Rabu, 17 Juni 2026

 

Berapa Lama Kenaikan Suku Bunga BI Menarik Modal Asing

Caesar Akbar :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Investor asing mengurangi kepemilikan SBN dan saham di pasar keuangan Indonesia.

 

·      Rupiah sempat menembus 18 ribu per dolar Amerika Serikat lalu turun setelah BI menaikkan suku bunga.

 

·      Meski IHSG dan rupiah sempat menguat, kepercayaan pasar terhadap Indonesia belum stabil.

 

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap terbang ke Cina dan Inggris setelah berhari-hari membahas target penerimaan negara, defisit anggaran, dan asumsi ekonomi tahun depan bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Di dua negara itu, Purbaya akan menemui investor untuk mempromosikan surat berharga negara (SBN) Indonesia.

 

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro, lawatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas basis investor surat utang Indonesia. “Kunjungan ke Tiongkok dan Eropa merupakan bagian dari kegiatan investor engagement,” kata Deni kepada Tempo pada Kamis, 11 Juni 2026. Selain memperkuat hubungan dengan investor lama, pemerintah berupaya menjaring pembeli baru SBN di kedua kawasan tersebut.

 

Langkah itu dilakukan di tengah berkurangnya kepemilikan asing pada SBN. Data Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan nonresiden pada SBN turun dari Rp 878,8 triliun pada Januari menjadi Rp 863,2 triliun pada akhir Mei 2026. Tak hanya berkurang, komposisi kepemilikannya pun bergeser.

 

Kepemilikan asing pada SBN berjatuh tempo kurang dari satu tahun melonjak dari Rp 45,9 triliun pada Januari menjadi Rp 71 triliun pada Mei. Sebaliknya, kepemilikan pada tenor di atas sepuluh tahun menyusut dari Rp 160,6 triliun menjadi Rp 126,2 triliun pada periode yang sama.

 

Pada saat yang sama, data imbal hasil SBN menunjukkan fenomena tak biasa: yield surat berharga dengan tenor pendek lebih tinggi ketimbang tenor panjang. Fenomena yang disebut inverted yield curve ini terjadi antara lain pada 5 Juni 2026, ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor satu tahun mencapai 7,21 persen, lebih tinggi dibanding tenor sepuluh tahun yang berada di level 6,9 persen.

 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies atau Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor. Pada kondisi normal, imbal hasil surat utang jangka panjang biasanya lebih tinggi dibanding tenor pendek. “Di Amerika Serikat, inverted yield curve kerap dipandang sebagai salah satu indikator yang mendahului perlambatan ekonomi,” tutur Bhima.

 

Karena itu, kemunculan inverted yield curve menjadi perbincangan di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Namun, dalam konferensi pers APBN Kita pada Jumat, 5 Juni 2026, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa kurva imbal hasil yang terbalik merupakan sinyal resesi.

 

Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan imbal hasil instrumen jangka pendek melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Bukan menggambarkan resesi, karena enggak pure market condition yang menjalankan itu,” ujar Purbaya berusaha mengklarifikasi.

 

Berbeda dengan SBN, kepemilikan asing di SRBI justru naik. Data Bank Indonesia menunjukkan posisi nonresiden pada instrumen tersebut naik hampir dua kali lipat, dari Rp 114,1 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 216,5 triliun pada Mei 2026.

 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai fenomena inverted yield curve tidak bisa dipandang semata sebagai dampak kebijakan moneter.

 

Menurut dia, inversi kurva imbal hasil mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di pasar. Investor mulai khawatir akan prospek pertumbuhan ekonomi, tekanan terhadap rupiah, serta kualitas fiskal ke depan sehingga meminta imbal hasil lebih tinggi untuk tenor jangka pendek.

 

“Saat ini sinyal yang muncul lebih mengarah pada penurunan kepercayaan pasar daripada indikasi resesi,” kata Rizal kepada Tempo.

 

Selain pada SBN, tekanan terlihat di pasar saham. Hingga Kamis, 11 Juni 2026, investor asing membukukan penjualan bersih Rp 67,6 triliun di Bursa Efek Indonesia.

 

Tekanan di pasar keuangan juga tecermin pada nilai tukar rupiah. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor sempat menyentuh Rp 18.171 per dolar Amerika Serikat pada Senin, 8 Juni 2026, level terlemah sepanjang tahun ini, sebelum kembali menguat tipis dalam beberapa hari berikutnya.

 

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026. Keputusan itu memperpanjang siklus pengetatan moneter yang dimulai pada 21 Mei 2026, ketika bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 50 basis point.

 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut diambil setelah bank sentral mengevaluasi perkembangan nilai tukar rupiah yang melemah lebih dalam dibanding perkiraan. Menurut dia, kenaikan suku bunga diperlukan untuk memperkuat stabilitas rupiah, menjaga sasaran inflasi 2026 dan 2027, serta meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.

 

Kenaikan suku bunga acuan yang ditempuh dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan itu di luar kebiasaan. Bank Indonesia biasanya mengumumkan perubahan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan. Keputusan tersebut pun sempat mengejutkan pelaku pasar.

 

Kendati demikian, sinyal pengetatan kebijakan moneter sebenarnya telah disampaikan beberapa hari sebelumnya. Dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Sabtu, 6 Juni 2026, Perry mengungkapkan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia telah menyepakati dua langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pertama, meningkatkan daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik guna menarik kembali aliran modal asing. Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.

 

Sejumlah indikator pasar menunjukkan perbaikan setelah kenaikan suku bunga tersebut. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan rupiah ditutup menguat ke level 17.865 per dolar pada Jumat, 12 Juni 2026, dibanding 18.010 per dolar sepekan sebelumnya.

 

Menurut dia, perkembangan tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia, dari kenaikan BI-Rate, penguatan struktur suku bunga SRBI, hingga peningkatan operasi moneter rupiah dan valuta asing.

 

Destry menambahkan, terdapat aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik setelah kenaikan suku bunga. Pada 10-11 Juni 2026, aliran dana asing ke SRBI dan SBN masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun. Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.

 

Perbaikan juga terlihat di pasar obligasi. Kurva imbal hasil SBN yang sebelumnya sempat terbalik kembali ke pola normal. Pada 11 Juni, imbal hasil obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun mencapai 7,44 persen, melampaui tenor satu tahun yang berada di level 7,25 persen.

 

Namun Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai perubahan tersebut belum tentu mencerminkan membaiknya persepsi investor terhadap Indonesia. Menurut dia, normalisasi kurva imbal hasil kali ini terjadi bukan karena imbal hasil tenor pendek turun, melainkan lantaran tenor panjang naik mengejar.

 

Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang tersebut, kata Josua, menunjukkan investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah. “Normalisasi kurva saat ini lebih tepat disebut sebagai normalisasi yang kurang sehat,” tutur Josua kepada Tempo.

 

Dalam kondisi yang lebih ideal, menurut dia, kurva imbal hasil kembali normal karena tekanan pada tenor pendek mereda dan investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang seiring dengan membaiknya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi.

 

Senada dengan Josua, ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan persepsi investor baru bisa dikatakan benar-benar membaik bila rupiah stabil, premi risiko menurun, dan permintaan pada lelang SBN tetap kuat tanpa harus diimbangi kenaikan yield yang berkelanjutan. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/tekanan-rupiah-sbn-suku-bunga-bi-2269046

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar