Sabtu, 10 Agustus 2013

Berubah pada Hari Fitri

Berubah pada Hari Fitri
Said Aqil Siradj ;  Ketua Umum PBNU 
REPUBLIKA, 07 Agustus 2013


Sebulan sudah umat Islam menjalani puasa Ramadhan. Berbagai tantangan yang bergelegak-gelegak dalam diri, baik secara fisik maupun mental-spiritual, rasanya sudah terlewati. Apakah berjalan mulus, datar, atau beriak-riak memang bergantung pada individu masing-masing.

Kebergantungan ini bisa disebabkan oleh kondisi setiap individu. Mereka yang hidup makmur, secara fisik dalam berpuasa mungkin tidak terlalu memberatkan. Tetapi, bagi mereka yang di dera oleh ekonomi sulit, bisa-bisa merasakan getir-getir hidup yang menekan. Beruntunglah, keberhasilan berpuasa dalam ajaran Islam tidak ditentukan oleh "modal luaran", melainkan "modal penghayatan" serta dampak positif-konstruktif lanjutan terhadap perilaku individu. 

Pada Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, rasanya bangsa kita masih dihadapkan berderet persoalan nasional, seperti politik, ekonomi, krisis pangan, krisis lingkungan, kriminalitas, dan keagamaan. Semua ini telah menyodorkan "fragmen kehidupan" yang mengiriskan. Seiring dengan itu, pungli, percaloan, korupsi, dan penyimpangan kekuasaan lainnya masih saja belum terbabat secara elok dan tuntas. Tragisnya, para pelakunya justru banyak yang dekat dengan "tampilan" keagamaan. Tak ayal, beban hidup rakyat terasa tak kunjung reda. Sulitnya mencari uang, sepertinya menjadi celotehan harian dari mereka yang berada pada posisi tidak atau kurang beruntung.

Kita pun dipertontonkan oleh budaya konsumerisme yang menjadi-jadi. Perilaku konsumtif mewarnai masyarakat yang hendak melaksanakan puasa Ramadhan hingga Idul Fitri. Mobil-mobil bermerek rasanya tak pernah sepi dari pembeli. Rental mobil menjelang Lebaran sudah fully booked. Mal-mal senantiasa ramai berjubel oleh peminat yang hendak melampiaskan hasrat shopping-nya. Tayangan-tayangan televisi terus memompa hipnosis pemirsa dengan tawaran berbagai produknya. 

Melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok tampak dihadapi masyarakat secara ambigu. Masyarakat berteriak-teriak atas kian tingginya biaya hidup. Sebaliknya, pola hidup sederhana tampak masih jauh panggang dari api. Nah, ibadah sekarang tampaknya tidak lagi dimaknai sebagai pengabdian kepada Tuhan, tetapi menjadi ajang perputaran modal. Terjadilah "kapitalisasi agama" dan agama belum mampu bergerak pada penyadaran praksis-emansipatoris demi mengubah keadaan. 

Melampaui ritual Idul Fitri artinya "kembali lahir" dalam kesucian. Manusia diciptakan dalam kefitrian atau "tabula rasa". Dalam perjalanan hidupnya, manusia bertatap muka dan bergumul dengan berbagai warna-warni dunia. Ada kesedihan, tawa canda, kealpaan, kesungguhan, ketulusan, atau kemunafikan.
Semuanya menjadi "teman hidup" bagi manusia. Dan semuanya itu, tak lepas dari cara manusia untuk menyikapi. Keberadaan manusia dengan segala sifat, karakter, dan ikhtiarnya menjadi "modal kapital" untuk menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan.

Di sekitar kehidupan sehari-hari, kita menemui banyak ragam perilaku orang. Ada mereka yang berlagak angkuh, cuek terhadap lingkungan sosial atau juga ada yang santun, suka berderma, dan memiliki solidaritas yang tinggi. Masjid atau mushala yang penuh dengan jamaah mungkin saja membuat rasa bungah bagi kita. Tetapi, kita sontak kaget saat mendengar atau melihat langsung adanya sandal atau barang-barang lainnya yang hilang di masjid. Atau juga, kita mungkin menatapi seseorang yang tadinya tidak mau beribadah, tiba-tiba rajin shalat ke masjid.

Sebaliknya, kita jadi geram melihat orang yang tampak beragama, lalu menjadi pongah dan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Kita mungkin meringis melihat kesenjangan di sana-sini. Ada mereka yang hidup mewah dengan penampilan klimis. Terasa "bumi-langit" manakala kita menatapi seseorang yang gembel, compang-camping, hidup bergelandangan di bawah jembatan dan jalanan. Atau juga, seseorang yang harus berbuat kriminal hanya karena sesuap nasi. 

Inilah, kehidupan dunia yang penuh rona dan tak pernah henti dari berbagai gerak. Yang positif dan negatif, yang mashlahah maupun yang mafsadah bagaikan "saudara kembar" yang lahir dari rahim kehidupan.

Alquran sejak dini sudah mengingatkan, "Contoh-contoh dalam kehidupan ini diperuntukkan agar manusia mau bertafakkur". Ayat ini sungguh memberikan wawasan, agar apa yang terjadi dalam hidup ini selayaknya disikapi dengan bijak, tidak ceroboh, serta penuh kasih sayang dan kedamaian. 

Tetapi, kehidupan ini tidak lantas didekati secara pasif dan lembek. Alquran mengingatkan bahwa kehidupan ini harus dijalani secara aktif dan semua tindakan akan bergantung serta berpulang pada manusia sendiri. Alquran menjelaskan, "Manusia itu akan dinilai dari apa yang diusahakannya."
Di sinilah, Islam meletakkan fondasi bagi "manajemen hidup". Kenyataan dunia bisa menjadi "tipu daya" sekaligus "hikmah" bagi manusia. Manusia harus aktif baik untuk berikhtiar demi mencapai ketenteraman duniawi maupun untuk merenungi jalannya hidup agar tidak mudah terperosok dalam kealpaan.

Hidup ini sesungguhnya menjadi arena untuk "berjihad" dalam rangka pencapaian prestasi pribadi, kenyamanan hidup, dan juga ke baikan umum.
Kehidupan dunia bukan kenistaan, tetapi justru bisa menjadi kemuliaan. Sabda Nabi, "Dunia adalah tempat untuk menanam bagi akhirat." Karena itulah, jihad yang sebenarnya adalah jihad untuk memperbaiki diri yang kemudian bisa menjalar secara sosial demi kebaikan sesama (al-muta'adi afdhalu min al-qhashir). Bukan jihad dalam artian pemboman bunuh diri (intihar) dengan berdalih menghancurkan kezaliman dan demi memburu pahala akhirat. Islam sangat menentang sikap ekstrem (tatharruf) dalam segala hal, apalagi yang kemudian berakibat merusak ketentraman umum.

Di hari yang fitri ini, saatnya kita berubah secara "revolusioner" untuk mereformasi sikap dan perilaku kita. Puasa dan Idul Fitri hanyalah media untuk menjadi momentum bagi pelatihan diri (riyadhah al-nafs) dan penyucian hati (tashfiyah al-qalb). Perintah agama hanya akan menjadi "pepesan kosong" jikalau tidak ada penghayatan serta perubahan nyata yang berarti bagi pelakunya. Ia sekadar rutinitas yang dijalani setiap tahun. Inilah otokritik yang harus terus-menerus perlu kita sadari, agar ritual agama mempunyai makna yang praksis-emansipatoris.


Dan Idul Fitri kali ini kiranya dapat semakin menggugah kesadaran bersama untuk bergiat secara nyata dengan turut melempangkan jalan bagi tercapainya kedamaian dan keadilan bangsa. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar