Jumat, 16 Agustus 2013

Kerancuan Konvensi Capres

Kerancuan Konvensi Capres
Marwan Mas Guru Besar Ilmu Hukum Universitas 45, Makassar
MEDIA INDONESIA, 14 Agustus 2013

RENCANA konvensi calon presiden (capres) yang digagas Partai Demokrat bisa terancam kehilangan makna dan menyulitkan gerak partai politik (parpol). Apalagi, jika tidak merevisi UU Nomor 42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (UU Pilpres) yang mengatur ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold). Dari 12 parpol secara nasional yang ikut pemilu legislatif 2014, diprediksi tidak akan ada yang bisa mendapat 20% kursi DPR atau 25% suara nasional untuk dapat sendirian mengusung capres/cawapres.

Jika presidential threshold tidak dihapus atau diperkecil, konvensi capres bisa jadi rancu sebab setiap parpol harus menunggu hasil pemilu legislatif. Parpol dipaksa untuk berkoalisi agar bisa mengusung capres. Hal ini berimplikasi pada hasil konvensi. Meskipun memilih tokoh populer dan memiliki elektabilitas, tidak ada jaminan akan diterima parpol lain. Presidential threshold yang cukup tinggi telah memasung munculnya capres alternatif, bahkan menyandera ruang gerak parpol.

Meski begitu, Partai Demokrat tetap serius, bahkan telah membentuk Komite Konvensi pada Minggu (11/8) malam yang berjumlah 17 orang dan dipimpin mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Melihat perkembangan di media, konvensi capres ini meniru cara konvensi yang pernah dilakukan Partai Golkar pada Pemilihan Presiden 2004. Memang gagasan itu cukup ideal dan setidaknya bisa mengobati kerinduan publik agar calon presidennya tidak diperam dalam karung. Sayangnya, penentuan pemenang konvensi hanya akan dipilih oleh internal partai sehingga disangsikan apakah publik akan percaya pada hasil konvensi, meskipun yang terpilih tokoh di luar Partai Demokrat.

Tokoh nonkader

Konvensi yang akan digelar Partai Demokrat memang sedikit berbeda dengan Partai Golkar yang hanya memberi kesempatan pada kadernya. Konvensi Partai Golkar saat itu memilih Wiranto sebagai kandidat capres, tetapi dalam Pemilihan Presiden 2004 tidak lolos ke putaran kedua. Kalah suara dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri yang maju bertarung ke putaran kedua. Selain tidak membuka peluang bagi tokoh luar, juga mekanismenya tertutup karena konvensi hanya ber langsung di internal partai.

Partai Demokrat memberikan peluang kepada tokoh nonkader. Misalnya, yang banyak dipublikasi seperti Jusuf Kalla dan Jokowi (tetapi keduanya membantah tidak akan ikut), Mahfud MD, Dahlan Iskan, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman, dan Rhoma Irama. Namun, yang bisa jadi batu sandungan, terletak pada mekanisme konvensi yang boleh jadi tertutup seperti konvensi Partai Golkar. Hanya sekadar jadi peserta untuk meraih pencitraan dan dukungan, tetapi pada akhirnya memilih kader sendiri atau yang sudah digadanggadang oleh Ketua Umum Partai Demokrat.

Jika konvensi betul-betul steril dari kepentingan jangka pendek seperti dijelaskan SBY, akan melibatkan rakyat dalam menyeleksi para kandidat, tentu bisa menghasilkan se suatu yang bermakna. Malah akan melibatkan tiga lembaga survei untuk menjaring pendapat masyarakat. Pola ini sedikit lebih terbuka dalam mengukur popularitas dan elektabilitas calon. Jikapun rakyat tidak secara langsung memilih calon, hasilnya bisa lebih baik karena calon yang dipilih merupakan hasil seleksi rakyat.

Namun, ada juga yang menilai bahwa Partai Demokrat me lakukan blunder poli tik jika menyertakan tokoh luar partai ikut dalam konvensi capres. Alasannya, tokoh luar dianggap tidak akan memi liki kualitas loyalitas dan tidak memahami dengan baik tentang Partai Demokrat ketimbang tokoh internal. Bahkan keberadaan mereka justru berpotensi memicu perpecahan di tubuh parpol itu. Namun, secara internal terpaksa diakui, Partai Demokrat tidak banyak pilihan lantaran banyaknya kader muda yang sebetulnya potensial, tetapi terjerat kasus korupsi. Lebih dari itu, minimnya tokoh di internal partai tidak terlepas dari buruknya pengaderan sehingga tidak ada yang bisa mendekati popularitas SBY.

Jikapun ada yang digadanggadang seperti Jenderal (purnawirawan) Pramono Edhi Wibowo, Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Ketua DPR Marzuki Alie, dua anggota dewan pembina Hayono Isman dan Achmad Mubarok, atau Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, tingkat elektabilitasnya masih sangat rendah seperti hasil survei beberapa lembaga. Secara umum kader Demokrat juga diragukan komitmennya memberantas korupsi sehingga elitenya sulit mendapat dukungan rakyat. Kalaupun kasus korupsi tidak dimonopoli kader Demokrat, publik sudah ragu oleh kampanye kader kadernya bahwa `katakan tidak pada korupsi' pada Pilpres 2009.

Hasil penelitian terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) bisa dijadikan acuan, betapa rendah tingkat kepercayaan rakyat terhadap elite dari kalangan parpol akibat kasus korupsi. Sebanyak 52% responden mengatakan elite parpol di negeri ini tidak bisa dipercaya dan diteladani. Bahkan, 65% dari responden berpendapat bahwa tokohtokoh politik itu hipokrit.

Aksesori konvensi

Kita berharap kiranya konvensi capres yang akan dilaksanakan Partai Demokrat bukan sekadar mencari sensasi atau membangun pencitraan. Kasihan tokoh-tokoh publik yang dari luar partai yang ikut konvensi jika pada akhirnya hanya ingin meraih simpati rakyat agar mendongkrak suaranya pada pemilu legislatif. Tentu akan sia-sia dan hanya membuang-buang biaya jika pada akhirnya melenceng dari substansinya. Berakhirnya era SBY, paling tidak akan merepotkan Partai Demokrat dalam membangun elektabilitas.

Bisa disebut bahwa konvensi hanya merupakan bentuk kampanye gratis Partai Demokrat di tengah keterpurukan elektabilitasnya. Apalagi, ada kabar yang menyebut, semua peserta konvensi di minta melakukan kampanye ke sejumlah daerah agar dikenal. Artinya, bukan hanya peserta konvensi yang akan populer, tetapi juga akan mengangkat popularitas dan elektabilitas Partai Demokrat.

Wajar jika banyak kalangan yang menduga-duga sebenarnya SBY telah memiliki jagoan sendiri. Pelibatan tokoh nonkader hanyalah aksesori konvensi, seolah-olah pantas menggantikan SBY. Tetapi pada akhirnya kecele lantaran harus mengikuti proses seleksi yang sudah didesain mengarah pada jagoan sang ketua umum. Apakah jagoan itu berasal dari luar partai? Jawabnya bisa iya, bisa juga tidak, bergantung pada mekanisme yang betul-betul terbuka dan demokratis.

Sekiranya Jusuf Kalla dan Jokowi bersedia ikut konvensi, diperkirakan mekanisme tertutup sekalipun akan susah menjinakkan popularitas dan elektabilitas keduanya. Akan sulit ditandingi elite internal partai, sebab dalam beberapa survei mencatat elektabilitas keduanya yang tertinggi.


Semoga konvensi tidak terjebak pada kepentingan sesaat, tetapi mampu membangun pendidikan politik bagi rakyat menuju kedewasaan berpolitik. Konvensi bisa menjadi rancu dan tidak banyak berguna jika mekanisme penyaringan ternyata sengaja didesain untuk memunculkan calon pilihan SBY. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar