100
Tahun Ismail Marzuki
Musik,
Revolusi, dan Karakter Bangsa
JJ
Rizal ; Sejarawan
|
MEDIA
INDONESIA, 13 Mei 2014
|
ADA yang bilang pada 1950-an,
Soekarno pernah mengusulkan untuk mengganti lagu kebangsaan Indonesia Raya
dengan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail `Bang Maing' Marzuki. Sejarawan
Hans van Miert mengungkapkan sejak pertama kali mendengar pada 1928, Soekarno
merasa memang lagu Indonesia Raya kurang pas, terlalu bernada Barat. Meskipun
pada 1930 akhirnya Soekarno mengalah dan menerima ketika partainya sendiri,
Partai Nasional Indonesia (PNI), menerima lagu Indonesia Raya sebagai lagu
kebangsaan, ia rupanya belum benar-benar ikhlas.
Usul mengangkat lagu Indonesia
Pusaka sebagai lagu kebangsaan tidak kesampaian. Namun, pada 1960 bertepatan
peringatan hari kemerdekaan, Soekarno memberikan piagam penghargaan kepada
Ismail Marzuki. Saat itu Soekarno menyatakan seniman ialah bagian yang tidak
terpisahkan sejak awal pergerakan nasional dan peran mereka semakin kentara
pada masa revolusi. Ismail Marzuki ialah salah satunya.
Biografi Ismail Marzuki memang
mencerminkan pernyataan Soekarno itu. Ia lahir pada 11 Mei 1914 dari keluarga
Betawi di Kwitang. Pada 1931, saat usianya baru 17 tahun, ia tidak saja telah
memperlihatkan bakat musik, tetapi juga ideologi kerakyatannya melalui lagu Oh Sarinah. Meskipun berbahasa
Belanda, Oh Sarinah jelas
mencerminkan ide zamannya yang dipenuhi semangat pembelaan terhadap rakyat
kecil tertindas yang diperlambangkan Mas Marco Kartodikromo sebagai Kromo,
oleh Soekarno sebagai Marhaen, dan oleh Tan Malaka sebagai Murba.
Musik dan semangat kebangsaan
ialah hal yang tidak terpisahkan dalam biografi Ismail Marzuki. Bahkan
akarakar semangat kebangsaan itu dapat ditelusuri lebih jauh lagi sebelum ia
menciptakan lagu Oh Sarinah. Ketika masih sebagai pelajar tingkat dasar
Christelijk HIS (Holland In landsche
School), Ismail Marzuki telah mengaitkan dirinya dengan Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI) di
Gang Kenari yang berporos kepada tokoh nasional MH Thamrin. Tidak aneh jika
kemudian Ismail Marzuki selain memasuki perkumpulan musik keroncong Lief Java yang tersohor dan membentuk
kelompok musik jazz The Sweet Java
Islander, juga memasuki Perkumpulan
Kaum Betawi yang melibatkan diri dalam peristiwa Kerapatan Pemuda 1928 yang kemudian sohor sebagai Sumpah Pemuda. Pada zaman Jepang,
ketika seniman banyak diberi tempat oleh kekuasaan, Ismail Marzuki diangkat
sebagai pemimpin Orkes Indonesia
Hosokyoku Djakarta yang digunakannya sebagai kesempatan untuk menciptakan
lagu-lagu cinta tanah air, salah satunya Rayuan
Pulau Kelapa.
Media baru
Pengalaman dalam
organisasi-organisasi perjuangan serta kelompok musik dengan berbagai
alirannya itu membuka jalan Ismail Marzuki sebagai pemusik pejuang semakin
matang. Kematangan jiwa kebangsaan itulah yang kemudian membawa Ismail
Marzuki mampu melihat revolusi 1945 sebagai medan inspirasi dan puncak
kreasinya untuk bangsa. Keterlibatannya dalam kerja-kerja di kantor radio
Belanda NIROM, juga Djakarta Hooso
Kyoku milik tentara Jepang, yang dijalaninya berbarengan dengan bekerja
di radio VORO milik kaum pergerakan membuatnya mampu melihat kekuatan media
baru sebagai alat perjuangan. Ketika proklamasi segera disusul revolusi, ia
segera menggabungkan diri dengan Radio
Republik Indonesia (RRI) yang dibangun pada 11 September 1945. Sampai di
sini panggilan revolusi Ismail Marzuki menguat. Ia berada di `front terdepan'
terkait dengan musik dan revolusi, seperti Chairil Anwar dalam puisi dan
Sudjojono dalam seni lukis.
Di RRI itulah pertama kali teks
proklamasi disiarkan Jusuf Ronodipuro, sosok yang juga mendorong Ismail
Marzuki tampil menyiarkan lagulagu perjuangan karyanya. Bersama grup musik Empat Sekawan yang dibentuknya, Ismail
Marzuki mengisi acara musik untuk programa Hiburan Pahlawan, Hiburan
untuk Tentara Angkatan Laut dan Udara RI, dan lain-lain. Selain mengisi
programa udara, Ismail Marzuki juga membawa grup musiknya turun ke front-front
yang tidak sekadar untuk menghibur para pejuang, tetapi mencari ilham dari
revolusi. Ismail Marzuki menolak tawaran gaji besar dan fasilitas Belanda
ketika RRI diambil alih mereka pada November 1946. Ia lebih memilih membantu
istrinya, Eulis Zuraidah, berjualan gado-gado, laksa, asinan, dan mi goreng
sambil serabutan mengajar bahasa Belanda dan Inggris.
Pada masa revolusi keadaan
Jakarta tidak selamanya damai karena rakyat bergerilya menolak kembalinya
Belanda. Ismail Marzuki mengungsikan istrinya ke Bandung. Situasi pergolakan
revolusi itulah yang justru diterjemahkan Ismail Marzuki ke dalam lagulagu.
Lagu-lagu perjuangan karyanya menurut ahli musik JA Dungga dan L Manik dapat
dibagi menjadi empat kategori, yaitu lagu cinta tanah air berupa mars, lagu
cinta tanah air berupa lagu tenang, lagu percintaan (minneliederen), dan lagu sindiran (spotliederen).
Mengalir deras
Ada lebih 200 lagu diciptakan
Ismail Marzuki sampai ia meninggal di kediamannya di Kampung Bali, Tanah
Abang, dalam usia 44 tahun pada 25 Mei 1958. Beberapa dapat disebutkan
sebagai contoh lagu mars, seperti Halo-Halo
Bandung, Gagah Perwira, dan Selamat
Datang Pahlawan Muda. Kemudian lagu sindiran seperti Seruan Seruni dan Djakarta
Menanti. Lagu cinta tanah air berupa lagu tenang seperti Gugur Bunga, Saputangan dari Bandung
Selatan, Karangan Bunga dari Selatan, Terkenang Tanah Air, Sumbangsihku,
Rangkaian Melati, dan Oh Angin
Sampaikanlah. Lagu percintaan terlihat pada Sepasang Mata Bola, Sersan Mayorku, O Kopral Djono, Halo Bu, Djuwita
Malam, Aryati, Melati di Tapal Batas, Selendang Sutra, dan Sabda Alam.
Revolusi telah menjadi medan
kreatif yang membuat Ismail Marzuki mencipta seperti tanggul jebol.
Karyakaryanya memperoleh kesuksesan, bahkan menjadi klasik hingga ke masa
depan. Itu mungkin berasal dari lagulagunya yang memang tidak berdasar
gramatika musik yang kompleks, tetapi dalam kepolosannya justru seperti
kebanyakan lagu rakyat Indonesia menjadi abadi, meskipun oleh para pengamat
pada zamannya dikatakan kurang indah dari segi estetika musik.
Faktor lain kesuksesan Ismail
Marzuki ialah kemampuannya membuat syair-syair lagunya menapaki pencapaian
sastera serta pergulatan bahasa yang memukau antara bahasa Melayu-Betawi
dengan bahasa Indonesia yang masih sangat muda. Namun, bagaimanapun jasa
besar Ismail Marzuki ialah mendokumentasikan zamannya di dalam lagu-lagu.
Ismail Marzuki bermain dan
menciptakan musik memang tidak sekadar memuaskan bakat alamnya yang memukau,
tetapi sebagaimana Soekarno, Hatta, dan generasinya menggunakan bakat
politik. Mereka semua tengah membayangkan diri sebagai `orang Indonesia' dan
bahwa menjadi `orang Indonesia' bukan sesuatu yang alamiah, melainkan sesuatu
yang diciptakan sejarah modern yang menuntut tekad, solidaritas, kerelaan
berkorban, serta harapan. Khususnya harapan pergerakan kebangsaan Indonesia
yang membayangkan manusia Indonesia
yang berdiri tegak, tidak bongkok dan tidak menginjak, terbuka dinamis,
inklusif, bernyali, dan berperikemanusiaan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar