Menghitung
“Jokowi Effect’
Sunarsip ;
Ekonom The Indonesia
Economic Intelligence (IEI)
|
REPUBLIKA,
17 Maret 2014
|
Pada akhir pekan lalu, pasar
keuangan kita diberitakan bergairah. IHSG ditutup menguat 152,47 poin atau
3,23 persen ke level 4.878,64 pada perdagangan Jumat (14/3). Sedangkan, nilai
tukar rupiah ditutup menguat 0,26 persen ke level Rp 11.356 per dolar Amerika
Serikat (AS) setelah sepanjang hari itu bergerak pada kisaran Rp 11.355- Rp 11.438
per dolar AS. Posisi nilai tukar rupiah ini sekaligus menjadi level penutupan
terkuat sejak November 2013. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi
negara (SBN) 10 tahun ditutup pada level 7,89 persen atau turun satu basis
poin (bps) dari posisi pada hari sebelumnya, delapan persen.
Sejumlah analis mengaitkan
kinerja positif di pasar keuangan ini sebagai respons positif atas
pendeklarasian Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari PDIP atau
`Jokowi Effect. Ana lisis keterkaitan `Jokowi Effect' ini memiliki penguatnya
setelah pada saat yang sama, pasar keuangan di Asia mengalami penurunan,
mengikuti penurunan pasar keuangan di AS. Padahal, dalam `tradisi' pasar
keuangan kita, biasanya kalau situasi pasar keuangan global melemah,
Indonesia juga ikut melemah. Bagaimana penjelasan yang sesungguhnya? Sejauh
apa `Jokowi Effect' ini memengaruhi kinerja pasar keuangan kita?
Kinerja pasar keuangan kita
dalam dua bulan terakhir ini memang dalam kondisi yang baik. Tidak hanya
karena ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif baik, juga ditopang
oleh faktor positif dari sektor eksternal. Pada Februari, BPS mengumumkan pertumbuhan
ekonomi 2013 sebesar 5,78 persen. Meskipun menurun dibanding 2012,
pertumbuhan ini relatif lebih baik dibanding negara-negara lain. Tekanan
inflasi juga semakin menurun. Hingga Maret, inflasi kita secara tahunan (year
on year/yoy) sebesar 7,75 persen, menurun dibanding inflasi pada akhir 2013
sebesar 8,38 persen.
Sektor perdagangan luar negeri
memang masih defisit, namun tren defisitnya menurun. Di sisi lain, aliran masuk
modal asing juga terus membaik. Hingga Februari, aliran masuk portofolio
asing ke pasar keuangan kita mencapai Rp 34,6 triliun. Dengan perkembangan
positif ini, cadangan devisa kita pada Februari 2014 meningkat menjadi 102,7
miliar dolar AS. Seiring dengan positifnya fundamental ekonomi serta perbaikan
kinerja sektor eksternal tersebut, nilai tukar rupiah juga mengalami
penguatan.
Pada Februari 2014, rupiah
ditutup di level Rp 11.609 per dolar AS, menguat 5,18 persen di banding
dengan level akhir Januari 2014.
Sementara itu, kinerja pasar
modal pada Februari 2014 semakin membaik. IHSG menguat dan yield SBN menurun,
terutama didorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap ekonomi
domestik. Kinerja IHSG mencapai level 4.620,22 (28 Februari 2014) atau naik
4,6 persen dibandingkan dengan level akhir Januari 2014 sebesar 4,418,76 (30
Januari 2013). Pada Februari 2014, yield SBN secara keseluruhan turun 37,06
bps menjadi 8,23 persen dibandingkan yield Januari 2014 yang sebesar 8,60
persen.
Berdasarkan perkembangan di
atas, memang ada alasan bagi pasar keuangan kita untuk menguat. Namun, pasar ke
uangan kita juga sering mengalami anomali. Misalnya, pasar keuangan kita
sering lebih merespons sentimen negatif dibanding kinerja fundamental ekonomi
kita yang kuat. Dalam konteks `Jokowi Effect' terlihat bahwa pengaruh yang
ditimbulkannya sejatinya tidak lebih besar dibanding faktor fundamental,
seperti terlihat dari perkembangan di atas.
Sebagai contoh, penguatan rupiah
yang terjadi akibat fundamental ekonomi dalam satu bulan terakhir (sebelum
pencapresan Jokowi) menguat sebesar 5,18 persen sedangkan karena `Jokowi
Effect' hanya 0,26 persen. Kinerja IHSG dalam satu bulan terakhir menguat 4,6
persen sedangkan karena `Jokowi Effect' hanya 3,23 persen. Begitu juga, yield
SBN dalam satu bulan terakhir menurun 37,06 bps sedangkan karena `Jokowi
Effect' hanya satu bps. Pertanyaannya, apa arti dari fenomena terkait dengan
kinerja pasar keuangan kita ini?
Saya melihat bahwa pencapresan
Jokowi memang telah memunculkan sentimen positif terhadap pasar. Na mun, dengan
melihat penga ruh yang tipis tersebut, sejatinya pelaku pasar juga masih
bersikap realistis, terlihat wait and
see, sambil mencermati perkembangan ekonomi selanjutnya.
Perlu diketahui bahwa pasar
keuangan kita memang sangat dipengaruhi oleh faktor sentimen (positif maupun
negatif). Perkembangan yang terjadi di luar negeri seringkali banyak
memengaruhi keputusan perdagangan di pasar keuangan kita. Kondisi ini bisa
terjadi karena pasar keuangan kita mayoritas dikuasai oleh pemain asing, baik
di saham maupun obligasi.
Tentu, menjadi menarik ketika
pasar keuangan di negara lain jatuh (worst),
seperti yang terjadi di AS dan Asia, justru pasar keuangan kita menguat.
Namun, menjadi tidak relevan bila disimpulkan bahwa penguatan pasar keuangan
kita itu semata karena `Jokowi Effect'. Penurunan kinerja pasar keuangan
negara-negara Asia, selain dipengaruhi oleh sentimen negatif dari AS, juga disebabkan
oleh minimnya sentimen positif yang berasal dari faktor internal mereka.
Kalau kita melihat perkembangan
ekonomi yang disajikan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) melalui situsnya,
asian bonds online. - adb.org, terlihat bahwa kinerja internal ekonomi sejumlah
negara Asia memang menurun. Cina, misalnya, minggu lalu diberitakan untuk
pertama kalinya salah satu korporasinya mengalami gagal bayar surat utangnya,
di samping pertumbuhan ekonomi yang melemah. Thai land juga diberitakan
sedang mempersiapkan APBN-nya untuk 2015 yang akan defisit hingga 500 miliar
baht atau empat persen terhadap PDB-nya, naik dua kali lipat diban ding tahun
ini. Perlu dicatat, dalam beberapa bulan terakhir ini, kinerja pasar keuangan
kita memang relatif lebih baik dibanding dengan sejumlah negara Asia lainnya.
Tulisan ini ingin menegaskan
bahwa pencapresan Jokowi memang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan
kita sekalipun tipis. Setidaknya, kemunculan Jokowi sebagai capres telah
menjadi alternatif di luar calon yang telah terlebih dahulu mendeklarasikan
diri, seperti Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Prabowo.
Akan menarik lagi dicermati bila
muncul figur lain di luar Jokowi yang kini namanya telah beredar, seperti Dahlan
Iskan, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Ahmad Heryawan, dan sejumlah nama lainnya.
Dengan kata lain, masih terlalu
prematur untuk menjadikan ukuran kinerja pasar saat ini sebagai bentuk
dukungan atau penolakan terhadap salah satu capres. Terlebih lagi, kita juga
belum mengetahui bagaimana komposisi para pendamping capres (cawapres),
termasuk hasil pemilu legislatif nanti. Pelaku pasar juga akan tetap bersikap
realistis dalam menyikapi perkembangan ekonomi. Meskipun nanti muncul
kandidat capres-cawapres yang dinilai ideal, belum tentu juga akan direspons
kuat oleh pasar bila sentimen positif dari faktor fundamental tidak ada. Terlebih
lagi, situasi eksternal saat ini masih diliputi ketidakpastian, terutama
terkait dengan tapering off di AS
serta konflik Rusia-Ukraina.
Kesimpulannya, lebih baik kita
menunggu konstelasi politik pascapemilu pada 9 April serta dinamika ekonomi
domestik dan global, dibanding membuat kesimpulan dini yang sesungguhnya
bersifat sesaat. Wait and see, saya
kira itu lebih baik. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar