Pahlawan
Kesiangan
Sarlito Wirawan Sarwono ; Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia
|
KORAN
SINDO, 16 November 2014
|
Tulisan ini kesiangan. Hari Pahlawan sudah lewat, kok baru nulis
tentang pahlawan? Dalam dunia pers istilahnya ”sudah lewat momentumnya”.
Tetapi memang saya tidak bermaksud mengejar momentum, apalagi ”kejar tayang”.
Saya justru ingin melihat apa saja yang dilakukan oleh anak-anak bangsa
ini untuk memperingati Hari Pahlawan di era Revolusi Mental ini. Adakah
perubahan perilaku atau masih sama saja dengan yang dulu-dulu? Tetapi persis
seperti yang sudah saya duga, acara Hari Pahlawan masih yang itu-itu juga:
peragaan perang di Surabaya tanggal 10 November 1945.
Dengan Bung Tomo mengepalkan tangan ke atas, dan anak-anak sekolah
berpakaian ala seragam tentara rakyat yangsudahtertanamdibenak mereka, yaitu
seragam warna cokelat khaki , dengan simbol merah-putih di dada, dan ikat
kepala merah-putih terbuat dari ikat leher Pramuka (walaupun zaman itu belum
ada Pramuka). Tidak aneh, kalau keesokan harinya, pascaperingatannya, orang
sudah lupa lagi pada hari Pahlawan, apalagi pada makna kepahlawanan itu
sendiri.
Pada tahun 2008, di sebuah Kongres Psikologi Internasional di Berlin,
Jerman, saya menghadiri sebuah paparan tentang heroisme (kepahlawanan) oleh
psikolog sosial paling kondang saat ini, Dr Philip Zimbardo. Dalam paparan
yang dihadiri sekitar 1.000 psikolog sedunia itu, Dr Zimbardo menayangkan
sebuah rekaman CCTV singkat yang sangat mencekam.
Dalam CCTV itu, tampak suasana di sebuah stasiun Metro (kereta api
bawah tanah) di London, dengan sebuah kereta api sedang meluncur dari
kegelapan dan sudah terlihat lampunya akan segera masuk kawasan stasiun.
Tiba-tiba seorang balita terjatuh dari kereta dorong ibunya yang berdiri
terlalu di pinggir peron (tempat tunggu penumpang). Balita itu pun jatuh
langsung masuk di tengah-tengah dua rel yang sekejap lagi akan dilewati
kereta api.
Seketika semua orang menjerit histeris, dan tentu saja ibu yang malang
itu berteriak paling histeris. Semua panik. Sebentar lagi si balita akan
remuk digilas kereta api. Tetapi tiba-tiba sesosok laki-laki meloncat turun
dari peron ke rel dan segera bertiarap dengan memeluk balita. Sekejap
kemudian kereta api Metro menderu lewat di atas kepala mereka, dan ketika
kereta itu berhenti, balita dan laki-laki itu sama-sama selamat, tidak ada
yang terluka sedikit pun.
Pasca peristiwa itu laki-laki penolong itu diwawancara, dan ternyata
dia sendiri punya dua anak. Satu di antaranya masih balita. Ia mengatakan
bahwa tidak berpikir panjang ketika menolong balita. Spontan ia meloncat saja
untuk melindungi balita, dan akhirnya memang balita itu selamat. Dr Zimbardo
kemudian memberikan analisisnya tentang perilaku kepahlawanan.
Seorang pahlawan itu, kata Dr Zimbardo, hanya mau menolong orang lain,
atau menyelamatkan orang banyak, tanpa memikirkan keselamatan, apalagi
keuntungan untuk dirinya sendiri. Arti kepahlawanan (heroisme dari kata
Yunani kuno hero) itu sendiri adalah keberanian atau pengorbanan diri sendiri
yang ditunjukkan seseorang dalam keadaan yang sangat berbahaya, atau dari
posisinya yang sangat lemah, namun tetap berani mengambil risiko demi
kebaikan yang lebih besar untuk keseluruhan kelompok yang lebih besar atau
umat manusia.
Awalnya istilah ini hanya untuk dunia militer/ perang, tetapi
belakangan banyak digunakan dalam kaitannya dengan nilai-nilai moral. Dalam
kaitannya dengan nilai-nilai moral inilah saya dan beberapa teman dari sebuah
kelompok WA (WhatsApp) pada hari
Senin 10 November 2014 yang lalu, menyelenggarakan sebuah diskusi kecil di
Gedung Joang, Jakarta, dengan para pemuka agama (lintas agama) untuk menggali
nilai-nilai kepahlawanan baru untuk dikembangkan ke masa yang akan datang.
Nilai kepahlawanan zaman sekarang adalah antikorupsi. Semua orang tahu
bahwa bukan barang gampang untuk tidak korupsi di tengah lingkungan yang
semua orang korupsi. Diperlukan keberanian, kenekatan, dan yang jelas
pengorbanan untuk bersikap antikorupsi di zaman sekarang.
Karena itu, tokoh-tokoh yang berani antikorupsi seperti Ahok harus kita
dorong, karena mereka itulah pahlawan yang sebenarnya. Tokoh seperti inilah
yang harus dijadikan ikon pahlawan hari ini, yaitu tokoh yang jadi fans-nya
generasi muda, bukan lagi Bung Tomo yang (dengan segala hormat kepada beliau)
sudah menjadi masa lalu.
Berdasarkan definisi Dr Zimbardo seperti di atas, siapa pun bisa
tiba-tiba menjadi pahlawan kalau ada situasi-situasi yang mendadak mendesak
seperti yang dialami bapak penolong tadi. Dengan definisi Dr Zimbardo, setiap
orang bisa jadi pahlawan asalkan dia mau mengorbankan dirinya sendiri untuk
kepentingan yang lebih besar atau orang lain.
Namun, tampaknya bukan itu yang dipahami oleh para penggembira di perayaan
10 November 2014 yang baru lalu di Jakarta. Di ruangan lain dari Gedung
Joang, ada beberapa ibu yang katanya mau demo ke salah satu direktorat
jenderal, karena katanya rumah salah satu ibu itu digusur oleh instansi
ditjen itu, padahal ibu itu janda pahlawan yang mendapat bintang jasa dari
pemerintah.
Di jalanan, ribuan buruh berdemo minta kenaikan UMR, karena mereka
merasa sudah berjasa bekerja untuk negeri ini sehingga layaklah kalau upahnya
dinaikkan. Dan, lebih banyak lagi anggota ormas yang berdemo karena merasa
sudah menertibkan Ibu Kota dari kemaksiatan sehingga merasa dirinya sudah
jadi pahlawan dan menuntut agar Ahok turun dari jabatan gubernur DKI.
Seperti itulah orang-orang Indonesia yang merayakan Hari Pahlawan.
Mereka merasa dirinya adalah pahlawan, padahal tidak ada pahlawan yang merasa
dirinya sendiri pahlawan, kecuali pahlawan kesiangan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar