Sabtu, 08 April 2017

Melawan Komunikasi Bisu

Melawan Komunikasi Bisu
Benni Setiawan  ;   Dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta;  Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity
                                                       JAWA POS, 03 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KEKERASAN di lumbung pendidikan kembali terjadi. KWN, 15, siswa SMA Taruna Nusantara Magelang, ditemukan tidak bernyawa di Barak G 17 Kamar 2-B, 31 Maret 2017. Hasil penyelidikan sementara, KWN mengalami luka tusuk di beberapa bagian tubuh. Sangat mungkin dia mendapat tikaman senjata tajam, semacam pisau.

Sebelumnya, kabar duka juga datang dari Jogjakarta. Aksi klithih di Jogjakarta memakan korban. Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) IBF, 17, mengembuskan nyawa terakhir di Jalan Kenari, Minggu (12/3).

Kematian IBF seakan menambah daftar panjang korban klithih di Jogjakarta. Sebelumnya AWA, 16, siswa sekolah menengah atas (SMA) di Jogjakarta juga menjadi korban aksi brutal itu.

Jogjakarta juga pernah menjadi sorotan karena kematian mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII). Kematian mahasiswa dalam pendidikan dasar Mapala Unisi itu menyeret sejumlah nama senior dan alumnus UII. Bahkan, rektor UII pun ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Dia meletakkan jabatan sebagai pertanggungjawaban moral sebagai seorang pemimpin.

Apa yang terjadi saat ini seakan terus mencoreng marwah pendidikan. Marwah pendidikan tercoreng oleh aksi anti kemanusiaan. Padahal, napas pendidikan adalah rasa saling menghormati, cinta damai, dan humanis. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana menyudahi masalah ini?

Komunikasi Bisu Meminjam istilah Hannah Arendt (filsuf Jerman keturunan Yahudi), kekerasan adalah bentuk komunikasi bisu. Sebuah bentuk ketidakmampuan seseorang dalam mengungkapkan sebuah ide dan gagasan dalam dirinya. Seseorang dalam model komunikasi itu hanya dapat melampiaskan segala sesuatu dengan kekesalan. Kekesalan paling mudah adalah melakukan umpatan kasar dan kekerasan fisik.

Komunikasi bisu hanya dilakukan orang-orang yang tidak mampu memahami dirinya. Dalam konsep filsafat, misalnya, seseorang yang belum selesai dengan dirinya hanya akan terus menebar ancaman bagi orang lain. Hal itu karena mereka akan membawa aura negatif dan permusuhan dalam menjalin persahabatan dengan banyak orang. Orang-orang seperti itu harus menemukan dirinya, baru kemudian dapat terlepas dari belenggu itu.

Lebih lanjut, seseorang yang terjerat dalam komunikasi bisu menjadikan diri sebagai budak amarah. dia memandang sesuatu hanya dapat diselesaikan dengan amarah. Amarahlah yang memuaskan dirinya. Dalam benaknya, melalui hal itu, segala sesuatu dapat selesai.

Potret tersebut hanya terdapat pada seseorang yang tak berpendidikan.
Seseorang yang berpendidikan selayaknya mampu menampilkan sikap dan sifat yang semeleh, andap ashor, dan tepa selira (mampu menghargai orang lain). Orang yang berpendidikan selayaknya menjiwai diri sebagai insan mulia. Mereka yang selalu haus akan ilmu pengetahuan menganggap orang lain sebagai guru dan semua tempat adalah sekolah. Sebagaimana petuah bijak Ki Hajar Dewantara.

Namun, spirit dan nalar itu tampaknya hilang dalam rahim pendidikan nasional. Pelaku – klithih, atas nama senioritas, pendisiplinan, latihan fisik, dan seterusnya– kekerasan telah kehilangan kesejatian sebagai seorang manusia merdeka. Mereka telah terkungkung oleh nafsu buas layaknya hewan –dan mungkin lebih rendah dari itu– dalam proses penghargaan dan sikap kepada orang lain.

Komunikasi Profetik Karena itu, humanisasi menjadi kata kunci dalam proses ini. Tanpa pemanusiaan dan penghormatan terhadap perbedaan, bakat, minat, dan potensi yang dimiliki, ruang pendidikan hanya akan menjadi ”arena gulat bebas”. Ruang pendidikan yang mulia berubah menjadi sesuatu yang menakutkan dan jauh dari keadaban.

Pendidik (guru/dosen dan juga masyarakat) perlu melawan komunikasi bisu dengan ”komunikasi profetik”. Yaitu, potret hubungan antar sesama yang mendasarkan pada rasa saling menghargai. Tidak ada yang dominan dalam proses hidup. Seseorang pasti mempunyai keterbatasan dan kelebihan sendiri. Karena itu, ruang belajar perlu dikelola dengan menghargai keragaman. Dengan demikian, yang muncul adalah proses pendidikan yang bersumber dari potensi yang ada, bukan dominan pada pendidik.

Komunikasi profetik juga mendasarkan pada sikap dan hubungan yang sama antara ucapan dan tindakan. Komunikasi yang tidak sekadar didasarkan pada gerak bibir semata. Namun, pada proses jiwa sosial yang melebur dari kehidupan penuh penghormatan dan harmoni.
Saat pendidikan telah mewujud seperti itu, komunikasi bisu akan sirna dengan sendirinya. Sebab, ia telah terkalahkan oleh proses pemanusiaan. Sebuah sikap dan maqam luhur dalam proses pendidikan.
Pada akhirnya, semoga kematian KWN, AWA, dan IBF mengakhiri peristiwa buruk kekerasan di rahim pendidikan. Perlu rekayasa agar kejadian serupa tidak terulang, yaitu dengan menebarkan sikap humanis dalam pendidikan. Melalui itu, kekerasan akan lumpuh. Pasalnya, setiap orang menghargai keberadaan orang lain dan memahami peran serta posisi masingmasing dalam membangun peradaban.