Yaa…Sudahlah
Samuel Mulia ; Penulis Mode dan Gaya Hidup, Penulis Kolom “Parodi”
di Kompas
|
KOMPAS,
12 Januari 2014
|
Itulah keluhan yang
dituliskan oleh seorang wanita di sosial media, pada pagi hari ketika saya
lagi bersemangatnya menyambut hari. Kemudian diikuti dengan satu kalimat yang
saya percaya juga hadir di kepala Anda dan saya ketika kekecewaan mau tak mau
harus diterima. Tuhan tahu yang terbaik. Terima kasih Tuhan.
Kusut
Keluhan dan kalimat
penutup itu membuat saya jadi berpikir, mengapa selalu demikian terjadi.
Berkeluh terus berakhir dengan Tuhan tahu yang terbaik. Seharusnya keluhan
atau kekecewaan tak perlu terjadi kalau sejak awal seseorang menyadari bahwa
Tuhan itu selalu tahu yang terbaik, bukan?
Selanjutnya, saya
sungguh tak bisa mengerti, mengapa ia berterima kasih, la wong dari
keluhannya itu saja saya bisa merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Maka
saya mulai berasumsi. Mungkin ia berterima kasih karena pada akhirnya ia bisa
berserah kepada Tuhan dan tidak lagi bersikeras menggantungkan harapan kepada
kekuatannya.
Kemudian saya
bertanya, apakah ucapannya itu benar datang dari lubuk hati yang mengerti
atau diucapkan sebagai rasa hormat kepada Tuhan, meski sejujurnya hatinya tak
rela untuk menyerah kalah?
Saya tak menemukan
jawabannya, tapi malah jadi berpikir. Apakah saya perlu mengeluh atau saya
terus berjuang dengan kesabaran, sampai apa yang saya inginkan tercapai,
karena saya tahu bahwa Tuhan bisa melakukan segala hal. Bahkan, untuk sesuatu
yang menurut manusia sudah tak masuk akal. Meski ada risikonya, saya akan
disebut manusia buta yang gila.
Atau risiko yang
sangat jamak, yaitu mendengar suara yang berbunyi kalau perjuangan saya itu
bukan sesuatu yang dikehendaki Yang Maha Kuasa, atau kamu jangan memaksa
kehendak. Tuhan lebih tahu, dan Ia tahu yang terbaik buat kamu.
Kalau saya sudah
dikuliahi soal percakapan macam itu, maka saya menjadi seperti benang kusut.
Karena suatu hari seorang teman mengatakan kepada saya bahwa dalam memohonkan
sesuatu, saya harus punya iman yang kuat, percaya bahwa Yang Maha Kuasa akan
bekerja untuk mengabulkan permohonan itu.
Ia berkata begini.
”Tetaplah berdoa meski tanda-tandanya belum terlihat. Setia sama Tuhan dan
permohonanmu itu, biarkan imanmu menyala-nyala meski keadaan sudah mustahil
untuk dikatakan bisa berhasil. Segala sesuatu tak ada yang mustahil bagi
Tuhan.”
Kemudian ia
melanjutkan lagi. ”Manusia itu terbatas, Yang Maha Kuasa itu tidak. Doa dan
imanmu itu merupakan alat melepaskan belenggu keterbatasan kemanusiaanmu.
Makanya, jangan terlalu percaya sama manusia.”
Jalan keluar
Maka saya seperti
pelanduk mati di tengah-tengah. Bingung. Apakah saya harus berjuang dengan
iman yang terlihat seperti orang gila yang buta, artinya saya sedang berjuang
bersama Tuhan, atau menyerah dengan mengatakan ya sudahlah...terima saja
kenyataan itu, sebagai bukti bahwa Tuhan sendiri yang akan mengelola
keinginan dan harapan saya.
Saya jadi ingat dalam
beberapa cerita yang saya dengar, terutama saat mendengar seseorang yang
berjuang melawan penyakit yang tak bisa lagi disembuhkan secara medis. Sebuah
penyakit yang sudah masuk ke stadium terminus. Dalam situasi ketika uang tak
bisa lagi menolong, apakah yang dilakukan manusia?
Maka sejuta cerita
yang saya dengar memiliki dua versi. Versi pertama berserah dan menerima
sepenuhnya untuk Tuhan menentukan hasil akhirnya. Dan kalaupun hasil akhirnya
tak seperti yang diharapkan, yaaa...sudahlah, terima saja. Tuhan tahu yang
terbaik.
Versi yang kedua, si
penderita menyemangati hidupnya bersama Tuhan. Jadi sebuah kerja sama aktif
antara manusia dan Tuhan. Semangat hidup itu mungkin merupakan gambaran bahwa
seseorang memercayai bahwa segala sesuatu bisa terjadi.
Oleh karena itu,
semangat hidup itu mungkin menggambarkan iman seseorang bahwa ia bisa sembuh,
bukan sebuah gambaran seseorang yang bersikeras alias ngotot untuk
sembuh. Semangat hidup itu tidak sama dengan ngotot.
Ngotot itu ngawur.
Ngotot itu buta.
Semangat hidup itu
tidak ngawur dan tidak buta. Semangat hidup itu mengetahui
sebuah
keadaan atau situasi yang mengecewakan, kemudian menerima keadaan itu,
selanjutnya memiliki keinginan untuk sembuh, dan berusaha mewujudkan
kesembuhan bersama Yang Maha Kuasa.
Jadi, semangat hidup
itu mengandung kerelaan untuk menerima situasi apa pun, menyatakan keinginan,
menunjukkan usaha, dan menunjukkan kerja sama dengan Yang Maha Kuasa. Versi
kedua itu melahirkan pendapat yang mungkin juga pernah Anda dengar bahwa
kesembuhan itu bisa juga terjadi kalau memiliki semangat hidup yang tinggi.
Maka pagi itu, setelah
bingung saya mendapat pilihan jalan keluar untuk menjalani hari-hari hidup
saya selanjutnya yang sudah pasti seperti ayunan. Pertama, saya bisa memilih
untuk ngotot. Kedua, saya memilih untuk ngotot terlebih
dahulu sampai kelelahan, kemudian memutuskan untuk menyerah dengan berucap,
yaa...sudahlah. Tuhan tahu yang terbaik.
Atau yang ketiga,
memilih dari sejak awal menjalani kehidupan yang seperti ayunan itu dengan
semangat hidup yang tinggi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar