Sang
Demokrat atau Sutradara Tonil?
Anas Urbaningrum ; Pernah Menjadi Politikus Partai Demokrat
|
KORAN
SINDO, 03 Oktober 2014
Dari balik dinding tahanan, sayup-sayup saya mendengar hiruk-pikuk
pengesahan RUU Pilkada. Musababnya, sikap Fraksi Demokrat yang walk out (WO) menjelang voting.
Alasan Demokrat karena 10 poin perbaikan yang diusungnya tidak diterima
oleh koalisi pendukung pilkada langsung. Kekecewaan publik terhadap sikap
Demokrat, khususnya kepada Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang
Yudhoyono merebak, bahkan mengalahkan kekecewaan atas “kalahnya” pilkada
langsung dalam voting tersebut.
Bahkan saya berhipotesis, jika Demokrat ikut voting dan pilkada
langsung tetap kalah, masyarakat tidak akan sekecewa ini karena manfaat
versus mudarat pilkada langsung atau lewat DPRD adalah diskusi yang bisa
terus berkembang seiring berjalannya waktu. Metode pilkada bukanlah perkara
halal-haram yang mutlak.
Masyarakat lebih marah atas ketidakjelasan sikap. Masyarakat marah
kepada Demokrat sebagai pihak yang seharusnya bisa melakukan sesuatu,
mengambil sikap yang jelas untuk memperjuangkan suatu pilihan, tetapi
membuang kesempatan itu karena kepentingan yang
sulit diterima logika publik.
Tak Ada Pilihan
Apa yang dimaksud kepentingan yang sulit diterima publik? Kita tahu bahwa sejak lama hubungan Susilo Bambang
Yudhoyono dengan Megawati Soekarnoputri membeku. Kebekuan ini menyebabkan
SBY, selaku ketua umum Partai Demokrat dan juga presiden yang akan lengser,
kesulitan untuk membangun komunikasi dengan Jokowi-JK, baik sejak pilpres
hingga pasangan itu menjadi presiden dan wakil presiden terpilih.
SBY
tahu, dan tidak punya pilihan, kecuali mendekat kepada Jokowi-JK untuk
melancarkan proses transisi pemerintahan dan mengamankan diri dan keluarganya
di masa datang. Karena itu, sejak pilpres, Demokrat membangun
citra netral, walaupun itu pasti mengundang kekecewaan Hatta Rajasa, pasangan
Prabowo dalam pilpres yang juga mantan menteri yang paling loyal sekaligus
besan SBY.
Kita bisa menyaksikan betapa selama pilpres, Demokrat bergerak bak tari
poco-poco dari Kawanua: ke kanan lalu ke kiri lalu ke depan, goyang-goyang
sebentar, lalu kembali ke titik semula alias tidak ke mana-mana. Ada
orang-orang yang diutus ke kedua kubu, tapi setahu saya tidak terlalu
digubris, khususnya oleh kubu Jokowi-JK. Kegagalan poco-poco pada pilpres
itulah yang membuat SBY tidak punya
pilihan.
Berbeda dengan bukunya yang berjudul Selalu Ada Pilihan. SBY tahu salah satu momen terakhir yang bisa
digunakan untuk mencairkan kebekuan komunikasi dirinya dengan kubu Jokowi-JK
tinggal pengesahan RUU Pilkada. Sebagai seorang perancang skenario yang apik,
SBY sudah menjalankan permainannya sejak “tampil” di YouTube dan mengatakan
mendukung pilkada langsung. Kita membaca di media betapa pernyataan SBY
tersebut masih ditanggapi kader Demokrat sebagai gagasan, bukan perintah.
Kader Demokrat juga menganggap saat itu SBY berbicara sebagai presiden,
bukan ketua umum Partai Demokrat. Sikap Demokrat baru jelas beberapa hari
kemudian lewat konferensi pers. Yang menarik,
Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan menyatakan
pemerintah telah memasukkan 10 poin perbaikan pilkada langsung yang diajukan
Demokrat ke dalam RUU.
Masyarakat
Menilai
Ternyata “10 poin perbaikan” inilah yang dijadikan sebagai bargaining Demokrat. Ini juga yang
menjadi alasan walk out menjelang
Rapat Paripurna. Mereka berdalih bahwa 10 poin perbaikan tidak diterima oleh
forum lobi fraksi. Yang menarik jika kita membaca media, menjelang rapat,
anggota DPR RI dari PDI Perjuangan Arif Wibowo menyatakan pihaknya secara
prinsip sepakat dengan Demokrat mengenai perbaikan pilkada langsung, hanya
masih ada hal-hal kecil yang perlu dibicarakan dengan Demokrat dan fraksi-fraksi
lain.
Menurut Arif Wibowo, untuk sekarang (menjelang Rapat Paripurna)
pihaknya fokus pada hal-hal pokok. Lalu apakah Demokrat bersikap drastis
hanya karena hal-hal kecil? Seperti layaknya film India, jagoannya datang
belakangan. Seperti kita tahu, SBY kemudian menyatakan kecewa dengan proses
dan hasil rapat paripurna dan akan memperjuangkan pilkada langsung melalui
uji materi di Mahkamah Konstitusi.
SBY menyatakan akan mencari siapa dalang dibalik WO Fraksi Demokrat
menjelang voting. Belakangan
setelah kembali dari luar negeri SBY menyatakan akan menerbitkan peraturan
pemerintah pengganti undang-undang (perppu), termasuk memasukkan 10 poin
perbaikan. Terhadap materi ini, sulit dibedakan apakah SBY sedang berposisi
sebagai presiden RI atau ketua umum Partai Demokrat.
Sebagai orang yang pernah di Partai Demokrat, pernyataan
terakhir ini sangat lucu. Mereka yang
memahami struktur dan proses pengambilan keputusan di internal Demokrat paham
betul bagaimana tidak ada sehelai daun pun jatuh tanpa persetujuan SBY.
Pernyataan “mencari dalang” lebih tepat dibaca “mencari kambing hitam” agar
sinetron ini terus berlanjut. Orang awam pun bisa menilai skema permainan
ini.
Dalam kalkulasi politik pencitraan SBY, jika
skenario uji materi dikabulkan MK, maka kredit dan pujian akan
berdatangan kepadanya sebagai pahlawan demokrasi. Insiden WO Fraksi Demokrat
adalah kesalahan segelintir oknum. Apalagi, SBY punya alibi sedang berada di
luar negeri, persis ketika terjadi rapat tentang Bank Century dan beberapa
peristiwa penting lainnya ditanah air. Boleh jadi SBY mengharapkan masyarakat
lupa, siapa yang sebenarnya memperjuangkan pilkada langsung.
Jika nanti pilkada langsung diterapkan, itu akan diklaim sebagai legacy SBY. Ini juga yang akan
digunakan sebagai modal merehabilitasi hubungan dengan kubu Jokowi-JK.
Demikian halnya dengan skenario menerbitkan perppu yang dianggap sebagai
pilihan populer karena sesuai dengan selera opini publik. Jika perppu
disetujui DPR, jelas akan menjadi kredit politik penting bagi SBY.
Apalagi secara substansi, ide politik itu sejalan dengan yang
diperjuangkan oleh koalisi politik pendukung Jokowi-JK. Dengan demikian,
secara citra dapat poin, secara politik juga mendapat keuntungan. Tapi akhirnya
poco-poco tetaplah sebuah tarian hiburan. Walau SBY sudah balenggang pata-pata dan pe goyang
pica-pica, masyarakat punya penilaiannya sendiri. Ternyata penilaian itu
bukanlah tepuk tangan, apalagi standing
ovation diakhir pertunjukan.
Masyarakat sudah cerdas dan mampu mengekspresikan dirinya. Tagar #ShameOnYouSBY yang sampai menjadi trending topic dunia di Twitter hingga menarik perhatian media
internasional adalah “hadiah” sekaligus simbol
perlawanan masyarakat kepada presiden yang akan segera undur diri itu.
Sekali lagi, masyarakat lebih marah kepada ketidakjelasan dan kepalsuan
sikap, daripada terhadap sebuah kekalahan dalam suatu pertandingan yang jujur
dan fair. Inilah pelajaran penting demokrasi bagi bangsa ini.
Demokrasi memang membutuhkan demokrat sejati. Nah, yang perlu dijawab
adalah, apakah yang tersedia adalah sosok Sang
Demokrat atau sutradara tonil
(teater)? Wallahu aWallahu alam. Hanya Tuhan yang tahu. ●
-----------------------------------
KOMPAS
JUMAT, 3 OKTOBER 2014
Dari Memalukan ke Terima Kasih
Ingki Rinaldi
Tagar #TerimakasihSBY pada Jumat
(3/10) pagi, memuncaki jagat trending topic linimasa Twitter. Tagar
itu dipakai sejumlah pengguna Twitter menyusul diterbitkannya dua peraturan
pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang berhubungan dengan Undang-Undang
Pilkada.
Seperti dikutip dari laman
Kompas.com, kedua perppu tersebut adalah Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota dan Perppu Nomor 2 Tahun 2014
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
Perppu tersebut memastikan tugas
dan wewenang DPRD untuk memilih kepala daerah, yang sebelumnya diputuskan DPR
lewat inisiasi dan dukungan Koalisi Merah Putih, dihapus.
Tagar #TerimakasihSBY telah
dipergunakan sebanyak 3.004 kali selama dua jam terakhir, yang diukur sekitar
pukul 10.00 WIB oleh aplikasi Topsy. Sejumlah komentar terkait tagar tersebut
yang lalu lalang di jagat Twitter sebagian bernada ucapan terima kasih
seperti yang ada dalam tagar.
Ini seperti diutarakan Galuh C
Nusantara @gcngaluh yang menuliskan: #TerimakasihSBY terimakasih sudah
melakukan sesuatu yg sesuai dgn keinginan rakyat.
Akan tetapi, tidak sedikit pula
yang menuliskan keraguan mereka terkait langkah yang diambil SBY. Pengguna
akun @Handayani81 menulis: @SBYudhoyono Semoga tidak ada PHP atau sandiwara
lagi untuk Rakyat Indonesia dari turunnya Perpu Bapak. Amiin #TerimakasihSBY
Jeffry Shibi @jeff_shibi
mengatakan: Mungkinkah ini sandiwara memperbaiki citra partai dan diri...?
Drama yang aneh.. #MasihTrauma #TerimakasihSBY
Pengguna akun @jeken169201
menyebutkan: Sandiwara apalagi ini! #TerimakasihSBY
Dipo Alam @dipoalam49 menulis:
Stlh Presiden SBY terbitkan Perppu Pilkada Langsung dgn Perbaikan
#TerimakasihSBY ramai ucapkan terima kasih. Nanti stlh 20 Oktober lbh ramai.
Reza Juliansyah @rezaomez menulis:
Dari bilang #shameOnYouSBY ke #TerimaKasihSBY kok cepet banget yak? Wkwkwk
Selain itu,
kicauan yang cenderung tidak terkait dengan tagar #TerimakasihSBY juga juga
dipergunakan sebagian pengguna Twitter. Ini seperti dilakukan pengguna akun
@nanarinna yang menulis: Pengen ikutan mainstream pake hestek #TerimakasihSBY
tapi ga tau mau ngetwit apaan.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar