|
Sebuah kota ternyata bisa
bangkrut. Ekonom Edward Glaeser (2011) menyampaikan fakta-fakta yang menjadi pertanda
kebangkrutan Detroit, sebuah kota industri di Amerika Serikat.
PUDARNYA pamor
Detroit pertama-tama terlihat dari statistik penduduknya. Sejak tahun 1950
sampai 2008, populasi kota menyusut di atas satu juta orang atau sekitar 58
persen. Sepertiga penduduk Detroit hidup dalam kemiskinan. Tahun 2009, angka
pengangguran 25 persen, 9 persen lebih tinggi dari kota besar lain dan 2,5 kali
angka rata-rata nasional. Tahun 2008, Detroit adalah kota dengan tingkat
pembunuhan tertinggi di AS, sepuluh kali lebih tinggi dari New York.
Menurut Glaeser,
kebangkrutan Detroit ─yang tadinya simbol industri otomotif di AS ─karena kota
tersebut mematikan daya inovasi ekonomi kota. Perusahaan-perusahaan kecil atau
industri rumahan terpinggirkan dan diganti oleh manufaktur besar seperti pabrik
mobil Ford. Idealnya, kota tempat pembiakan ide-ide yang digerakkan perusahaan
kecil dan menengah. Pemain-pemain menengah dan kecil ini mendorong interaksi
dan peluberan pengetahuan.
Berbeda dengan
inovasi, produksi massal tidak membutuhkan manusia kreatif seperti
wirausahawan. Dalam kasus Detroit, para wirausahawan yang inovatif digantikan
pekerja-pekerja pabrik. Manufaktur dengan produk massal membutuhkan pekerja
dalam jumlah besar dan menuntut kota menyediakan fasilitas dan pelayanan yang
juga besar, misalnya penyediaan perumahan dalam skala besar. Ketika aktivitas
ekonomi menurun, kota tetap harus menyediakan pelayanan dengan biaya sama.
Inilah awal kebangkrutan kota.
Ketika Detroit
menurun, respons manajer kota tidak tepat. Bukannya membangun daya ekonomi baru
dengan membiakkan perusahaan-perusahaan kecil, Detroit malah membangun gedung
dan proyek konstruksi skala besar yang bersifat simbolik: lapangan tim hoki
Detroit Red Wing, Renaissance Centre, dan kawasan baru untuk pabrik Ford.
Padahal, Henry Ford justru memulai pembuatan mobilnya di rumah pertanian
keluarga.
Di Detroit, Ford
berhasil membuat perakitan mobil skala besar dengan memanfaatkan tenaga kerja
kurang terampil. Namun, tenaga kerja kurang
terampil dalam jumlah besar kemudian menjadi masalah untuk pembangunan ekonomi kota dalam jangka panjang.
terampil dalam jumlah besar kemudian menjadi masalah untuk pembangunan ekonomi kota dalam jangka panjang.
Inovasi dan kota
Pengaruh Revolusi
Industri terhadap pertumbuhan kota-kota modern memperkuat kenyataan bahwa kota
dideterminasi oleh kapitalisme. Kota-kota besar dunia adalah pusat aktivitas
ekonomi kapitalis. Oleh karena itu, manajer kota perlu memiliki kesadaran untuk
selalu siap ”bernegosiasi”: mengambil manfaat terbanyak demi pemangku
kepentingan kota. Dengan demikian, pilihan kebijakannya sejalan dengan kesepakatan
para pemangku kepentingan.
Kota juga sangat
dipengaruhi perkembangan teknologi. Penemuan teknologi transportasi menjadikan
jarak kurang menjadi masalah. Perkembangan ICT (Information and Communications Technology) juga akan mendeterminasi
arah perkembangan kota. Awalnya, Singapura strategis berkat lokasinya secara
geografis. Saat ini, Singapura menjadi strategis karena mampu memberikan
pelayanan prima sebagai hub untuk konsumen kota, baik lokal maupun
global, sejalan dengan perkembangan ICT. Perkembangan ekonomi dan teknologi
membuat kota bersifat dinamis sehingga perlu pengelola yang dinamis penuh
inovasi.
Menurut Neo dan Chen
(2007), fondasi utama pemerintahan dinamis adalah budaya dan kapabilitas.
Pemerintah dinamis menerapkan kebijakan adaptif dengan tiga faktor utama, yaitu
berpikir ke depan (thinking ahead),
berpikir ulang (thinking again), dan
berpikir silang (thinking across),
yang harus didukung masyarakat yang disiapkan untuk perubahan serta proses
cepat dan akurat.
Manajer kota Detroit
gagal karena membiarkan matinya daya inovasi kota dengan terpinggirkannya
perusahan kecil dan menengah yang membangun path ekonomi dan daya saing
kota sejak awal. Detroit sebenarnya mendapat kesempatan berpikir ulang mengenai
arah pembangunan ekonomi kota, tetapi responsnya keliru dengan mengedepankan
pembangunan infrastruktur ketimbang manusia. Detroit juga gagal berpikir silang
dengan mencontoh keberhasilan kota New York yang bangkit sebagai kota jasa
keuangan setelah mengalami penurunan di sektor manufaktur.
Di Indonesia
Bagaimana dengan
Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia? Para manajer kota perlu
menyadari ketidakpastian dan kondisi dinamis adalah variabel melekat dalam
pembangunan kota. Kota-kota di negara tetangga, misalnya Singapura dan Kuala
Lumpur region, telah mengantisipasi masa depan dan tengah bergerak membangun
perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge-based
economy) karena bernilai tinggi. Basisnya sumber daya manusia, pusat
penelitian, infrastruktur TI, dan kerja sama dengan swasta.
Akan halnya Jakarta,
ibu kota kita masih berkutat dengan persoalan macet dan banjir. Padahal, ada
banyak masalah lain dan perlu secepatnya disikapi. Pertumbuhan penduduk yang
mulai bergeser memenuhi wilayah suburban perlu diantisipasi dengan pembangunan
infrastruktur transportasi yang memadai. Menurunnya kondisi lingkungan kota
berdampak pada kesehatan warga dan menggelembungnya anggaran kesehatan.
Ketimpangan ekonomi membuat daya beli sebagian warga lemah. Penyediaan air
bersih belum merata.
Jika masalah-masalah
di atas terus berlanjut, Jakarta bisa saja ambruk. Kemacetan Jakarta yang
menggila menyebabkan beraktivitas di kota menjadi tidak lagi ekonomis dan
lama-kelamaan kota akan ditinggalkan. Manajer kota perlu berinovasi dengan
berpikir ke depan, berpikir ulang, dan berpikir silang. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar