Rabu, 07 Agustus 2013

Penyempitan Makna Mudik

Penyempitan Makna Mudik
Andi Andrianto ;  Pegiat di Mozaik Institute Yogyakarta
SUARA KARYA, 06 Agustus 2013

Mudik Lebaran menjadi fenomena sosiologis setiap tahun di Indonesia. Rasanya puasa dan Lebaran belum lengkap tanpa melakukan mudik bersama keluarga di kampung halaman. Tidak heran, berbagai ruang publik seperti stasiun kereta api, terminal, pelabuhan, bandara udara, jalan raya dipadati pemudik. Kondisi itu terjadi pula pada mudik Lebaran 1434 Hijriyah tahun ini.

Apakah pemudik mengerti makna mudik yang sebenarnya? Bagaimana akar sejarah atau akar sosiologis Lebaran dipahami? Pertanyaan fundamental tersebut menjadi penting agar kebiasaan mudik tidak dilakukan sebatas ikut-ikutan tren dan kita menjadi 'korban' ketidaktahuan budaya sehingga tradisi itu menjadi kering dan hampa makna.

Kebanyakan orang melakukan mudik Lebaran tidak dilandasi pemahaman tentang makna mudik yang sebenarnya. Mudik dilakukan tanpa didasari makna filosofi. Tidak ayal bila mudik lebih didorong oleh pergaulan sosial.

Spirit mudik Lebaran lebih didorong budaya modern dengan sekian banyak kamuflase. Mudik Lebaran bukan dilandasi pemahaman mendalam dan jernih tentang apa makna spiritual mudik.

Mudik secara etimologis bermakna berlayar ke udik atau pergi ke hulu sungai. Kini, mengapa mudik dimaknai pulang kampung? Dalam beberapa kamus, seperti Kamus Indonesia Ketjil, E St Harahap (1943), Malei sWoordenboek, Van Ronkel (1946), Logat Ketjil Bahasa Indonesia, Poerwadarminta (1948), yang dikembangkan menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia (I: 1953), IV: 1966), mudik dimaknai "berlayar atau pergi ke udik (ke hulu sungai)". Dalam Ensiklopedi Indonesia (Mulia dan Hidding, 1957), entri mudik tak terdapat di sana. Artinya, kata itu tak dianggap penting. Artinya, mudik belum dianggap sebagai fenomena sosial.

Adalah Poerwadarminta (1976) yang menambahkan bahwa mudik (dari bahasa Betawi) sebagai pulang ke desa atau ke dusun dengan contoh kalimat: "Tiga hari sebelum Lebaran, sudah banyak orang yang mudik." Itu artinya baru pada tahun 1976 istilah mudik lekat dengan kebiasaan pulang ke kampung saat Lebaran. Kamus-kamus lain yang terbit sesudah tahun 1976 memuat entri mudik dalam dua makna, yaitu (berlayar pergi, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman) dan pulang kampung halaman, lantaran merujuk kamus Poerwadarminta itu.

Sebelum tahun 1970-an, kata mudik belum dimaknai sebagai pulang kampung halaman. Bahkan mudik tidak ada kaitannya dengan Lebaran. Ketika itu, mudik dan Lebaran adalah dua peristiwa yang tidak ada hubungannya. Pertanyaannya: kapan mulanya mudik mengalami penyempitan makna menjadi pulang ke kampung halaman yang lalu berkaitan dengan Lebaran? (Maman S Mahayana, 2011).

Inilah persoalan mendasar atas makna maupun fenomena mudik Lebaran. Mudik Lebaran sejalan dengan perubahan dan dinamika zaman telah mengalami pergeseran atau penyempitan makna luar biasa. Masyarakat kemudian mengartikan mudik menjadi dangkal serta hampa makna (baca: kering spiritualitas). Kebanyakan orang lebih mudah memahami mudik tak lebih diartikan bahkan sebatas dilekatkan dengan pulang kampung di desa dan Lebaran. Tidak ada makna lebih dalam yang disematkan terhadap mudik Lebaran sebagaimana disebutkan di atas tentang arti mudik.

Akibatnya cukup fatalistik. Walhasil mudik dilakukan setiap tahun hanya menjadi bagian fenomena sosial biasa. Tak lebih dari itu. Kalimat lain, orang mudik Lebaran sebatas tidak enak dengan tetangga karena mereka melakukan mudik. Sisi lain, tentang makna filosofis, apalagi makna religius mudik Lebaran belum dimengerti secara utuh dan komprehensip.

Pemudik belum menjiwai makna etimologi, makna sosial, apalagi teologis mudik sehingga spiritualitas mudik tidak menyatu ke dalam kegiatan mudik Lebaran. Pesan moral mudik misalkan saja tentang arti pertemuan dengan keluarga dan membangun ikatan kultural kekeluargaan, mengikat harmonisasi serta kebersamaantidak menjadi bagian integral secara hakiki dalam tradisi mudik Lebaran.

Orang kemudian lebih mengartikan mudik Lebaran tidak ubahnya akibat kebudayaan pop yang membentuk cara berpikir dan berperilaku masyarakat modern. Artinya, manusia modern melakukan mudik Lebaran seperti latah saja. Hanya sebatas itu.


Cara berpikir sempit dan instan korban budaya popera modern. Problem sosial mudik ini sejatinya menjadi bahan koreksi dan introspeksi bersama komponen masyarakat. Ini penting, supaya makna mudik lebih ditafsirkan dalam makna sebenarnya. Jika sudah seperti itu, semoga saja tradisi mudik Lebaran tahun depan menjadi lebih bermakna. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar