Minangkabau
dan Dunia Melayu (4)
Mochtar
Naim ; Sosiolog
|
HALUAN,
12 Mei 2014
|
Islam sekarang telah
memasuki era gelombang ketiga dari perkembangan peradabannya, yang masing-masing
era itu berjalan lama tujuh abad. Ini sesuai bunyi ayat : “Hari-hari itu kami
peredarkan di antara manusia-manusia” (Al Quran, Ali- Imran, 140). Era
gelombang pertama adalah sejak lahirnya Islam di sahara Arabia, di Kota
Makkah dan Madinah di abad ke-6 Masehi, lalu menjalar ke berbagai negara, dan
mencapai titik zenitnya di Kordoba di Spanyol dan di Parsia di abad ke-13 dan
14.
Sehabis-habisnya mendaki
di zaman keemasannya sampai di puncaknya, lalu meluncur dan meluncur habis ke
titik nadirnya, di gelombang ke-2 selama IK ke-7 abad pula (abad 13-20),
dengan seluruh dunia Islam berada di bawah kekuasaan dan penjajahan barat.
Baru mulai bangkit kembali setelah usai perang dunia ke-2 (1945) dengan
terbebaskannya satu per satu negara-negara Islam itu dari penjajahan barat
yang Kristen itu. Era gelombang ketiga ini diperkirakan juga akan berjalan
selama 7 abad pula ke depan.
Sekarang dunia Islam
sedang mulai bangkit lagi untuk menuju zenitnya kembali. Dalam rangka itulah
kita melihat di awal titik balik ini munculnya DMDI di Asia Tenggara. Waktu
dan peluang sekarang berada di pihak mereka. Umat Islam sekarang, sebagaimana
yang lainnya, harus belajar banyak dari gelombang sejarah yang dilaluinya.
Inspirasi DMDI ini sebenarnya
sudah bermula sejak sebelum perang dunia ke-2, di mana tokoh-tokoh politik
dan pujangga dari Indonesia, Malaysia dan Filipina sudah memikirkan untuk
terbangunnya sebuah Commonwealth Negara-negara Melayu di Asia Tenggara
ini. Namun hubungan antara sesama Melayu sendiri tidak selalu berjalan
mulus. Ada waktunya mereka bertengkar bercakar-cakaran terutama di zaman
konfrontasi orde lamanya Soekarno. Ada istilah; Ganyang Malaysia.
Karena latar belakang
pembentukan budaya modern yang berbeda, manusia yang dijajah oleh Inggris dan
Indonesia yang dijajah oleh Belanda, perbedaan cara berpikir di atas dari
dikotomi sintetisme dan sinkretisme primordial tadi, juga melempias kepada
cara masing-masing membangun dan membentuk negara. Malaysia menekankan pada
filosofi law
and order, sementara Indonesia pada supremasi
birokrasi di mana hukum jadi objek, bukan subyek. Lantunannya adalah pada
tiada terkendali nafsu ber KKN, korupsi, kolusi, nipotisme, di mana saja,
dari atas sampai ke bawah pun, dari pusat sampai ke daerah. Malaysia, yang
menjunjung budaya Melayu lebih berorientasi sentrifugal, sementara Indonesia
yang terkonsentrasi di Jawa lebih berorientsasi sentri petal.
Ide DMDI gampang tercerna
oleh dunia Melayu yang di utara laut Jawa, tetapi tidak oleh dunia Melayu
yang di selatan laut Jawa, yang lahirnya pada perbedaan orientasi budaya antara
sintetis dan sinkretis tadi. Karena NKRI lebih dikendalikan
dari budaya sinkretik daripada sintetik, walaupun sila pertama mengatakan
Ketuhanan YME, tapi NKRI dengan orientasi sinkretismenya itu tidak mungkin
menjadi negara Islam – kendati satu-satunya agama yang berketuhanan YME
adalah Islam. Apalagi mayoritas terbesar (80%) dari warga negara adalah
orang Islam, dan Indonesia pun negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Namun karna dasarnya adalah sinkretik, bukan sintetik, prinsip demokrasi
yang dianut tidak bisa di berlakukan secara efektif, tapi dibumbui dengan dan
dikendalikan oleh budaya sinkretik itu.
Aspirasi DMDI sejauh ini
masih diserap dan diresapi di belahan Malaysia termasuk Brunai dan Sabah, di
samping itu juga ada sentuhannya ke Pattani di Thailand selatan dan
Moro di Filipina selatan tetapi belum ke Indonesia. Walupun hubugan dagang
dan bisnis Malaysia dan Indonesia, dan khususnya kedua belah sisi Selat
Malaka, di atas permukaan berjalan biasa tanpa gangguan berarti, tapi
hubungan budaya tidak selancar seperti yang diharapkan. Kendalanya adalah
karena adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara, dan
Malaysia lebih cepat naiknya dari Indonesia. Banyak tenaga kerja yang
berdatangan dari Indonesia baik TKI dan TKW di tingkat akar rumput,
tetapi di Malaysia mendapat perlakuan yang kurang dihargai. Dan ini merembet
ke bidang budaya, yang Malaysia lalu melihat ke bawah Indonesia. Ini juga
adalah lampiasan dari ketidaksukaan hubungan di masa lalu di masa Orde Lama
di bawah Soekarno yang sebaliknya melihat rendah kepada Malaysia, dengan
serangan-serangan politik: ganyang Malaysia, dsb.
Serangan balik yang dilakukan
Malaysia yang bekelanjutan ke saat ini adalah di cecarnya Indonesia dengan
sambutan-sambutan yang sinis dan bahkan menghina, seperti penggunaan
istilah “indon” kepada warga Indonesia yang ada di Malaysia di samping
pembabatan trademark puncak-puncak
budaya Indonesia yang lalu diklaim dan bahkan dipatenkan sebagai trademark budaya Malaysia.
Sejauh ini sudah ada 200 objek warisan kebangsaan yang dipatenkan oleh
Malaysia sebagai warisan budaya mereka-termasuk makanan, seperti rendang,
dendeng, serundeng, ikan bakar, kerupuk, dodol, wajik dsb: lalu di bidang
kesenian seperti silat, wayang kulit, batik, dsb. Lalu pantun, syair, tulisan
jawi dsb. Semua itu kalau bukan berasal dari Indonesia, sekurangnyua milik bersama tapi lalu diklaim jadi milik
sendiri. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar