Kekerasan
Seharusnya bukan Pilihan
Ahmad
Baedowi ; Direktur
Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
|
MEDIA
INDONESIA, 12 Mei 2014
|
KEKERASAN, dalam metafora yang
luas,bisa mencakup beragam perlakuan yang tidak menyenangkan baik secara fisik
maupun psikologis. Efek kekerasan terhadap anak sungguh amat dahsyat karena
secara fisik ataupun psikologis, kekerasan akan membekas lama dan dalam di
relung jiwa seorang anak. Dalam jangka panjang, efek psikologis mungkin yang
paling mengkhawatirkan karena bisa memengaruhi perilaku seseorang ketika
dewasa bahkan di masa tuanya.
Beberapa kasus kekerasan yang
terjadi di dunia pendidikan dan mencuat dalam sebulan terakhir di Indonesia
ini mengindikasikan adanya tindak kekerasan yang melibatkan hampir semua stakeholder sekolah, yaitu guru,
pegawai, siswa, dan bahkan orang tua. Kasus pedofilia di Jakarta Internasional School yang melibatkan pegawai dan guru,
kasus guru `Emon' di Sukabumi yang luar biasa keji dan tak beradab, serta
perlakuan kasar kakak kelas terhadap adik kelas di salah satu sekolah dasar
di Jakarta Timur dan STIP, merupakan contoh buruk betapa dunia pendidikan
seolah tak mampu menghindari dan sekaligus melawan kekerasan.
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, dalam waktu dekat, bahkan akan mengeluarkan peraturan presiden
yang berkaitan untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan di dunia
pendidikan. Hal itu menandakan kekerasan di dunia pendidikan sudah masuk
kriteria kejadian luar biasa sehingga Presiden harus turun tangan menangani
isu tersebut. Jika perpres itu jadi dirilis, sesungguhnya juga bisa merupakan
penanda lemahnya birokrasi pendidikan kita dalam menangani masalah ini secara
kelembagaan. Mengapa penanganan isu dan masalah kekerasan harus dimulai di
tingkat sekolah, bukan oleh sebuah peraturan presiden? Karena sekolah
merupakan penanggung jawab secara langsung bagaimana seharusnya pola perilaku
dan cara berpikir anak harus dibentuk, bukan oleh peraturan yang terlalu jauh
jaraknya dengan kondisi lingkungan sekolah.
Soal caranya, Michael J Furlong,
dalam Preventing School Violence: A
Plan for Safe and Engaging Schools (2005), memberikan sedikitnya empat
ilustrasi program yang memungkinkan sekolah dapat mencegah munculnya aksi
kekerasan dan radikalisme di lingkungan anak-anak sekolah. Pertama, apa yang
disebut dengan anger coping program.
Dengan menggunakan bantuan para konselor atau guru BK dan orangtua, sekolah
dapat membuat serial pelatihan tentang bagaimana cara mengelola rasa marah ke
dalam bentuk yang lebih positif.
Sekolah juga dapat meminta bantuan para
psikolog dari perguruan tinggi untuk memikirkan skema training jenis itu, termasuk ketersediaan waktu yang bagi
anak-anak.
Kedua, memasukkan pengertian dan
pengetahuan tentang jenis-jenis kekerasan ke desain ajar yang relevan dengan
situasi psikologis siswa, terutama untuk dan dalam rangka memperkenalkan
makna empati, problem solving, dan
mengelola amarah. Kegiatan tersebut perlu didahului sebuah workshop yang berkaitan dengan
keterampilan guru dalam merancang desain pembelajaran yang ramah dengan
cara-cara nirkekerasan.
Ketiga, sekolah juga diharapkan
berani mengambil keputusan untuk membuat pelatihan tentang pengelolaan rasa
marah dengan menggunakan teknik role playing, modeling, dan rewarding
terhadap anak, orangtua, dan bahkan guru secara berkala, minimal dua kali
dalam setahun. Jika mekanisme itu berjalan, selebihnya akan menjadi tugas
guru dan tim untuk melakukan evaluasi terhadap potensi kekerasan yang mungkin
muncul di kalangan siswa.
Keempat, Furlong juga
menyarankan agar sekolah memiliki dokumen tertulis semacam statuta sekolah,
yang memungkinkan setiap anggota dari komunitas sekolah dapat memiliki
panduan yang dapat dijadikan semacam saluran dalam menumpahkan seluruh
persoalan yang berkaitan bukan hanya dengan masalah kekerasan di sekolah,
melainkan juga mekanisme pengaturan tata tertib yang sepatutnya berlaku di
sekolah.
Keempat jenis program tadi akan
lebih efektif jika dilakukan secara bersama antara sekolah, masyarakat, dan
pemerintah. Kerja sama di antara ketiganya akan memudahkan sekolah dalam
menjaring sumber daya yang dibutuhkan, termasuk pendanaan hingga implementasi
program. Hanya, sekarang, seberapa besar muncul kesadaran semacam itu di lingkungan
sekolah kita?
Penting bagi setiap sekolah
untuk menyertakan siswa, anak-anak muda kita, dalam setiap tahapan kegiatan
yang menyangkut kepentingan mereka secara bersama. `Nothing about us, without
us' harus menjadi semacam jargon yang harus dikedepankan dalam menarik minat
para siswa terhadap seluruh aktivitas belajar-mengajar di sekolah.
Lawan dari kekerasan adalah
perdamaian, dan damai adalah karakter. Untuk mencapainya, dibutuhkan laku
sikap dan cara berpikir positif yang dirancang melalui sebuah skenario. Jika
skenario adalah sebuah rencana, pendidikan adalah domain yang mampu mewadahi
setiap orang untuk menggali potensi damai dalam diri masing-masing.
Dalam pendidikan, seseorang
harus bersedia belajar tentang semua hal, termasuk menggali rasa dan situasi
damai. Seperti semua ajaran agama, rasa dan situasi damai adalah pesan abadi
yang dibawa setiap nabi dengan agama masing-masing. Karena itu, pendidikan
merupakan sarana keselamatan setiap orang.
Saya kira setiap kepala sekolah,
guru, orangtua, dan para pendidik harus membaca memoar Jodee Blanco, Please Stop Laughing at Me.... One
Womens's Inspirational Story yang diterbitkan Penerbit Alvabet menjadi Bencana Sekolah! Memoar Mengejutkan,
Menggugah, dan Menginspirasi tentang Bullying (2013). Dalam pengakuan
Jodee, “Saya membiarkan para siswa tahu
bahwa bullying bisa merusak kita selamanya dan bahwa bullying bukan cuma
berarti hal-hal keji yang kita lakukan, melainkan juga hal-hal baik yang
tidak kita lakukan, seperti membiarkan seseorang duduk sendirian saat makan
siang, selalu memilih terakhir orang yang sama ketika membagi-bagi tim di
kelas, atau berbicara tentang seseorang alih-alih berbicara dengan mereka.“
Kita harus terus meyakinkan para
kepala sekolah, guru, siswa, pegawai, dan para pendidik bahwa kekerasan
seharusnya bukan pilihan utama untuk menjalankan proses pendidikan yang baik
dan benar. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar