Sabtu, 08 April 2017

Menikmati Api Membesar

Menikmati Api Membesar
AS Laksana  ;   Cerpenis dan Esais yang tinggal di Jakarta
                                                       JAWA POS, 03 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

JIKA apa yang sedang berlangsung di Jakarta mewakili situasi Indonesia hari ini, mewakili mood sebagian besar warga negara, tampaknya kita tidak membutuhkan serbuan atau campur tangan bangsa-bangsa lain untuk kian sengsara pada waktu-waktu mendatang.

Pemilihan gubernur DKI harus berlangsung dua putaran. Sebab, putaran pertama tidak menghasilkan pemenang dengan perolehan suara lebih dari 50 persen. Sekarang, dengan dua pasangan kandidat saling berhadapan, para pendukung dua kubu sedang sibuk berperang kata-kata, saling menggempur dengan senjata kebencian, dan berlindung di balik tameng agama.

Kita tahu memang sulit menyingkirkan agama dari wilayah politik. Saya pikir bahkan jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan membersihkan daki di punggung sendiri saat kita mandi. Bagaimanapun, harus diakui bahwa pesan-pesan sosial dan politik muncul sangat kuat di dalam teks-teks agama selain pesan-pesan untuk meningkatkan iman dan takwa.

Agama memberi tahu para bujangan, jika hendak menikah, pilihlah pasangan yang cantik atau tampan agamanya, jangan memilih pasangan karena dibutakan semata-mata oleh kecantikan atau ketampanan fisik. Teks-teks agama mengajarkan bahwa iblis berseliweran di tengah-tengah kita dalam bentuk jin dan manusia serta berupaya menyeret kaum beriman ke api neraka. Agama juga meminta para pemeluknya waspada terhadap kaum lain; mereka adalah orang-orang yang ingin menyesatkan kita dari jalan yang benar.

Saya tahu setiap agama mengajarkan kebenaran mutlak versi masing-masing yang tak mungkin dikoreksi pihak lain. Tiap pemeluk agama, yang mengimani surga dan neraka, akan meyakini bahwa hanya jalannya yang bisa membawa orang ke taman firdaus atau tempat lain yang semacam itu.

Para pengikut Kristus mengimani bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk sampai kepada Bapa, untuk memasuki kerajaan surga dan menikmati kebahagiaan kekal di akhirat. Kaum muslim meyakini bahwa satu-satunya agama yang dirahmati Allah adalah Islam dan merekalah para penghuni surga kelak. Hindu juga menawarkan jalan yang akan membawa orang ke swarga loka. Buddha mengajarkan jalan menuju kekosongan, nirwana. Bayi-bayi Yahudi sejak lahir diberi tahu bahwa mereka adalah bangsa terpilih. Para pengikut sekte Salamullah, saya yakin, mengimani bahwa Lia Aminuddin adalah kebenaran dan satu-satunya jalan tol menuju kebahagiaan abadi.

Agama-agama besar pun bukan entitas-entitas tunggal. Dari setiap agama muncul denominasi atau rumpun-rumpun yang lebih kecil dengan keyakinan dan penghayatan yang lebih spesifik. Tiap rumpun juga akan meyakini bahwa jalannyalah yang paling benar.

Tribalisme semacam itu, kita tahu, adalah salah satu naluri paling kuat yang mengendalikan perilaku manusia. Ia melindungi kita dan memberikan perasaan tenteram bahwa kita berada di jalan yang benar. Namun, pada saat yang sama, ia bisa menghadirkan ancaman, terutama ketika kita berada dalam situasi tidak menentu yang melumpuhkan nalar.

Jakarta sedang mengalaminya saat ini. Pemilihan kepala daerah, sebuah prosedur dalam sistem demokrasi untuk mendapatkan kepala administrasi pemerintahan, tiba-tiba berubah menjadi seolah-olah perjuangan mencari pemimpin agama. Ini seperti kelanjutan saja dari pemilihan umum presiden pada 2014.

Jargon-jargon keagamaan dihambur-hamburkan. Para demagog berdiri di baris depan, memberi tahu kita apa yang harus dilakukan. Orang-orang digerakkan untuk turun beramai-ramai melawan dajal, menghujat kandidat yang dikonstruksi sebagai musuh agama, jika mungkin menyingkirkannya sekalian ke neraka.

Para politikus jahat menyukai hal semacam itu. Mereka menyukai apa saja yang menguntungkannya. Jika menggunakan agama, mereka akan senang membungkus nafsu politik dan syahwat berkuasa dengan teks-teks agama, memompa fanatisme, dan mengacaukan emosi publik dengan sentimen-sentimen keagamaan.

Kita tahu bahwa agama adalah alat politik yang sangat efektif untuk meraih dukungan massa. Ia tidak hanya manjur untuk menarik hati orang-orang saleh, tetapi juga manjur untuk merayu para penelan pil koplo. Tidak peduli bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari, para penelan pil koplo adalah kaum yang juga mudah tersentuh ketika disodori isu-isu agama.

Kita tidak bisa menganggap remeh para penelan pil koplo ini. Pemilihan umum adalah urusan mendapatkan lebih banyak pemilih ketimbang kandidat lain. Dalam keadaan berimbang, suara satu orang penelan pil koplo sudah cukup untuk membuat perbedaan, apalagi lebih dari 20.

Jakarta sungguh menyedihkan. Baru sekali ini, dalam pilkada, ada bentangan spanduk dan ceramah yang sampai mengancam tidak menyalatkan jenazah. Lalu, kita diminta memaklumi bahwa itulah ekspresi warga. Saya pikir itu sulit dimaklumi.

Ancaman seperti itu, entah diwujudkan entah tidak, sama belaka daya rusaknya dengan rembesan air pada atap rumah kita. Mungkin semula itu hanya rembesan kecil, tetapi air yang merembes pada atap itu lama-lama akan mengakibatkan kerusakan pada langit-langit, memunculkan jamur, melapukkan kusen-kusen, dan sebagainya.

Para politikus buruk tidak memedulikan hal itu. Mereka menikmati api membesar dan perpecahan. Golongan semak-semak digerakkan untuk berperang melawan sesamanya, melakukan apa saja untuk membenamkan pihak lawan, dan meyakini bahwa mereka sedang berperang melawan musuh agama.