Darah
Segar Kepemimpinan Jokowi-JK
Umbu
TW Pariangu ; Dosen Fisipol, Undana, Kupang
|
MEDIA
INDONESIA, 10 Mei 2014
|
SETELAH lama publik mencoba
menguak tabir siapa pendamping calon presiden dari PDIP, Joko Widodo
(Jokowi), sebagai cawapres, jawaban pun mulai mengerucut ke sosok Jusuf Kalla
(JK). Sosok politikus kawakan sekaligus pengusaha itu, menurut penulis,
dipastikan bakal menyingkirkan kompetitor cawapres lain yang sebelumnya masuk
radar nominasi PDIP, yakni mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD,
mantan KSAD Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, dan Ketua Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) Abraham Samad.
Tanda-tanda sudah terlihat sejak
pertemuan Jokowi dengan JK di Bandara Halim Perdanakusuma 3 Mei pagi,
kemudian disusul bocoran Jokowi kepada wartawan seusai bertemu dengan 15 duta
besar di Restoran Oasis, Jakarta Pusat (6/5) bahwa cawapresnya ialah sosok
yang jago hukum, mengerti ekonomi serta berasal dari luar Jawa (Metrotvnews.com, 6/5).
Memilih JK tentu saja didasari
berbagai kajian strategis internal partai dengan memperhatikan prospek
elektoral, representasi politik termasuk afinitas dukungan politik dalam
mengemas berbagai isu-isu pokok pemerintahan Jokowi nanti. Kita tentu masih
ingat pula kemenangan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak terlepas dari
dukungan personal JK yang memandang Jokowi memiliki potensi karisma untuk
memimpin Ibu Kota sehingga ia pun sempat meminta Jokowi datang menemuinya di
Jakarta untuk membicarakan perihal pencalonannya.
Magnet suara
Dengan kata lain, aspek historis
itu dapat menjadi awal chemistry
baik yang terbangun di antara keduanya. Selain itu, identifikasi luar Jawa
yang melekat di diri JK bakal menjadi kekuatan magnetis untuk merebut suara
luar Jawa yang belum maksimal memberi kemenangan bagi PDIP pada pileg lalu.
Apalagi menurut Survey dan Polling
Indonesia (Spin), sebanyak 47% masyarakat saat ini masih sangat setuju
dengan komposisi geostrategi politik Jawa-luar Jawa.
Potensi elektoral yang disulut
sosok JK itu pun diyakini bakal mempermulus jalan kompetisi Jokowi-JK ke RI 1
dan RI 2 karena ia memiliki basis kedekatan dengan kaum Nahdliyin (Nahdlatul
Ulama/ NU) yang suaranya cukup seksi dalam konstelasi politik Indonesia. Kita
tahu suara kaum Nahdliyin pada Pileg 2014 mencapai kurang lebih 40 juta orang
di berbagai daerah dan tersebar merata ke partai-partai yang ada.
Oleh karena itu, Jokowi (PDIP)
dianggap perlu sekali membuka kanal elektoralnya terhadap dukungan kaum Nahdliyin
mengingat di pihak lain, kubu Prabowo juga sama-sama memiliki basis potensial
untuk merebut dukungan massa Nahdliyin. Bahkan, berdasar sinyalemen
berkembang, umat NU konon sangat tertarik dengan program-program ekonomi
kerakyatan Gerindra yang dinilai merepresentasikan kebutuhan warga Nahdliyin.
Kalaupun kelak PKB yang diketuai
Muhaimin Iskandar dan notabene merupakan rumah aspirasi politik warga NU
akhirnya merapat ke gerbong koalisi PDIP-NasDem, pun belum menjamin koalisi
itu menjadi sarang gula bagi suara massa NU. Posisi politik Yenny Wahid yang
lebih mendukung Prabowo dan masih kuatnya identifikasi personal warga NU
terhadap sosok Gus Dur membuat kesepakatan politik di pucuk partai belum
tentu dapat menciptakan kepatuhan elektoral di basis massa akar rumput.
Karenanya, posisi JK bagi PDIP
diestimasi bisa menjadi obat pencahar suara politik, tidak saja bagi pemilih
luar Jawa sebagaimana dalam komposisi SBY-JK di Pemilu
2014, tetapi juga dapat merajut dukungan representatif dari pemilih
berbasis kelompok pemilih mayoritas Islam, yakni NU.
Hal yang tak kalah penting,
sosok cawapres JK juga terkenal memiliki kemampuan lobi-lobi tingkat tinggi
yang sangat urgen terutama dalam mengomunikasikan posisi dan kebijakan
pemerintah di parlemen yang penuh potensi kalkulasi dan transaksional.
Kecerdasan komunikasi dan pengalaman memerintah serta kelebihan teknis dalam
aspek ekonomi maupun hukum yang dimiliki JK membuatnya memiliki nilai plus
ketimbang dijodohkan dengan pasangan lain (Mahfud, Samad, atau Ryacudu).
Kelebihan itu bisa memudahkan JK
menciptakan ruang komplementarisme bagi Jokowi untuk lebih leluasa dan sigap
terutama dalam mengeksekusi berbagai kebijakan-kebijakan penting. Itulah
alasan duet Jokowi-JK lebih ideal sebagai `pasangan jadi' ketimbang Jokowi-Mahfud
walaupun berdasarkan simulasi statistik Lembaga Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi itu dianggap calon terkuat untuk mendampingi Jokowi
(47,6%) di pilpres jika berhadapan dengan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa
(27,4%) atau Aburizal Bakrie-Wiranto (12,2%).
Darah segar JK yang kerap
memiliki pola kepemimpinan khas dalam hal inisiasi dan spontanitas
mengeksekusi keputusan di garis depan (frontline)
di satu sisi bisa melahirkan efek samping. Di sisi lain, jurus doing the right things justru
diharapkan bisa mengalirkan darah segar bagi langgam kerja pemerintahan
Jokowi-JK dengan mematahkan apa yang oleh Koehler dan Pankoeski (1997:65-75)
disebut sebagai budaya `kepemimpinan politis'.
Budaya kepemimpinan itu lebih
mementingkan kepentingan politis (keberlangsungan karier dan popularitas
politik pemimpin/kekuasaan) daripada mengutamakan kualitas hasil bagi
kepentingan publik. Pola seperti itu pula yang terperagakan dalam
kepemimpinan Presiden Yudhoyono, terutama di termin kedua pemerintahannya,
sehingga model pengambilan keputusan yang ditabiatkan lebih mencerminkan
pemenuhan kepentingan akomodasi dan dukungan elemen-elemen politik di
sekitarnya sembari mengorbankan hal-hal paling esensial dari setiap eksekusi
kebijakan.
Masalah yang mungkin cukup
menonjol di tengah perpaduan langgam kerja kepemimpinan dua sosok itu
nantinya yaitu kemungkinan munculnya perasaan ewuh pakewuh seorang Jokowi sebagai sosok penganut tradisi Jawa
yang kental, terhadap JK. Tidak saja karena faktor perbedaan usia hampir satu
generasi yang dimiliki mereka (Jokowi 52 tahun dan JK 72 tahun), tetapi juga
jejak prestasi nasional JK yang membuatnya memiliki alasan lebih untuk
percaya diri termasuk terpupuknya keinginan dan kebiasaan yang kuat untuk
mempengaruhi yang lain (strong desire
to influence others). Secara psikologis, gap itu memang dikhawatirkan
bisa memengaruhi konsistensi sikap atas sebuah pandangan, persoalan maupun
gagasan kebijakan yang menurunkan derajat kepastian pada level kompromistis.
Namun, penjajakan komunikasi
Jokowi-JK yang sudah terbangun jauh sebelum pemilu serta kebutuhan masing-masing
untuk menjaga citra diri positif di hadapan publik diharapkan mampu menjadi
faktor penetral gap psikologis di antara keduanya. Sehingga pola komunikasi
yang terbangun menjadi cair dan konstruktif sebagai modal mengemudikan perahu
NKRI.
Dengan potensi yang dimiliki
duet Jokowi-JK, di bawah payung koalisi tanpa syarat PDI-P-NasDem-PKB tersebut, sudah pasti
pasangan itu menjadi pasangan yang paling siap menjajal rival di Pilpres
2014. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar