Senin, 13 Januari 2014

Yaa…Sudahlah

Yaa…Sudahlah

Samuel Mulia ;   Penulis Mode dan Gaya Hidup, Penulis Kolom “Parodi” di Kompas
KOMPAS,  12 Januari 2014
                                                                                                                        


Itulah keluhan yang dituliskan oleh seorang wanita di sosial media, pada pagi hari ketika saya lagi bersemangatnya menyambut hari. Kemudian diikuti dengan satu kalimat yang saya percaya juga hadir di kepala Anda dan saya ketika kekecewaan mau tak mau harus diterima. Tuhan tahu yang terbaik. Terima kasih Tuhan.

Kusut

Keluhan dan kalimat penutup itu membuat saya jadi berpikir, mengapa selalu demikian terjadi. Berkeluh terus berakhir dengan Tuhan tahu yang terbaik. Seharusnya keluhan atau kekecewaan tak perlu terjadi kalau sejak awal seseorang menyadari bahwa Tuhan itu selalu tahu yang terbaik, bukan?

Selanjutnya, saya sungguh tak bisa mengerti, mengapa ia berterima kasih, la wong dari keluhannya itu saja saya bisa merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Maka saya mulai berasumsi. Mungkin ia berterima kasih karena pada akhirnya ia bisa berserah kepada Tuhan dan tidak lagi bersikeras menggantungkan harapan kepada kekuatannya.

Kemudian saya bertanya, apakah ucapannya itu benar datang dari lubuk hati yang mengerti atau diucapkan sebagai rasa hormat kepada Tuhan, meski sejujurnya hatinya tak rela untuk menyerah kalah?

Saya tak menemukan jawabannya, tapi malah jadi berpikir. Apakah saya perlu mengeluh atau saya terus berjuang dengan kesabaran, sampai apa yang saya inginkan tercapai, karena saya tahu bahwa Tuhan bisa melakukan segala hal. Bahkan, untuk sesuatu yang menurut manusia sudah tak masuk akal. Meski ada risikonya, saya akan disebut manusia buta yang gila.

Atau risiko yang sangat jamak, yaitu mendengar suara yang berbunyi kalau perjuangan saya itu bukan sesuatu yang dikehendaki Yang Maha Kuasa, atau kamu jangan memaksa kehendak. Tuhan lebih tahu, dan Ia tahu yang terbaik buat kamu.

Kalau saya sudah dikuliahi soal percakapan macam itu, maka saya menjadi seperti benang kusut. Karena suatu hari seorang teman mengatakan kepada saya bahwa dalam memohonkan sesuatu, saya harus punya iman yang kuat, percaya bahwa Yang Maha Kuasa akan bekerja untuk mengabulkan permohonan itu.

Ia berkata begini. ”Tetaplah berdoa meski tanda-tandanya belum terlihat. Setia sama Tuhan dan permohonanmu itu, biarkan imanmu menyala-nyala meski keadaan sudah mustahil untuk dikatakan bisa berhasil. Segala sesuatu tak ada yang mustahil bagi Tuhan.”

Kemudian ia melanjutkan lagi. ”Manusia itu terbatas, Yang Maha Kuasa itu tidak. Doa dan imanmu itu merupakan alat melepaskan belenggu keterbatasan kemanusiaanmu. Makanya, jangan terlalu percaya sama manusia.”

Jalan keluar

Maka saya seperti pelanduk mati di tengah-tengah. Bingung. Apakah saya harus berjuang dengan iman yang terlihat seperti orang gila yang buta, artinya saya sedang berjuang bersama Tuhan, atau menyerah dengan mengatakan ya sudahlah...terima saja kenyataan itu, sebagai bukti bahwa Tuhan sendiri yang akan mengelola keinginan dan harapan saya.

Saya jadi ingat dalam beberapa cerita yang saya dengar, terutama saat mendengar seseorang yang berjuang melawan penyakit yang tak bisa lagi disembuhkan secara medis. Sebuah penyakit yang sudah masuk ke stadium terminus. Dalam situasi ketika uang tak bisa lagi menolong, apakah yang dilakukan manusia?

Maka sejuta cerita yang saya dengar memiliki dua versi. Versi pertama berserah dan menerima sepenuhnya untuk Tuhan menentukan hasil akhirnya. Dan kalaupun hasil akhirnya tak seperti yang diharapkan, yaaa...sudahlah, terima saja. Tuhan tahu yang terbaik.

Versi yang kedua, si penderita menyemangati hidupnya bersama Tuhan. Jadi sebuah kerja sama aktif antara manusia dan Tuhan. Semangat hidup itu mungkin merupakan gambaran bahwa seseorang memercayai bahwa segala sesuatu bisa terjadi.

Oleh karena itu, semangat hidup itu mungkin menggambarkan iman seseorang bahwa ia bisa sembuh, bukan sebuah gambaran seseorang yang bersikeras alias ngotot untuk sembuh. Semangat hidup itu tidak sama dengan ngotot.  
Ngotot itu ngawur. Ngotot itu buta.

Semangat hidup itu tidak ngawur dan tidak buta. Semangat hidup itu mengetahui 
sebuah keadaan atau situasi yang mengecewakan, kemudian menerima keadaan itu, selanjutnya memiliki keinginan untuk sembuh, dan berusaha mewujudkan kesembuhan bersama Yang Maha Kuasa.

Jadi, semangat hidup itu mengandung kerelaan untuk menerima situasi apa pun, menyatakan keinginan, menunjukkan usaha, dan menunjukkan kerja sama dengan Yang Maha Kuasa. Versi kedua itu melahirkan pendapat yang mungkin juga pernah Anda dengar bahwa kesembuhan itu bisa juga terjadi kalau memiliki semangat hidup yang tinggi.

Maka pagi itu, setelah bingung saya mendapat pilihan jalan keluar untuk menjalani hari-hari hidup saya selanjutnya yang sudah pasti seperti ayunan. Pertama, saya bisa memilih untuk ngotot. Kedua, saya memilih untuk ngotot  terlebih dahulu sampai kelelahan, kemudian memutuskan untuk menyerah dengan berucap, yaa...sudahlah. Tuhan tahu yang terbaik.

Atau yang ketiga, memilih dari sejak awal menjalani kehidupan yang seperti ayunan itu dengan semangat hidup yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar