Kamis, 08 Agustus 2013

Setelah Ampunan, Mari Berubah

Setelah Ampunan, Mari Berubah
Daniel M Rosyid ;  Penasihat Dewan Pendidikan Jatim,
Ketua Dewan Pakar ICMI Jatim
JAWA POS, 07 Agustus 2013


RAMADAN pergi, datanglah Idul Fitri. Ramadan meninggalkan ampunan (maghfirah), tiba kini saatnya mewujud dalam perubahan (maghyirah). Allah berfirman, ''Sungguh aku tidak akan mengubah kehidupan sebuah kaum sampai mereka mengubah (apa yang ada di dalam) diri mereka sendiri'' (ar Ra'd : 11). Melalui serangkaian kegiatan selama puasa Ramadan sebulan penuh itulah, mereka yang beriman (mu'min) melakukan perubahan menjadi muttaqin (al Baqarah :183). 

Perubahan dimulai dengan belajar. Bulan Ramadan disebut juga bulan belajar (syahru madrasah). Melalui shiyam (pengendalian hawa nafsu, self-denial), lalu pengkajian Alquran (dirasah), lalu salat Tarawih (qiyamul layl), para mukmin melampaui sebuah training ground untuk meraih kompetensi muttaqin. Secara bahasa, Ramadan juga berarti pembakaran atau dalam bahasa populer juga berarti bulan penggemblengan melalui pembakaran di dalam kawah candradimuka. Melalui proses itu, kita jadi lebih mudah dibentuk menjadi sesuatu yang baru dengan kualitas yang lebih baik. 

Menarik dicermati, kompetensi pokok muttaqin ini, antara lain, pemaaf (al Baqarah: 134). Ini berarti bahwa ampunan yang diperoleh para mukmin mengubah mereka menjadi pemaaf. Hanya manusia yang menyadari kesalahan dan dosa yang telah dilakukannya yang mau meminta ampun pada-Nya. Manusia seperti itu membuka peluang bagi dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Karena itu, dia pun mampu memberikan maaf bagi manusia yang lain: memberi kesempatan orang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak memaafkan sama saja dengan mengutuk seseorang menjadi batu yang tidak bisa berubah. 

Sudah semakin jelas, kemanusiaan pada awal abad ke-21 menghadapi tantangan yang genting: kemiskinan persisten, kesenjangan yang melebar, krisis ekonomi global, kelangkaan pangan, air dan energi serta kerusakan lingkungan hidup. Hampir semua kesepakatan global atas pengendalian emisi gas rumah kaca yang bertanggung jawab atas pemanasan global dan perubahan iklim gagal dilaksanakan. Demikian dikatakan Makarim Wibisono baru-baru ini. 

Ada yang salah dalam model kehidupan manusia selama ini yang mendorong eksploitasi alam secara berlebihan. Modernitas konsumtif telah membawa manusia di tepi jurang kebangkrutan. Modernitas semacam itu mensyaratkan tiga sampai lima bumi untuk menopangnya. Dalam bentuk konsumsi energi, kehidupan ala AS mensyaratkan konsumsi 7.000 liter BBM per kapita per tahun, sepuluh kali lipat konsumsi energi rata-rata orang Indonesia. Modernitas semacam AS itu jelas jalan sesat yang tidak boleh kita jadikan teladan. 

Shiyam membawa pesan agar kita mengurangi konsumsi. Tentu, sebuah paradoks jika Ramadan selalu menjadi faktor inflatoir dalam pola konsumsi nasional. Keserakahan konsumtif telah memanjakan hawa nafsu dan menumpulkan pikiran serta mengeraskan hati. Artinya, salah satu cara memecahkan masalah kemanusiaan abad ke-21 ini adalah dengan hidup lebih sederhana. Hidup sak madyo, sak sedhenge. Quran berpesan: ambillah dari bumi ini yang halal dan thayyib (secukupnya) (al Baqarah: 168). 

Modernitas konsumtif itulah dosa kita, sehingga kita semakin jauh dari-Nya, menjauhkan kita dari fitrah kita yang cinta kebenaran, dapat dipercaya, cerdas, dan peduli. Modernitas konsumtif itulah yang sering mengantarkan kita pada kehidupan penuh dusta, pengkhianatan, ketololan, serta ketidakpedulian pada liyan. Karena itulah, melalui shiyam Ramadan ini, kita telah memohon kepada-Nya agar diberi kesempatan berubah, meninggalkan gaya hidup boros energi-tinggi menjadi gaya hidup sederhana energi-rendah. Semoga kita berhasil melakukan shiyam Ramadan kali ini, sehingga menjadi manusia pemaaf yang berhasil berubah dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk kembali ke fitrah itu.

Jika Ramadan kali ini berlalu begitu saja seperti Ramadan tahun-tahun sebelumnya dan konsisten menjadi faktor pemicu inflasi, saya khawatir kita sesungguhnya tidak pernah kembali ke fitrah kita. Allahua'lamu bish showwab. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar