Membongkar
Akar Mata Uang Dunia
Rene L Pattiradjawane ; Wartawan Senior Kompas
|
KOMPAS,
12 Januari 2014
|
Sepanjang
tahun 2014 akan ada fenomena baru menarik, berdampak pada perubahan struktur
ekonomi global dan menghadirkan model baru transaksi ekonomi dan perdagangan
yang belum ada presedennya. Ketika mata uang digital menjadi impian selama
dua dekade sejak ledakan eksponensial internet terjadi, Bitcoin yang dimulai
pada tahun 2009 memperoleh momentumnya ketika lembaga tradisional perbankan
di berbagai negara mulai melirik fenomena ini.
Tahun 1999,
seorang anak muda Shawn Fanning berusia 18 tahun, berhasil mengubah industri
musik selamanya ketika mengembangkan jasa digital pertukaran musik disebut
Napster. Teknologi yang disebut peer-to-peerini
memungkinkan orang memperoleh musik digital dalam kualitas sama produksi
label secara gratis, memorakporandakan keseluruhan industri musik, walaupun
akhirnya kalah di pengadilan pada tahun 2001.
Gagasan
Napster tetap hidup dalam bentuk yang kita kenal sebagai BitTorrent,
memungkinkan siapa saja memperoleh produk digital secara gratis, seperti
majalah, buku, video, musik, dan sejenisnya. Tahun 2009, gagasan ini
diwujudkan dalam bentuk mata uang digital dan pada akhir 2013 mulai muncul
mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bitcoin di Kanada, memungkinkan
penggunanya membeli produk fisik menggunakan Bitcoin.
Secara
sederhana, Bitcoin adalah nama baru digital bagi mata uang berbasis internet.
Bitcoin sendiri menjadi rumit bersamaan dengan kerumitan matematis di balik
penciptaan dan operasionalisasinya. Sama dengan mata uang fisik di dunia
nyata, Bitcoin bisa digunakan sebagai alat transaksi jual-beli maupun diolah
untuk memperoleh keuntungan, seperti halnya permainan valuta asing (valas).
Kita bisa
menggunakan Bitcoin membuat transaksi bisnis online tanpa peraturan rumit seperti biaya
jasa atau kerumitan lain ketika menerima transaksi kartu kredit. Bitcoin
adalah sepotong kode imajiner tanpa nilai intrinsik. Emas memiliki nilai
intrinsik untuk digunakan dalam perhiasan, perangkat elektronik, atau membuat
gigi emas.
Kesamaan
antara Bitcoin, emas, dan perak adalah ketiganya sama-sama langka. Bitcoin
adalah hadiah jawaban yang benar bagi persoalan matematika tertentu.
Penghargaan atas Bitcoin terbentuk karena persoalan matematika tersebut,
sehingga disebut juga sebagai crypto-currency, mata uang
terenskripsi berdasarkan algoritma matematika rumit.
Fenomena
Bitcoin dimulai tahun 2009 oleh sekelompok orang atau seseorang dengan nama
Satoshi Nakomoto, yang belum tentu orang Jepang, tetapi memiliki keahlian
kriptologi canggih di jejaring internet. Anonimitas penciptaan Bitcoin ini
menjadi populer karena mengikuti paradigma penting perkembangan digitalisasi,
privasi seseorang di internet adalah kebebasan dan kenikmatan menyeluruh para
penggunanya.
Bitcoin adalah
pola baru dalam tata hubungan internasional di era globalisasi, ketika
dominasi lembaga-lembaga tradisional seperti pemerintah, bank sentral, Bank
Dunia, Dana Moneter Internasional, dan lainnya tidak lagi didominasi mata
uang tradisional seperti dollar AS yang menguasai kehidupan dunia.
Teknologi
kriptografi menjadi bentuk baru desentralisasi kekuasaan, mampu memberikan
nilai terhadap mata uang baru yang sebanding dengan kepercayaan yang
dibangun. Dan, fenomena ini mencapai momentumnya dalam dunia keuangan dan
ekonomi hegemonik yang harus mencari bentuk barunya.
Mungkin filsuf
dan pengarang kelahiran Rusia, Ayn Rand benar menulis ”So you think money is the
root of all evil? Have you ever asked what is the root of all money?” Kalau
semua kejahatan di dunia berakar pada uang, pernahkah Anda bertanya dari mana
akar uang yang beredar di dunia? ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar