|
MENJELANG akhir Ramadan orang disibukkan oleh pemenuhan kebutuhan
Idul Fitri. Jalanan makin padat, serta mal dan toko makin ramai dikunjungi
konsumen. Makin padatnya jalan raya tidak tanggung-tanggung.
Pada Lebaran tahun ini diprediksi 7 juta kendaraan masuk
wilayah Jateng (SM, 31/7/3), belum termasuk hilir mudiknya kendaraan di kota
atau antarkota di provinsi ini. Bagi banyak orang, Ramadan merupakan bulan
penuh berkah dalam berbagai makna. Berkah dalam arti kenikmatan spiritual saat
beribadah, membaca, atau mendengarkan tilawah ayat suci Alquran, dan saat khusyuk
berdoa.
Ada keberkahan dalam bentuk kegembiraan sosial saat
bersilaturahmi, berhalalbihalal. Kaum duafa menerima zakat dan berbagai
santunan. Pedagang pakaian dan makanan mendapat berkah sosial lewat kenaikan
omzet penjualan, di samping jasa transportasi yang lebih sibuk melayani
pemudik. Perjalanan mudik tidak saja dalam pengertian fisik.
Orang yang menempuh perjalanan menuju tempat asal, ke
kampung kelahiran, juga bisa dipahami mudik secara spiritual. Dalam konteks
itu, puasa Ramadan bisa dimaknai sebagai perjalanan mudik spiritual. Pada akhir
Ramadan, banyak sahabat Nabi Muhammad saw meneteskan air mata saat berdoa,
berharap bisa kembali dipertemukan dengan Ramadan tahun berikutnya, bisa
kembali mudik spiritual. Ada kekhawatiran, tahun berikutnya tak dapat berjumpa
dengan bulan yang penuh berkah. Sepuluh hari akhir bulan Ramadan, pada malam
tanggal gasal mereka mengintensifkan ibadah dengan beriktikaf di masjid.
Mereka berkontemplasi, berzikir, dan berdoa agar mendapat
lailatulkadar, saat Allah menentukan perjalanan hidup manusia ke depan. Yang
mendapatkan Lailatulkadar, ibarat mendapat kebaikan yang melebihi kebaikan
beribadah dalam seribu bulan (QS Al-Qadar: 3). Ramadan dapat diartikan sebagai
bulan mudik massal bagi orang beriman, perjalanan spiritual yang relatif lama,
sebulan penuh menuju tempat asal kita, menuju ke keridaan Allah.
Secara spiritual manusia berasal dari Tuhan Allah dan akan
kembali kepada-Nya. Perjalanan dimulai pada malam menjelang Ramadan, saat
muslim memulai menjalankan tarawih dan finish pada saat matahari tenggelam pada
sore hari menjelang 1 Syawal, diakhiri dengan menggemakan takbir. Kalau makna
mudik pada awalnya merupakan perjalanan di air sungai maka mudik spiritual juga
tidak lepas kaitannya dengan air.
Air yang dimaksud adalah menjalani puasa, menahan lapar dan
dahaga sejak fajar sampai matahari terbenam, dan ibadah lain seperti tarawih,
memb a c a Alquran, berdoa dan sebagainya. Proses bersih-bersih dengan
berpuasa, shalat tarawih, dan menjalankan amalan ibadah lain tersebut
disempurnakan dengan pembersihan diri melalui pembayaran zakat fitrah,
mengeluarkan makanan pokok (beras) untuk kaum duafa: 2,5 kg beras bagi yang
berpuasa dan tiap jiwa yang menjadi tanggungannya.
Secara sosial bersih-bersih itu berlanjut dengan silaturahmi,
saling memaafkan yang bisa dikemas dalam bentuk acara halalbihalal. Mudik
Sosial Mudik spiritual ini memiliki turunan dalam bentuk mudik sosial. Tiap
manusia, kecuali Nabi Adam dan Siti Hawa, pada awal proses keterwujudannya
pasti mengalami hidup di perut sang ibu 9 bulan lebih. Dalam memulai
kehidupannya setelah dilahirkan, manusia selalu dekat ibu, menikmati kehangatan
dan kasih sayang dalam dekapan ibu sambil menyedot air susu ibu untuk
kelangsungan hidup.
Proses menyusui ini sekalipun secara fisik biologis
dimaksudkan untuk asupan gizi agar fisik tumbuh sehat, realitasnya memiliki
muatan psikologi sangat mendalam, dan itu terpateri dalam jiwa bayi. Proses
tumbuh kembang tersebut berlanjut dengan besarnya perhatian orang tua dalam
mencukupi kebutuhan fisik ataupun psikologis anak.
Dalam suasana kebahagiaan saat mengakhiri mudik spiritual
selama Ramadan, kebahagiaan itu terasa tidak sempurna jika tidak dibarengi
mudik sosial, yaitu mengunjungi orang tua walaupun harus menempuh jarak sangat
jauh. Mudik secara fisik ini untuk mengobati kerinduan seorang anak yang sudah
dewasa, dan pernah 9 bulan di perut ibu, sekian tahun mendapat curahan kasih
sayang dari orang tua.
Jauhnya jarak, sulitnya perjalanan yang penuh risiko, dan
biaya tidak sedikit, tidak menyurutkan semangat untuk mudik sosial. Apa yang
hendak dicari pemudik? Bukan pamer keberhasilan setelah bekerja di perantauan
untuk membahagiakan orang tua. Kebahagiaan merayakan Idul Fitri dicapai setelah
menjalani mudik spiritual lewat ibadah puasa, dan disempurnakan dengan mudik
sosial, yakni bertemu dengan keluarga yang sekian lama terpisah, guna berbagi
kebahagiaan dan saling mendoakan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar