|
Berapa Lama Kenaikan Suku Bunga BI
Menarik Modal Asing Caesar Akbar : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Investor asing mengurangi kepemilikan
SBN dan saham di pasar keuangan Indonesia. · Rupiah sempat menembus 18 ribu per
dolar Amerika Serikat lalu turun setelah BI menaikkan suku bunga. · Meski IHSG dan rupiah sempat menguat,
kepercayaan pasar terhadap Indonesia belum stabil. MENTERI
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap terbang ke Cina dan Inggris setelah
berhari-hari membahas target penerimaan negara, defisit anggaran, dan asumsi
ekonomi tahun depan bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Di dua negara itu,
Purbaya akan menemui investor untuk mempromosikan surat berharga negara (SBN)
Indonesia. Menurut
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni
Surjantoro, lawatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah
memperluas basis investor surat utang Indonesia. “Kunjungan ke Tiongkok dan
Eropa merupakan bagian dari kegiatan investor engagement,” kata Deni kepada
Tempo pada Kamis, 11 Juni 2026. Selain memperkuat hubungan dengan investor
lama, pemerintah berupaya menjaring pembeli baru SBN di kedua kawasan
tersebut. Langkah
itu dilakukan di tengah berkurangnya kepemilikan asing pada SBN. Data
Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan nonresiden pada SBN turun dari
Rp 878,8 triliun pada Januari menjadi Rp 863,2 triliun pada akhir Mei 2026.
Tak hanya berkurang, komposisi kepemilikannya pun bergeser. Kepemilikan
asing pada SBN berjatuh tempo kurang dari satu tahun melonjak dari Rp 45,9
triliun pada Januari menjadi Rp 71 triliun pada Mei. Sebaliknya, kepemilikan
pada tenor di atas sepuluh tahun menyusut dari Rp 160,6 triliun menjadi Rp
126,2 triliun pada periode yang sama. Pada
saat yang sama, data imbal hasil SBN menunjukkan fenomena tak biasa: yield
surat berharga dengan tenor pendek lebih tinggi ketimbang tenor panjang.
Fenomena yang disebut inverted yield curve ini terjadi antara lain pada 5
Juni 2026, ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor satu tahun mencapai
7,21 persen, lebih tinggi dibanding tenor sepuluh tahun yang berada di level
6,9 persen. Direktur
Eksekutif Center of Economic and Law Studies atau Celios, Bhima Yudhistira
Adhinegara, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya
kehati-hatian investor. Pada kondisi normal, imbal hasil surat utang jangka
panjang biasanya lebih tinggi dibanding tenor pendek. “Di Amerika Serikat,
inverted yield curve kerap dipandang sebagai salah satu indikator yang
mendahului perlambatan ekonomi,” tutur Bhima. Karena
itu, kemunculan inverted yield curve menjadi perbincangan di kalangan pelaku
pasar dan ekonom. Namun, dalam konferensi pers APBN Kita pada Jumat, 5 Juni
2026, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa kurva imbal hasil
yang terbalik merupakan sinyal resesi. Menurut
dia, kondisi tersebut dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan
imbal hasil instrumen jangka pendek melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia
(SRBI). “Bukan menggambarkan resesi, karena enggak pure market condition yang
menjalankan itu,” ujar Purbaya berusaha mengklarifikasi. Berbeda
dengan SBN, kepemilikan asing di SRBI justru naik. Data Bank Indonesia
menunjukkan posisi nonresiden pada instrumen tersebut naik hampir dua kali
lipat, dari Rp 114,1 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 216,5 triliun pada
Mei 2026. Kepala
Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and
Finance atau Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai fenomena inverted yield
curve tidak bisa dipandang semata sebagai dampak kebijakan moneter. Menurut
dia, inversi kurva imbal hasil mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di
pasar. Investor mulai khawatir akan prospek pertumbuhan ekonomi, tekanan
terhadap rupiah, serta kualitas fiskal ke depan sehingga meminta imbal hasil
lebih tinggi untuk tenor jangka pendek. “Saat
ini sinyal yang muncul lebih mengarah pada penurunan kepercayaan pasar
daripada indikasi resesi,” kata Rizal kepada Tempo. Selain
pada SBN, tekanan terlihat di pasar saham. Hingga Kamis, 11 Juni 2026,
investor asing membukukan penjualan bersih Rp 67,6 triliun di Bursa Efek
Indonesia. Tekanan
di pasar keuangan juga tecermin pada nilai tukar rupiah. Kurs referensi
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor sempat menyentuh Rp 18.171 per
dolar Amerika Serikat pada Senin, 8 Juni 2026, level terlemah sepanjang tahun
ini, sebelum kembali menguat tipis dalam beberapa hari berikutnya. Di
tengah tekanan terhadap nilai tukar itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga
acuan sebesar 25 basis point menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026.
Keputusan itu memperpanjang siklus pengetatan moneter yang dimulai pada 21
Mei 2026, ketika bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 50 basis point. Gubernur
Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut diambil setelah
bank sentral mengevaluasi perkembangan nilai tukar rupiah yang melemah lebih
dalam dibanding perkiraan. Menurut dia, kenaikan suku bunga diperlukan untuk
memperkuat stabilitas rupiah, menjaga sasaran inflasi 2026 dan 2027, serta
meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing. Kenaikan
suku bunga acuan yang ditempuh dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan itu di
luar kebiasaan. Bank Indonesia biasanya mengumumkan perubahan suku bunga
dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan. Keputusan tersebut pun sempat mengejutkan
pelaku pasar. Kendati
demikian, sinyal pengetatan kebijakan moneter sebenarnya telah disampaikan
beberapa hari sebelumnya. Dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco
Ahmad dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Sabtu, 6 Juni 2026,
Perry mengungkapkan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia telah menyepakati dua
langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pertama, meningkatkan
daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik guna menarik kembali aliran
modal asing. Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan
perbankan. Sejumlah
indikator pasar menunjukkan perbaikan setelah kenaikan suku bunga tersebut.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan rupiah
ditutup menguat ke level 17.865 per dolar pada Jumat, 12 Juni 2026, dibanding
18.010 per dolar sepekan sebelumnya. Menurut
dia, perkembangan tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran
kebijakan Bank Indonesia, dari kenaikan BI-Rate, penguatan struktur suku
bunga SRBI, hingga peningkatan operasi moneter rupiah dan valuta asing. Destry
menambahkan, terdapat aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik
setelah kenaikan suku bunga. Pada 10-11 Juni 2026, aliran dana asing ke SRBI
dan SBN masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun.
Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap
aset-aset Indonesia. Perbaikan
juga terlihat di pasar obligasi. Kurva imbal hasil SBN yang sebelumnya sempat
terbalik kembali ke pola normal. Pada 11 Juni, imbal hasil obligasi
pemerintah tenor sepuluh tahun mencapai 7,44 persen, melampaui tenor satu
tahun yang berada di level 7,25 persen. Namun
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai perubahan tersebut belum
tentu mencerminkan membaiknya persepsi investor terhadap Indonesia. Menurut
dia, normalisasi kurva imbal hasil kali ini terjadi bukan karena imbal hasil
tenor pendek turun, melainkan lantaran tenor panjang naik mengejar. Kenaikan
imbal hasil obligasi jangka panjang tersebut, kata Josua, menunjukkan
investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat
utang pemerintah. “Normalisasi kurva saat ini lebih tepat disebut sebagai
normalisasi yang kurang sehat,” tutur Josua kepada Tempo. Dalam
kondisi yang lebih ideal, menurut dia, kurva imbal hasil kembali normal
karena tekanan pada tenor pendek mereda dan investor kembali masuk ke
obligasi jangka panjang seiring dengan membaiknya kepercayaan terhadap
kondisi ekonomi. Senada
dengan Josua, ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy
Manilet, mengatakan persepsi investor baru bisa dikatakan benar-benar membaik
bila rupiah stabil, premi risiko menurun, dan permintaan pada lelang SBN
tetap kuat tanpa harus diimbangi kenaikan yield yang berkelanjutan. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/tekanan-rupiah-sbn-suku-bunga-bi-2269046 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar