|
Sebulan
sudah umat Islam menjalani puasa Ramadhan. Berbagai tantangan yang bergelegak-gelegak
dalam diri, baik secara fisik maupun mental-spiritual, rasanya sudah terlewati.
Apakah berjalan mulus, datar, atau beriak-riak memang bergantung pada individu
masing-masing.
Kebergantungan
ini bisa disebabkan oleh kondisi setiap individu. Mereka yang hidup makmur,
secara fisik dalam berpuasa mungkin tidak terlalu memberatkan. Tetapi, bagi
mereka yang di dera oleh ekonomi sulit, bisa-bisa merasakan getir-getir hidup
yang menekan. Beruntunglah, keberhasilan berpuasa dalam ajaran Islam tidak
ditentukan oleh "modal luaran", melainkan "modal penghayatan"
serta dampak positif-konstruktif lanjutan terhadap perilaku individu.
Pada
Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, rasanya bangsa kita masih dihadapkan
berderet persoalan nasional, seperti politik, ekonomi, krisis pangan, krisis
lingkungan, kriminalitas, dan keagamaan. Semua ini telah menyodorkan
"fragmen kehidupan" yang mengiriskan. Seiring dengan itu, pungli,
percaloan, korupsi, dan penyimpangan kekuasaan lainnya masih saja belum
terbabat secara elok dan tuntas. Tragisnya, para pelakunya justru banyak yang
dekat dengan "tampilan" keagamaan. Tak ayal, beban hidup rakyat
terasa tak kunjung reda. Sulitnya mencari uang, sepertinya menjadi celotehan
harian dari mereka yang berada pada posisi tidak atau kurang beruntung.
Kita pun
dipertontonkan oleh budaya konsumerisme yang menjadi-jadi. Perilaku konsumtif
mewarnai masyarakat yang hendak melaksanakan puasa Ramadhan hingga Idul
Fitri. Mobil-mobil bermerek rasanya tak pernah sepi dari pembeli. Rental
mobil menjelang Lebaran sudah fully
booked. Mal-mal senantiasa ramai berjubel oleh peminat yang hendak
melampiaskan hasrat shopping-nya.
Tayangan-tayangan televisi terus memompa hipnosis pemirsa dengan tawaran
berbagai produknya.
Melonjaknya
harga-harga kebutuhan pokok tampak dihadapi masyarakat secara ambigu.
Masyarakat berteriak-teriak atas kian tingginya biaya hidup. Sebaliknya, pola
hidup sederhana tampak masih jauh panggang dari api. Nah, ibadah sekarang
tampaknya tidak lagi dimaknai sebagai pengabdian kepada Tuhan, tetapi menjadi
ajang perputaran modal. Terjadilah "kapitalisasi agama" dan agama belum mampu bergerak pada penyadaran praksis-emansipatoris demi
mengubah keadaan.
Melampaui
ritual Idul Fitri artinya "kembali lahir" dalam kesucian. Manusia
diciptakan dalam kefitrian atau "tabula rasa". Dalam perjalanan
hidupnya, manusia bertatap muka dan bergumul dengan berbagai warna-warni dunia.
Ada kesedihan, tawa canda, kealpaan, kesungguhan, ketulusan, atau kemunafikan.
Semuanya menjadi "teman hidup" bagi manusia. Dan semuanya itu, tak lepas dari cara manusia untuk menyikapi. Keberadaan manusia dengan segala sifat, karakter, dan ikhtiarnya menjadi "modal kapital" untuk menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan.
Semuanya menjadi "teman hidup" bagi manusia. Dan semuanya itu, tak lepas dari cara manusia untuk menyikapi. Keberadaan manusia dengan segala sifat, karakter, dan ikhtiarnya menjadi "modal kapital" untuk menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan.
Di
sekitar kehidupan sehari-hari, kita menemui banyak ragam perilaku orang. Ada
mereka yang berlagak angkuh, cuek terhadap lingkungan sosial atau juga ada yang
santun, suka berderma, dan memiliki solidaritas yang tinggi. Masjid atau
mushala yang penuh dengan jamaah mungkin saja membuat rasa bungah bagi kita.
Tetapi, kita sontak kaget saat mendengar atau melihat langsung adanya sandal
atau barang-barang lainnya yang hilang di masjid. Atau juga, kita mungkin menatapi
seseorang yang tadinya tidak mau beribadah, tiba-tiba rajin shalat ke masjid.
Sebaliknya,
kita jadi geram melihat orang yang tampak beragama, lalu menjadi pongah dan
melakukan tindakan yang tidak terpuji. Kita mungkin meringis melihat
kesenjangan di sana-sini. Ada mereka yang hidup mewah dengan penampilan klimis.
Terasa "bumi-langit" manakala kita menatapi seseorang yang gembel,
compang-camping, hidup bergelandangan di bawah jembatan dan jalanan. Atau juga,
seseorang yang harus berbuat kriminal hanya karena sesuap nasi.
Inilah,
kehidupan dunia yang penuh rona dan tak pernah henti dari berbagai gerak. Yang positif
dan negatif, yang mashlahah maupun yang mafsadah bagaikan "saudara kembar"
yang lahir dari rahim kehidupan.
Alquran
sejak dini sudah mengingatkan, "Contoh-contoh dalam kehidupan ini
diperuntukkan agar manusia mau bertafakkur". Ayat ini sungguh memberikan
wawasan, agar apa yang terjadi dalam hidup ini selayaknya disikapi dengan
bijak, tidak ceroboh, serta penuh kasih sayang dan kedamaian.
Tetapi,
kehidupan ini tidak lantas didekati secara pasif dan lembek. Alquran
mengingatkan bahwa kehidupan ini harus dijalani secara aktif dan semua tindakan
akan bergantung serta berpulang pada manusia sendiri. Alquran menjelaskan, "Manusia
itu akan dinilai dari apa yang diusahakannya."
Di sinilah, Islam meletakkan fondasi bagi "manajemen hidup".
Kenyataan dunia bisa menjadi "tipu daya" sekaligus "hikmah"
bagi manusia. Manusia harus aktif baik untuk berikhtiar demi mencapai
ketenteraman duniawi maupun untuk merenungi jalannya hidup agar tidak mudah
terperosok dalam kealpaan.
Hidup ini
sesungguhnya menjadi arena untuk "berjihad" dalam rangka pencapaian
prestasi pribadi, kenyamanan hidup, dan juga ke baikan umum.
Kehidupan dunia bukan kenistaan, tetapi justru bisa menjadi kemuliaan. Sabda
Nabi, "Dunia adalah tempat untuk menanam bagi akhirat." Karena
itulah, jihad yang sebenarnya adalah jihad untuk memperbaiki diri yang kemudian
bisa menjalar secara sosial demi kebaikan sesama (al-muta'adi afdhalu min al-qhashir). Bukan jihad dalam artian
pemboman bunuh diri (intihar) dengan
berdalih menghancurkan kezaliman dan demi memburu pahala akhirat. Islam sangat
menentang sikap ekstrem (tatharruf)
dalam segala hal, apalagi yang kemudian berakibat merusak ketentraman umum.
Di hari
yang fitri ini, saatnya kita berubah secara "revolusioner" untuk mereformasi
sikap dan perilaku kita. Puasa dan Idul Fitri hanyalah media untuk menjadi
momentum bagi pelatihan diri (riyadhah
al-nafs) dan penyucian hati (tashfiyah
al-qalb). Perintah agama hanya akan menjadi "pepesan kosong"
jikalau tidak ada penghayatan serta perubahan nyata yang berarti bagi
pelakunya. Ia sekadar rutinitas yang dijalani setiap tahun. Inilah otokritik
yang harus terus-menerus perlu kita sadari, agar ritual agama mempunyai makna
yang praksis-emansipatoris.
Dan Idul
Fitri kali ini kiranya dapat semakin menggugah kesadaran bersama untuk bergiat
secara nyata dengan turut melempangkan jalan bagi tercapainya kedamaian dan
keadilan bangsa. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar