Senin, 13 Januari 2014

Menjadikan Muhammad sebagai Figur Teladan

         Menjadikan Muhammad sebagai Figur Teladan

Sutrisno  ;   Mahasiswa Pascasarjana (S-2) Universitas Muhammadiyah Surakarta
SINAR HARAPAN,  13 Januari 2014
                                                                                                                        


Setiap datang bulan Rabiul Awwal, umat Islam menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, bertepatan 21 April 571 M.

Dalam sejarah hidup Nabi SAW, 12 Rabiul Awal mempunyai arti penting. Selain dilahirkan pada tanggal ini, beliau hijrah dari Mekah ke Madinah dan wafat pada tanggal yang sama.

Berbagai keteladanan Rasulullah pun disampaikan penceramah di berbagai peringatan, majelis taklim, pengajian, masjid, musala, langgar, perkantoran, lembaga pendidikan, dan sebagainya. Syair berisi pujian, salam kesejahteraan, sifat, akhlak, riwayat, dan sejarah hidupnya pun digemakan.

Menambah kerinduan dan melayangkan ingatan pada sosok “manusia biasa yang luar biasa”, seorang nabi pilihan yang berjuang siang malam, mengemban amanah, menyeru manusia kepada kebenaran, keimanan, dan ketakwaan di tengah berbagai rintangan dan tantangan.

Di tengah kondisi krisis keteladanan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sekarang, potret kehidupan Nabi Muhammad SAW memang urgen dihadirkan.

Sebagaimana sejarah awalnya, ide dan gagasan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertujuan dan menjadi sarana penting untuk membangkitkan semangat serta ghirah keislaman perjuangan umat, dengan meneladani akhlak dan kepribadian beliau.

Tidak salah jika sekarang pun, peringatan ini dijadikan momentum dan starting point untuk memperbaiki diri, keluarga, dan membangun masyarakat.

Sejatinya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang bukan sekadar kegiatan seremonial rutinitas tahunan yang akan berlalu begitu saja tanpa memberika makna, perubahan, dan pencerahan terhadap pola pikir, sikap, dan akhlak umat untuk meneladani figur beliau.

Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya memberikan bekas dan atsar yang nyata, dalam memperbaiki akhlak masyarakat, menuju umat yang terbaik dan terpuji (khaira ummah).

Sebagaimana dikatakan Achmad Sunarto (2000: 25) maksud, tujuan, dan esensi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu pada prinsipnya adalah; Pertama, menanamkan, memupuk, menambah, meningkatkan rasa mahabbah (kecintaan) kita kepada Rasulullah.

Rasulullah adalah junjungan dan panutan kita, pengemban dan penyampai risalah kebenaran, pemberi petunjuk kepada keimanan dan ketakwaan, pemberi syafaat, serta rahmat bagi semesta alam.

Kedua, mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW kemudian diteladani, diikuti, dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kita dapat mengingat, mengungkap, dan memaknai kembali sebagian mutiara sejarah hidup, sifat, perilaku, akhlak, dakwah, jihad dan perjuangan beliau dalam menegakkan Islam untuk kita jadikan pelita, obor, dan acuan dalam berjuang mempelajari, menghayati, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam saat ini, esok, dan akan datang.

Ketiga, mewariskan mutiara sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, dakwah, dan semangat perjuangan beliau kepada generasi sekarang guna menjadi penyemangat dalam melakukan perubahan, membangun masyarakat, serta peradaban Islam.

Keempat, peringatan maulid adalah salah satu media syiar dan dakwah Islam yang diyakini memberikan dampak positif terhadap keberagamaan masyarakat. Kelima, peringatan maulid adalah suatu media bagi umat untuk menambah pengetahuan agama, meningkatkan keimanan, pengabdian, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada prinsipnya memang sesuatu yang sangat positif untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada beliau.

Sehubungan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, penting untuk direnungi satu pertanyaan sederhana, berapa banyak dari kita dan masyarakat kita yang memanfaatkan peringatan tersebut untuk kembali merenungi petuah Nabi Muhammad SAW dan mengikuti ajarannya secara baik dan benar, mengikuti jejak perjuangannya, dan selalu berharap untuk “bertemu” dengannya?

Esensi yang diharapkan dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini adalah, pemahaman dan pengetahuan umat terhadap biografi dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, untuk kemudian meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai tulisan yang mengupas tentang biografi kehidupan beliau, terlebih dalam kitab syair maulid, seperti Al Barzanji, Diba’, Syaraful Anam, Al Habsyi, dan Al Burdah, digambarkan sosok beliau secara detail, antara lain beliau adalah seorang yang jujur dan bisa dipercaya (siddiq), amanah, tabligh, serta bijaksana dan cerdas (fathonah).

Beliau tidak pernah berdusta (kizb), tak pernah khianat, tak pernah menyembunyikan wahyu (kitman), dan bukan orang bodoh (baladah). Beliau berbudi perkerti baik dan tampan. Tubuhnya atletis dan selalu terawat bersih. Beliau lemah lembut namun ksatria, ramah tapi serius, dan otaknya cerdas.

Tangannya sangat senang memberi, hatinya sangat berani dan lidahnya sangat bisa dipercaya. Pada malam hari, beliau hanya tidur sebentar, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk ibadah. Beliau sangat menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak dan menghormati perempuan.

Beliau bagaikan seorang ayah bagi sahabatnya, sangat pemaaf, bahkan terhadap bekas musuhnya. Akhlaknya adalah Alquran, lemah lembut, kasih sayang, mencintai, dan dicintai. Nabi Muhammad SAW memang teladan sempurna bagi kita semua. “Dan sungguh kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung,” (QS Al-Qalam: 4).

Muhammad menjadi sosok yang sangat berperan dalam sejarah peradaban umat manusia. Kelahirannya menandai peradaban baru umat manusia, mengakhiri peradaban Jahiliyah yang penuh kebodohan dan kebobrokan moral.

Beliau adalah pembawa misi suci dari langit, yaitu agama yang rahmatan lil-’alamiin. Agama yang menjadi jalan bagi manusia untuk merajut cinta kasih dengan alam, manusia, dan hubungannya dengan Sang Khalik. Nabi Muhammad SAW adalah jembatan menuju kehidupan yang sempurna.

Menurut Cak Nur, Muhammad membawa ajaran Islam yang universal; humanistis, egalitarianistis, demokratis, dan pluralistis. Ajaran Muhammad ini sangat penting untuk diamalkan dan dimanifestasikan saat kondisi bangsa terpuruk, apalagi maraknya aksi kekerasan berbasis agama.

Lesley Hazletyon (2013), lewat bukunya berjudul Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat menuturkan, setiap saat dalam kehidupan Muhammad dipenuhi makna, menggerakkan umat untuk menjadikan Muhammad sebagai referensi dalam memenuhi ajaran-ajaran dalam Islam.

Kebermaknaan Muhammad, perkataan dan tindakan, senantiasa menjadi teladan sempurna. Sejatinya, momen memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kita sebagai umat harus menjadikannya refleksi, introspeksi, dan revitalisasi diri atas ajaran-ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Maka kita menjadi pengikut atau hamba yang berkepribadian mulia, dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagi figur teladan kita. Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan terjebak ke dalam acara seremonial yang terus berulang tanpa berimplikasi pada terjadinya perubahan fundamental bagi keberagamaan umat.  ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar