Menjadikan Muhammad
sebagai Figur Teladan
Sutrisno ;
Mahasiswa Pascasarjana (S-2) Universitas Muhammadiyah Surakarta
|
SINAR
HARAPAN, 13 Januari 2014
|
Setiap datang bulan Rabiul Awwal, umat Islam
menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan pada
12 Rabiul Awwal tahun Gajah, bertepatan 21 April 571 M.
Dalam sejarah hidup Nabi SAW, 12 Rabiul Awal mempunyai
arti penting. Selain dilahirkan pada tanggal ini, beliau hijrah dari Mekah ke
Madinah dan wafat pada tanggal yang sama.
Berbagai keteladanan Rasulullah pun disampaikan penceramah
di berbagai peringatan, majelis taklim, pengajian, masjid, musala, langgar, perkantoran,
lembaga pendidikan, dan sebagainya. Syair berisi pujian, salam kesejahteraan,
sifat, akhlak, riwayat, dan sejarah hidupnya pun digemakan.
Menambah kerinduan dan melayangkan ingatan pada sosok
“manusia biasa yang luar biasa”, seorang nabi pilihan yang berjuang siang
malam, mengemban amanah, menyeru manusia kepada kebenaran, keimanan, dan
ketakwaan di tengah berbagai rintangan dan tantangan.
Di tengah kondisi krisis keteladanan yang terjadi dalam
kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sekarang,
potret kehidupan Nabi Muhammad SAW memang urgen dihadirkan.
Sebagaimana sejarah awalnya, ide dan gagasan Sultan
Shalahuddin Al-Ayyubi, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertujuan dan
menjadi sarana penting untuk membangkitkan semangat serta ghirah keislaman
perjuangan umat, dengan meneladani akhlak dan kepribadian beliau.
Tidak salah jika sekarang pun, peringatan ini dijadikan
momentum dan starting point untuk memperbaiki diri, keluarga, dan membangun
masyarakat.
Sejatinya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang
bukan sekadar kegiatan seremonial rutinitas tahunan yang akan berlalu begitu
saja tanpa memberika makna, perubahan, dan pencerahan terhadap pola pikir,
sikap, dan akhlak umat untuk meneladani figur beliau.
Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya
memberikan bekas dan atsar yang nyata, dalam memperbaiki akhlak masyarakat,
menuju umat yang terbaik dan terpuji (khaira ummah).
Sebagaimana dikatakan Achmad Sunarto (2000: 25) maksud,
tujuan, dan esensi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu pada prinsipnya
adalah; Pertama, menanamkan, memupuk, menambah, meningkatkan rasa mahabbah
(kecintaan) kita kepada Rasulullah.
Rasulullah adalah junjungan dan panutan kita, pengemban
dan penyampai risalah kebenaran, pemberi petunjuk kepada keimanan dan
ketakwaan, pemberi syafaat, serta rahmat bagi semesta alam.
Kedua, mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW
kemudian diteladani, diikuti, dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kita dapat
mengingat, mengungkap, dan memaknai kembali sebagian mutiara sejarah hidup,
sifat, perilaku, akhlak, dakwah, jihad dan perjuangan beliau dalam menegakkan
Islam untuk kita jadikan pelita, obor, dan acuan dalam berjuang mempelajari,
menghayati, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam saat ini, esok, dan akan
datang.
Ketiga, mewariskan mutiara sejarah hidup Nabi
Muhammad SAW, dakwah, dan semangat perjuangan beliau kepada generasi sekarang
guna menjadi penyemangat dalam melakukan perubahan, membangun masyarakat,
serta peradaban Islam.
Keempat, peringatan maulid adalah salah satu media syiar
dan dakwah Islam yang diyakini memberikan dampak positif terhadap
keberagamaan masyarakat. Kelima, peringatan maulid adalah suatu media bagi
umat untuk menambah pengetahuan agama, meningkatkan keimanan, pengabdian, dan
ketakwaan kepada Allah SWT.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada prinsipnya memang
sesuatu yang sangat positif untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada beliau.
Sehubungan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini,
penting untuk direnungi satu pertanyaan sederhana, berapa banyak dari kita
dan masyarakat kita yang memanfaatkan peringatan tersebut untuk kembali
merenungi petuah Nabi Muhammad SAW dan mengikuti ajarannya secara baik dan
benar, mengikuti jejak perjuangannya, dan selalu berharap untuk “bertemu”
dengannya?
Esensi yang diharapkan dari peringatan hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW ini adalah, pemahaman dan pengetahuan umat terhadap biografi dan
perjuangan Nabi Muhammad SAW, untuk kemudian meneladaninya dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam berbagai tulisan yang mengupas tentang biografi
kehidupan beliau, terlebih dalam kitab syair maulid, seperti Al
Barzanji, Diba’, Syaraful Anam, Al Habsyi, dan Al Burdah, digambarkan sosok
beliau secara detail, antara lain beliau adalah seorang yang jujur dan bisa
dipercaya (siddiq), amanah, tabligh, serta bijaksana dan cerdas (fathonah).
Beliau tidak pernah berdusta (kizb), tak pernah khianat,
tak pernah menyembunyikan wahyu (kitman), dan bukan orang bodoh (baladah).
Beliau berbudi perkerti baik dan tampan. Tubuhnya atletis dan selalu terawat
bersih. Beliau lemah lembut namun ksatria, ramah tapi serius, dan otaknya
cerdas.
Tangannya sangat senang memberi, hatinya sangat berani dan
lidahnya sangat bisa dipercaya. Pada malam hari, beliau hanya tidur sebentar,
sebagian besar waktunya dihabiskan untuk ibadah. Beliau sangat menyayangi
orang miskin, mencintai anak-anak dan menghormati perempuan.
Beliau bagaikan seorang ayah bagi sahabatnya, sangat
pemaaf, bahkan terhadap bekas musuhnya. Akhlaknya adalah Alquran, lemah
lembut, kasih sayang, mencintai, dan dicintai. Nabi Muhammad SAW memang
teladan sempurna bagi kita semua. “Dan sungguh kamu (Muhammad) benar-benar
berbudi pekerti yang agung,” (QS Al-Qalam: 4).
Muhammad menjadi sosok yang sangat berperan dalam sejarah
peradaban umat manusia. Kelahirannya menandai peradaban baru umat manusia,
mengakhiri peradaban Jahiliyah yang penuh kebodohan dan kebobrokan moral.
Beliau adalah pembawa misi suci dari langit, yaitu agama
yang rahmatan lil-’alamiin. Agama yang menjadi jalan bagi manusia untuk
merajut cinta kasih dengan alam, manusia, dan hubungannya dengan Sang Khalik.
Nabi Muhammad SAW adalah jembatan menuju kehidupan yang sempurna.
Menurut Cak Nur, Muhammad membawa ajaran Islam yang
universal; humanistis, egalitarianistis, demokratis, dan pluralistis. Ajaran
Muhammad ini sangat penting untuk diamalkan dan dimanifestasikan saat kondisi
bangsa terpuruk, apalagi maraknya aksi kekerasan berbasis agama.
Lesley Hazletyon (2013), lewat bukunya berjudul Muslim
Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat menuturkan, setiap saat dalam kehidupan
Muhammad dipenuhi makna, menggerakkan umat untuk menjadikan Muhammad sebagai
referensi dalam memenuhi ajaran-ajaran dalam Islam.
Kebermaknaan Muhammad, perkataan dan tindakan, senantiasa
menjadi teladan sempurna. Sejatinya, momen memperingati Maulid Nabi Muhammad
SAW, kita sebagai umat harus menjadikannya refleksi, introspeksi, dan
revitalisasi diri atas ajaran-ajaran Rasulullah Muhammad SAW.
Maka kita menjadi pengikut atau hamba yang berkepribadian
mulia, dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagi figur teladan kita. Dengan
demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan terjebak ke dalam
acara seremonial yang terus berulang tanpa berimplikasi pada terjadinya
perubahan fundamental bagi keberagamaan umat. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar