Membingkai
Kepentingan Indonesia
Rene
L Pattiradjawane ; Wartawan Senior Kompas
|
KOMPAS,
11 Mei 2014
|
Dinamika
kawasan Asia Tenggara selama kurun sepuluh tahun terakhir memberikan tanda
yang kuat bagi Indonesia untuk mengejawantahkan politik regional secara masif
dan komprehensif, khususnya menyongsong dimulainya Komunitas ASEAN 2015. Di
bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, posisi poros Indonesia dalam ASEAN
terlihat tidak memiliki arah dan tujuan.
Dalam
sepuluh tahun ini, Indonesia membiarkan Kamboja melakukan boikot tanpa
menghasilkan komunike bersama para menlu ASEAN pada 2013, tradisi
regionalisme yang dilakukan negara-negara Asia Tenggara pasca-Perang Dingin.
Rasanya tak perlu memproyeksikan demokrasi Indonesia yang dicapai dalam 15
tahun terakhir ke dalam forum internasional, seperti G-20 atau melalui Forum
Demokrasi Bali, yang tidak memberikan sumbangsih nyata bagi pelaksanaan
politik luar negeri Indonesia.
Di sisi
lain, kenyataan dinamika ASEAN dalam menyambut konektivitas Komunitas ASEAN
2015 bergerak tidak memiliki arah dan condong dibiarkan bekerja secara
otopilot mengikuti nuansa perkembangan. Khususnya terkait klaim tumpang
tindih kedaulatan di Laut ASEAN (”ASEAN
dan Laut China Selatan”, Kompas 28/4).
Seperti
pandangan yang disampaikan dalam laporan akhir tahun 2013 harian ini,
konsentrasi politik luar negeri Indonesia memerlukan pendalaman dan pemahaman
strategis atas perubahan dan kesinambungan pluralisme geopolitik ASEAN yang
kurang diperhatikan dalam sepuluh tahun terakhir. Padahal, rumusan pilar
politik dan keamanan dari tiga pilar konektivitas ASEAN adalah prakarsa
Indonesia yang harus terus-menerus dipertahankan keabsahannya bagi dinamika
ASEAN.
Mengacu
catatan perdagangan Indonesia-ASEAN, misalnya baik dari Badan Pusat Statistik
maupun Kementerian Perdagangan, total impor-ekspor nonmigas Indonesia ke
wilayah ASEAN mencapai 19 miliar dollar AS, dan jauh lebih besar ketimbang
ekspor-impor sejenis ke Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, China, dan
lainnya. Itu berarti ASEAN menjadi terlalu penting dan menjadi sentra utama
kepentingan nasional Indonesia, yang mewajibkan kita memainkan peranan aktif
bagi stabilitas dan perdamaian.
Menteri ASEAN
Pertanyaannya,
apakah sudah waktunya bagi kita memberikan penekanan khusus dan meletakan
serta menjaga kepentingan nasional Indonesia di dalam ASEAN secara
komprehensif? Jawabannya adalah ya. Proyeksi yang segera terpikirkan adalah
pemerintahan baru pasca SBY harus membingkai kepentingan Indonesia untuk
kurun 2015- 2025 sebagai jendela krusial membawa kepentingan nasional ke
tingkat yang lebih tinggi.
Sudah
waktunya Indonesia memiliki pejabat negara dalam kapasitas sebagai Menteri
ASEAN dengan tugas memperluas dan mempertegas ”politik gotong royong” untuk
menopang pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi, serta pilar sosial-budaya
dalam kerangka konektivitas Komunitas ASEAN 2015.
”Dengan demikian bangsa-bangsa Asia Tenggara baik
setjara kolektif dapat membangun untuk mentjapai kemadjuan bagi mentjiptakan
masjarakat adil dan makmur, baik dilingkungan masing-masing maupun dalam
lingkungan wilajah Asia Tenggara,” kata pejabat Presiden Soeharto
dalam pidatonya di DPR-GR tahun 1967.
Menteri
ASEAN bagi Indonesia adalah upaya modernisasi politik luar negeri bebas aktif
di abad ke-21 ini melalui ketahanan dalam rangka kohesivitas mengintegrasikan
kawasan Asia Tenggara yang damai dan stabil. Modernisasi ini dibangun
berlandaskan kerja sama saling menguntungkan untuk mencapai ”mimpi ASEAN”
sebagai kawasan yang adil dan makmur. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar