Jumat, 16 Agustus 2013

Langkah Rouhani dan Sikap Khomeini

Langkah Rouhani dan Sikap Khomeini
Smith Alhadar Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies
MEDIA INDONESIA, 15 Agustus 2013

PADA 3 Agustus, Ayatollah Ali Khomeini, sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, melantik Hassan Rouhani sebagai presiden Iran menggantikan Mahmoud Ahmadinejad. Rouhani, ulama reformis, memenangi pemilihan presiden pada 14 Juni dalam satu putaran. Ia mengalahkan lima kandidat lainnya yang kesemuanya berasal dari kubu konservatif, dan dekat dengan Khomeini.

Rouhani bisa menang telak karena didukung mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dan mantan Presiden Muhammad Khatami dari kubu reformis. Kedua, rakyat muak dengan Ahmadinejad dari kubu konservatif yang mengekang kebebasan rakyat, dan merusak ekonomi Iran. Ketiga, Iran semakin terisolasi dari dunia internasional akibat kebijakan luar negeri yang agresif dan peningkatan program nuklir.

Jadi, Rouhani menghadapi tantangan internal dan eksternal yang berat. Secara internal, Rouhani harus membenahi kondisi ekonomi yang amburadul saat ini. Akibat sanksi ekonomi AS dan sekutu baratnya, sekitar 20% impor minyak Iran terhenti, padahal itu sumber pendapatan luar negeri utama Iran (80%). China dan Korea Selatan, sahabat Iran, juga mengurangi impor minyak dari Iran.

Akibatnya, hal itu melambungkan inflasi Iran hingga 42% dan pengangguran meningkat hingga 4,5 juta orang. Nilai tukar riyal, mata uang Iran, terjun bebas dari 12.260 riyal per dolar AS menjadi lebih dari 30.000 riyal per dolar AS.

Tantangan internal lain adalah melonggarkan kehidupan sosial masyarakat Iran. Rouhani menjanjikan akan membebaskan kode berpakaian masyarakat yang diterapkan secara ketat oleh Ahmadinejad. Menurut Rouhani, negara tak perlu campur tangan terlalu jauh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan yang lebih bebas akan meningkatkan kreativitas bangsa dan pemerintah mendapatkan dukungan yang kuat dari rakyat. Ia juga harus menghidupkan kembali ratusan media reformis. Penutupan media sosial internet pun harus dicabut agar hubungan dengan dunia luar terbuka.

Kerja keras

Secara eksternal, Iran pun harus melakukan beberapa hal yang memungkinkan ia kembali ke masyarakat regional dan internasional. Pertama, Rouhani harus melakukan politik détente dengan negara-negara regional, terutama negara-negara Arab teluk, sebagaimana dilakukan Khatami dulu sehingga muncul saling percaya.

Dengan demikian, Iran harus menghentikan dukungan pada komunitas mayoritas penduduk Syiah (70%) di Bahrain, salah satu negara teluk, yang hingga kini masih menuntut reformasi politik pada monarki mini itu yang diperintah minoritas (30%) komunitas Arab Sunni. Dukungan Iran ini telah menimbulkan kecemasan di enam negara teluk--Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Oman-yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang kesemuanya memiliki populasi Syiah yang berkiblat ke Teheran.

Langkah lain Iran yang diperlukan negara-negara Arab, termasuk GCC, adalah menghentikan bantuan baik personel maupun senjata ke rezim Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad. Bantuan Hezbollah Libanon yang didukung Iran kepada rezim Al-Assad juga telah mengecewakan negara-negara Arab teluk.

Hal itu disadari Rouhani sehingga ia menjanjikan penarikan dukungan Iran kepada rezim Suriah. Hal lain yang harus dilakukan Teheran, baik untuk menyenangkan monarki Arab teluk, Israel, maupun AS beserta sekutu baratnya, adalah bekerja sama penuh dan transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait dengan program nuklirnya. Ketidaktransparanan Iran terkait masalah ini telah menimbulkan kecemasan re gional ataupun internasional.

Sebagai negara anggota NPT (Non-Proliferasi Senjata Nuklir), Iran memang berhak mengembangkan nuklir untuk keperluan sipil. Namun, kendala yang dibangun Iran bagi investigasi komprehensif IAEA telah menciptakan kecurigaan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk membangun senjata nuklir. 

Ketika menjadi perunding nuklir antara Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB plus Jerman--yang dikenal sebagai negara 5+1--di zaman pemerintah Khatami, Rouhani mencapai kesepakatan dengan negara 5+1 untuk menghentikan aktivitas pengayaan uranium dan semua situs nuklirnya disegel oleh IAEA.

Akan tetapi, Israel menganggap Rouhani tak punya kekuatan cukup untuk melakukan apa yang diharapkan Israel karena keputusan akhir berada di tangan Ayatollah Ali Khomeini yang konservatif. Karena itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di televisi AS CBS, dalam program Face The Nation, pada 14 Juli lalu, menyatakan Israel akan menyerang situs-situs nuklir Iran sendirian.

Sampai tingkat tertentu, Israel benar bahwa keputusan akhir terkait dengan nuklir berada di tangan Khomeini. Namun, sikap Khomeini sudah jelas bahwa ia menentang pembuatan senjata nuklir. Sebagai pemimpin spiritual tertinggi mestinya Khomeini tidak berbohong lantaran hal itu menyangkut kredibilitasnya sebagai ulama, yang kebohong annya akan berdampak luas kepada dirinya sendiri ataupun komunitas Syiah di seluruh dunia. Ia akan dipandang tidak layak menjadi pemimpin spiritual tertinggi bagi masyarakat Syiah.

Beri konsesi

Khomeini juga harus mau memberikan konsesi terhadap lawan-lawannya. Sejauh ini negara 5+1 hanya mengizinkan Iran melakukan pengayaan uranium hingga 3%, bukan 20% seperti yang dilakukan Iran sekarang. Lalu, sisa uraniumnya harus dikapalkan ke luar negeri.

Sebagai imbalan, negara 5+1 mencabut sedikit sanksi ekonomi berupa pemasokan suku cadang pesawat sipil Iran buatan AS yang sangat diperlukan Iran. Namun, negara 5+1 harus terlebih dahulu memberikan konsesi berupa pencabutan sebagian sanksi membuka jalan bagi Rouhani untuk memberikan konsesi pada negara 5+1 sebagai imbalan. Hal itu juga akan membuka ruang maneuver Rouhani bertemu langsung dengan  pemimpin AS yang sudah lama diinginkan Washington. Tanpa konsesi signifikan dari negara 5+1, Rouhani tidak dapat berbuat apa-apa.

Pertanyaannya, apakah Khomeini setuju dengan kebijakan-kebijakan reformasi yang dijanjikan Rouhani dalam kampanye? Selama ini Khomeini selalu menyeimbangkan kekuatan reformis dan konservatif. Dengan demikian, ia tidak akan memberi Rouhani ruang bergerak terlalu jauh dengan isu-isu di atas, misalnya memberi kebebasan kepada wanita Iran untuk tidak memakai jilbab, membuka kebebasan pers seluas-luasnya, termasuk membiarkan rakyat Iran memasang parabola dan menggunakan media sosial online.


Khomeini mungkin bersedia memberi konsesi pada negara 5+1 terkait dengan program nuklirnya, tapi dia tak akan setuju menghentikan program nuklir sepenuhnya, yang telah menjadi konsensus nasional. Selain itu, ia mungkin sekali tidak akan setuju mencabut dukungan pada Al-Assad, serta tak mengizinkan Rouhani bertemu dengan Presiden AS Barack Obama tanpa Washington memberikan konsesi terlebih dahulu. Kalau demikian, nasib Rouhani akan sama dengan Khatami: tidak mampu mengolah ekonomi Iran dan gagal mengeluarkan Iran dari isolasi internasional. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar