLIB.COM , 04 September 2012


Karena itu, politeisme lebih bisa menjamin kebebasan manusia. Sebab, politeisme memberi dasar kepada manusia untuk tidak memutlakkan sebuah ketransendenan sebagai yang satu-satunya, karena ada ketransendenan lain yang menarik manusia untuk menyerahkan dirinya. Kepercayaan politeis ini kiranya bisa menjamin kebebasan yang lebih plural yang dibutuhkan untuk hidup di alam demokrasi (Lihat Sindhunata dalam kata pengantar Kala Agama Jadi Bencana, Mizan, 2003). Sebab itu, konflik dan kekerasan atas nama agama biasanya lebih sering terjadi pada agama-agama monoteistik.

Violence is the dominant religion in the world today. Violence is the ethos of our times and the spirituality of the modern world.” (Walter Wink, Engaging the Powers: Discernment and Resistance in a World of Domination, 1992)

Judul artikel di atas diinspirasikan judul buku Jack Nelson-Palmeyyer, Is Religion Killing Us: Violence in the Bible and the Quran? (Harrisburgh, 2003). Pertanyaan “sinis” itu—dalam hampir satu dekade yang lalu—kembali aktual dalam ruang publik keagamaan kita hari-hari ini. Kejadian tragis di Sampang yang menyentak batin relijiusitas kita; apakah benar sosok agama, selain sebagai candu yang memabukkan, juga haus darah yang akan selalu mengacungkan pedang untuk membunuh? Jawaban obyektif dan faktual atas pertanyaan itu tidak mungkin hanya satu versi yang bisa disepakati bersama.

Mari kita tengok pandangan teologis Palmeyyer yang cukup “tajam” terhadap wajah sadis agama. Dalam penelusurannya, ayat-ayat dalam “kitab suci” al-Qur`an dan Bible (juga Bible-nya Yahudi) ternyata mengandung tradisi kekerasan (violence), secara eksplisit, bahkan mendominasi. Teks-teks “yang dinggap suci” itu banyak sekali menyuruh kaum beriman untuk melakukan kekerasan, demi dan dalam melayani Tuhan. Pangkal utama kekerasan dalam kedua kitab suci ini, katanya, karena Tuhan terlalu kuat dan berkuasa. 

Kekuatan dan kekuasan-Nya amat mutlak. Dua hal inilah yang pada gilirannya memunculkan tindak kekerasan (God is understood in the Hebrew Bible, the Christian New Testament, and the Quran to be powerfull, and because power is identified with violence…Images of an all-powerfull, violent God dominate the Quran as they do the Bible).

Orang beriman, lanjut Pallmeyer, secara mutlak mesti mengabdi dan patuh terhadap apapun keinginan Tuhan. Tuhan, dengan segala keperkasaan-Nya, selalu mengancam akan memberi siksa yang amat pedih kepada siapapun yang tidak beriman, kafir, musyrik dan mereka yang tidak bermoral. Tuhan juga, lanjut Pallmeyer, seringkali menyuruh kaum beriman untuk mengobarkan jihad dan qital: memerangi orang-orang yang tidak seiman (Yahudi dan Kristen dalam Qur`an, dan begitu sebaliknya dalam Bible).

Akhirnya Pallmeyer sampai pada kesimpulan yang cukup “ekstrem”:  “My fundamental claim is that religiously justified violence is first and foremost a problem of “sacred” text and not a problem of misinterpretation of the text.” Teks-teks yang dianggap suci itu, dengan sendirinya, memang membenarkan tindak kekerasan, dan bukan karena ia (teks) ditafsirkan secara keliru. Makanya, ia setuju dengan pandangan Walter Wink seperti dikutip di awal tulisan ini, bahwa kekerasan adalah ciri khas agama modern; menjadi etos masa kini, dan merupakan spiritualitas dunia modern.

Pandangan dengan semangat yang serupa datang dari Charles Kimball, doktor dalam bidang Perbandingan Agama Universitas Harvard dan Guru Besar Studi Agama di Universitas Wake Forest, AS. Dalam karyanya, When Religion Becomes Evil (HarperCollins, New York, 2003), Kimball setuju jika agama memiliki fungsi yang amat positif bagi kemanusiaan. Katanya, sejarah telah menunjukkan bahwa cinta kasih, pengorbanan diri dan pengabdian kepada orang lain sering kali berakar begitu mendalam pada pandangan dunia keagamaan. Namun, di saat yang sama, sejarah juga dengan jelas menunjukkan bahwa agama sering kali dikaitkan secara langsung dengan contoh terburuk perilaku manusia. Jika dikatakan bahwa dalam sejarah manusia, perang, membunuh orang, dan kini semakin banyak lagi kejahatan dilakukan atas nama agama dibandingkan atas nama kekuatan institusional lainnya, maka kata Kimball, hal itu bukan isapan jempol belaka.

Agama, hari-hari ini, memang sering tampil dengan wajah hantu yang menakutkan. Menurut Kimball, ada lima hal atau tanda yang bisa membuat agama menjadi jahat, busuk dan korup. Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran doktrinnya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Kedua, ketaatan buta terhadap pemimpin agama. Ketiga, ketika agama mulai gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikan zaman tersebut ke alam masa kini. Keempat, jika agama membenarkan dan membiarkan terjadinya “tujuan yang menghalalkan segala cara”. Dan kelima, kata Kimball, jika perang suci dipekikkan, itulah tanda bahwa agama sedang meluncur tak terkendali menjadi korup dan jahat.

Selanjutnya, menurut Kimball yang juga diamini oleh Nelson-Palmeyyer, wajah seram agama juga menemukan “karib”nya dalam doktrin monoteisme. Dalam agama-agama monoteistik, kata Palmeyyer dan Kimball, terkandung bibit-bibit kekerasan yang mencelakan manusia. Ciri agama monoteis adalah percaya kepada Tuhan sebagai “Yang Satu-Satu-nya”. Kepercayaan demikian menuntut ketaatan yang absolut. Karena itu, di dalam kepercayaan monoteis, kebebasan sepertinya tak mungkin bisa berkembang dengan baik dan subur. Dalam bahasa Odo Marquad: ketatan buta dan mutlak itu memperoleh makanannya dari monoteisme. Alasannya, nemo contra deum nisi deus ipse (tak ada yang bisa melawan Tuhan kecuali Tuhan sendiri). Dengan kata lain, hanya Tuhan yang bisa mengimbangi dan melawan Tuhan. Dan mekanisme seperti itu hanya mungkin ada dalam sistem politeisme.

Karena itu, politeisme lebih bisa menjamin kebebasan manusia. Sebab, politeisme memberi dasar kepada manusia untuk tidak memutlakkan sebuah ketransendenan sebagai yang satu-satunya, karena ada ketransendenan lain yang menarik manusia untuk menyerahkan dirinya. Kepercayaan politeis ini kiranya bisa menjamin kebebasan yang lebih plural yang dibutuhkan untuk hidup di alam demokrasi (Lihat Sindhunata dalam kata pengantar Kala Agama Jadi Bencana, Mizan, 2003). Sebab itu, konflik dan kekerasan atas nama agama biasanya lebih sering terjadi pada agama-agama monoteistik.

Agama Dalam Tafsir Humanis

Mungkin tidak sepenuhnya keliru jika beberapa pihak beranggapan bahwa konflik Sunni-Syiah di Sampang, dan konflik antar umat beragama di manapun adalah pertikaian kepentingan politik dan ekonomi. Sekali lagi, tidak keliru. Seperti halnya juga konflik antara Israel (Yahudi) dan Palestina (Islam), antara Hamas dan Fatah, atau antara kaum Katolik dan Protestan di Irlandia Utara. Namun, bau nyinyir fanatisme agama kiranya tercium dengan segar dan terlihat dengan jelas, bahkan menjadi fondasi atau akar yang kemudian berkembang ke arah perebutan kekuasan politik dan ekonomi. Banyak bukti dan argumen yang bisa kita temukan, baik dalam laporan-laporan jurnalistik, hasil penelitian atau referensi yang valid dan meyakinkan, dan tentu saja kenyataan empiris, membeberkan hal itu. Kekerasan terhadap Ahmadiyah dan Syiah yang terus berulang, penyerangan terhadap kelompok Islam liberal dan terhadap diskusi buku yang dianggap “sensitif” adalah contoh nyata dari konstruksi pemahaman keagamaan yang sempit dan literal, yang hanya mau “mengabdi” kepada keinginan Tuhan—istilah Palmeyyer—, sambil merelakan untuk “menyakiti” atau “membasmi” manusia.

Terus berulangnya kekerasan yang menyakiti dan bahkan membunuh manusia dengan dalih agama pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan klasik: Apakah agama untuk manusia? Atau sebaliknya: manusia mengabdi kepada agama? Apakah agama harus menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan manusia, atau perubahan itu yang harus mengabdi kepada keinginan agama?

Anthony de Mello, seorang tokoh dan spiritualis Katolik asal India yang terkenal melalui karya satirnya, Burung Berkicau (2008), membuat tamsil yang menarik mengenai hal itu. Menurutnya, jika sebuah baju kebesaran atau kekecilan sehingga sulit dipakai, maka potonglah baju itu, bukan potong orangnya. Tafsirkanlah agama itu agar sesuai dengan manusia. Bahkan dengan sangat berani, de Mello menulis: “Ubahlah” kitab suci itu jika sudah tidak relevan lagi, atau masukkanlah “kata-kata bijak” dari guru-guru agung kemanusiaan ke dalam kitab suci.

Dalam beberapa potret yang buram kita tidak setuju dengan beberapa pandangan “miring” dan “ekstrem” Pallmeyer serta Kimball yang terperosok pada sikap mengeneralisir dan mereduksi ayat-ayat suci dalam Qur`an maupun Bible. Ada konteks-konteks sosial-historis tertentu yang menjadi sebab turunnya sabda Tuhan itu baik yang berupa perintah, anjuran atau larangan, yang mesti ditafsir ulang, direkonstruksi, dilihat secara jeli dan dalam agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Namun, tentu saja pandangan-pandangan letterlijk keduanya terhadap kitab suci banyak yang sesuai dengan kondisi empiris umat beragama yang sering bertikai, membuat hal itu menjadi penguat tesis mereka secara meyakinkan. Tetapi, mesti diingat bahwa ini adalah satu interpretasi atas satu kenyataan wajah seram agama. Ada interpretasi lain dengan kenyataan-kenyataan (lain pula) yang menunjukkan wajah agama yang lebih ramah dan toleran.

“Senjata tidak membunuh orang, oranglah yang membunuh sesamanya”. Pepatah ini mengandung arti, agama bukanlah masalah, tetapi oranglah yang menjadi masalah. Analog dengan perkataan Ali Ibn Abi Thalib, “Al-Qur`an itu adalah teks yang diam, manusialah yang membunyikannya (dan memberi makna)”. Atau pendapat seorang pakar komunikasi modern, “the words can not means but the people mean” (kata-kata tidak bisa memberi makna, manusialah yang memberi makna atau menafsirkannya).
Karena Tuhan tidak bisa ditanya maksud dari setiap kata-kata sabda-Nya, maka manusialah yang menafsir, memberi makna. Dan karena manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia, agung dan bermartabat, maka interpretasi dan artikulasi atas setiap teks-teks Tuhan dalam kitab suci-Nya mesti dalam konteks menyelamatkan, menghargai dan mencintai manusia, bukan malah menyakiti atau membunuhnya.

Is religion killing us? Tentu saja tidak! Tidak akan dan tidak boleh terjadi lagi. Malah agama mesti terus dapat memberi makna dan harapan yang indah bagi hidup kita, bagi masa depan kemanusiaan kita. Dan agama model itu adalah agama dalam tafsirnya yang humanis.