Muncul,
Menang, dan Meredup
Wisnu
Nugroho ; Wartawan
Kompas
|
KOMPAS,
18 Mei 2014
|
Melihat
Partai Demokrat yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2001 dan kini diketuainya
seperti melihat satu lintasan matahari. Mulai terlihat sinarnya pada Pemilu
2004, terang benderang pancar cahayanya di Pemilu 2009, dan saat ini meredup
seperti senja di Pemilu 2014.
Lintasan
matahari yang tengah dilalui Partai Demokrat ini memang seperti hukum alam
yang tidak bisa dilawan. Hukum alam itu dilahirkan gerakan reformasi soal
pembatasan masa jabatan presiden maksimal dua periode dalam konstitusi.
Secara sederhana, hukum alam itu adalah larangan bagi Yudhoyono melanjutkan
pemerintahan di periode ketiga.
Karena
ini, meskipun perolehan suara di Pemilu 2014 lebih tinggi dari Pemilu 2004,
Demokrat tidak punya banyak ruang gerak. Dengan suara 7,45 persen pada Pemilu
2004, Demokrat lebih bersinar dan memikat dibandingkan dengan perolehan suara
10,19 persen di Pemilu 2014.
Seperti
terang benderang di Pemilu 2009 yang tidak datang tiba-tiba, begitu juga
redupnya senja pada Pemilu 2014. Sebagai politisi yang rasional dan percaya
instrumen modern untuk mengukur suhu publik, Yudhoyono percaya betul dengan
hasil survei dengan metodologi yang benar. Dengan survei, senja bagi Demokrat
sebenarnya sudah terasa medio 2011 saat muncul kasus korupsi yang melibatkan
Bendahara Umum Demokrat M Nazaruddin. Kasus korupsi ini ternyata tidak
berdiri sendiri. Sejumlah elite, juga bintang iklan anti korupsi, Demokrat
terseret. Puncak seretannya ada pada Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum, pada akhir 2012.
Berdasarkan
survei Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani Research and Consulting, dan
Indikator, kasus korupsi inilah yang menyeret Demokrat ke posisi paling
rendah sepanjang sejarahnya sebagai partai penguasa. Tiga kali menaikkan
harga bahan bakar minyak pada periode pertama memang menurunkan elektabilitas
Demokrat hingga 9 persen. Namun, kasus korupsi yang merebak di periode kedua
membuat elektabilitas Demokrat terjun hingga 8 persen (Desember 2012).
Berbekal
rasionalitas ini, Yudhoyono mengambil langkah politik lantaran
langkah-langkah ekonomi untuk menaikkan elektabilitas tidak berbuah. Karena
kasus korupsi, kondisi ekonomi yang membaik dengan sejumlah capaian tak
menaikkan elektabilitas Demokrat.
Menahan dan menaikkan
Banyak
pihak mempertanyakan langkah politik Yudhoyono, Presiden RI dua periode, yang
”turun” menjadi Ketua Umum Partai Demokrat setelah Anas berhenti setelah jadi
tersangka kasus korupsi. Namun, langkah ini terbukti membawa hasil positif.
Dalam waktu satu tahun, Yudhoyono tidak hanya mampu menahan merosotnya
elektabilitas, tetapi juga menaikkannya. Memang tidak setinggi Pemilu 2009 dengan
20,85 persen. Namun, hasil 10,19 persen di tengah hantaman kasus korupsi dan
minimnya dukungan dana bukan hasil yang buruk.
Tidak
hanya ”turun” sendiri, Yudhoyono juga menurunkan banyak pejabat yang bersinar
untuk mendongkrak elektabilitas Demokrat pada Pemilu 2014. Sebelas orang
terdiri atas pejabat dan mantan pejabat ”turun” menjadi peserta konvensi
calon presiden Partai Demokrat. Meskipun tidak mampu menghasilkan pemenang
yang bisa bersaing secara seimbang dengan capres lain, konvensi adalah upaya
gigih melawan senja agar tidak datang pada hari pencoblosan. Kehadiran 11
tokoh konvensi yang relatif bersih sedikit menghapus ingatan pemilih soal
kasus korupsi di jajaran elite Demokrat yang berlanjut bahkan sampai saat
ini.
Namun,
selamat di perolehan 10,19 persen tidak membuat Demokrat terlihat menggeliat
menatap Pemilu Presiden 2014. Dengan syarat harus memiliki 20 persen suara
nasional atau 25 persen kursi di DPR, upaya memajukan capres sendiri langsung
terganjal. Selain itu, konvensi yang dilaksanakan delapan bulan dengan
pemenang Dahlan Iskan tidak cukup kompetitif dengan capres lain, yaitu Joko
Widodo (PDI-P) dan Prabowo Subianto (Gerindra). Jika disandingkan,
elektabilitas Dahlan dalam sejumlah survei sekitar 3 persen, sementara Jokowi
40 persen dan Prabowo (30 persen.
Rasionalitas
survei inilah yang membuat Yudhoyono merasa terbatasi pilihan langkahnya dan
tahu diri menatap Pilpres 2014. Pilihan membuka poros ketiga memang terbuka
saat komunikasi intensif dengan Partai Golkar yang sudah mendeklarasikan
Aburizal Bakrie sebagai capresnya. Namun, Yudhoyono adalah politisi rasional
dan tahu betul lembaga survei mana yang bisa dipercaya. Sekali lagi,
elektabilitas adalah ganjalannya.
Di
antara keterbatasan pilihan di ujung lintasan matahari itu, gelap ada di
hadapan. Dalam gelap itu, bisa jadi ada purnama. Mau mengupayakan purnama
dengan poros ketiga atau menunggu fajar esok pagi dengan jadi oposisi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar