|
Mudik Lebaran
menjadi fenomena sosiologis setiap tahun di Indonesia. Rasanya puasa dan
Lebaran belum lengkap tanpa melakukan mudik bersama keluarga di kampung
halaman. Tidak heran, berbagai ruang publik seperti stasiun kereta api,
terminal, pelabuhan, bandara udara, jalan raya dipadati pemudik. Kondisi itu
terjadi pula pada mudik Lebaran 1434 Hijriyah tahun ini.
Apakah pemudik mengerti makna
mudik yang sebenarnya? Bagaimana akar sejarah atau akar sosiologis Lebaran
dipahami? Pertanyaan fundamental tersebut menjadi penting agar kebiasaan mudik
tidak dilakukan sebatas ikut-ikutan tren dan kita menjadi 'korban'
ketidaktahuan budaya sehingga tradisi itu menjadi kering dan hampa makna.
Kebanyakan orang melakukan mudik
Lebaran tidak dilandasi pemahaman tentang makna mudik yang sebenarnya. Mudik
dilakukan tanpa didasari makna filosofi. Tidak ayal bila mudik lebih didorong
oleh pergaulan sosial.
Spirit mudik Lebaran lebih
didorong budaya modern dengan sekian banyak kamuflase. Mudik Lebaran bukan
dilandasi pemahaman mendalam dan jernih tentang apa makna spiritual mudik.
Mudik secara etimologis bermakna
berlayar ke udik atau pergi ke hulu sungai. Kini, mengapa mudik dimaknai pulang
kampung? Dalam beberapa kamus, seperti Kamus Indonesia Ketjil, E St Harahap
(1943), Malei sWoordenboek, Van Ronkel (1946), Logat Ketjil Bahasa Indonesia,
Poerwadarminta (1948), yang dikembangkan menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia
(I: 1953), IV: 1966), mudik dimaknai "berlayar atau pergi ke udik (ke hulu
sungai)". Dalam Ensiklopedi Indonesia (Mulia dan Hidding, 1957), entri
mudik tak terdapat di sana. Artinya, kata itu tak dianggap penting. Artinya,
mudik belum dianggap sebagai fenomena sosial.
Adalah Poerwadarminta (1976) yang
menambahkan bahwa mudik (dari bahasa Betawi) sebagai pulang ke desa atau ke
dusun dengan contoh kalimat: "Tiga hari sebelum Lebaran, sudah banyak
orang yang mudik." Itu artinya baru pada tahun 1976 istilah mudik lekat
dengan kebiasaan pulang ke kampung saat Lebaran. Kamus-kamus lain yang terbit
sesudah tahun 1976 memuat entri mudik dalam dua makna, yaitu (berlayar pergi,
pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman) dan pulang kampung halaman, lantaran
merujuk kamus Poerwadarminta itu.
Sebelum tahun 1970-an, kata mudik
belum dimaknai sebagai pulang kampung halaman. Bahkan mudik tidak ada kaitannya
dengan Lebaran. Ketika itu, mudik dan Lebaran adalah dua peristiwa yang tidak
ada hubungannya. Pertanyaannya: kapan mulanya mudik mengalami penyempitan makna
menjadi pulang ke kampung halaman yang lalu berkaitan dengan Lebaran? (Maman S
Mahayana, 2011).
Inilah persoalan mendasar atas
makna maupun fenomena mudik Lebaran. Mudik Lebaran sejalan dengan perubahan dan
dinamika zaman telah mengalami pergeseran atau penyempitan makna luar biasa.
Masyarakat kemudian mengartikan mudik menjadi dangkal serta hampa makna (baca:
kering spiritualitas). Kebanyakan orang lebih mudah memahami mudik tak lebih
diartikan bahkan sebatas dilekatkan dengan pulang kampung di desa dan Lebaran.
Tidak ada makna lebih dalam yang disematkan terhadap mudik Lebaran sebagaimana
disebutkan di atas tentang arti mudik.
Akibatnya cukup fatalistik.
Walhasil mudik dilakukan setiap tahun hanya menjadi bagian fenomena sosial
biasa. Tak lebih dari itu. Kalimat lain, orang mudik Lebaran sebatas tidak enak
dengan tetangga karena mereka melakukan mudik. Sisi lain, tentang makna
filosofis, apalagi makna religius mudik Lebaran belum dimengerti secara utuh
dan komprehensip.
Pemudik belum menjiwai makna
etimologi, makna sosial, apalagi teologis mudik sehingga spiritualitas mudik
tidak menyatu ke dalam kegiatan mudik Lebaran. Pesan moral mudik misalkan saja
tentang arti pertemuan dengan keluarga dan membangun ikatan kultural
kekeluargaan, mengikat harmonisasi serta kebersamaantidak menjadi bagian
integral secara hakiki dalam tradisi mudik Lebaran.
Orang kemudian lebih mengartikan
mudik Lebaran tidak ubahnya akibat kebudayaan pop yang membentuk cara berpikir
dan berperilaku masyarakat modern. Artinya, manusia modern melakukan mudik
Lebaran seperti latah saja. Hanya sebatas itu.
Cara
berpikir sempit dan instan korban budaya popera modern. Problem sosial mudik ini
sejatinya menjadi bahan koreksi dan introspeksi bersama komponen masyarakat.
Ini penting, supaya makna mudik lebih ditafsirkan dalam makna sebenarnya. Jika
sudah seperti itu, semoga saja tradisi mudik Lebaran tahun depan menjadi lebih
bermakna. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar