|
MAKNAdasar fitrah adalah membangun jiwa yang merupakan
jargon keagamaan, dan Nabi saw pun bersabda,‘‘ Dalam tubuh manusia ada segumpal
darah, apabila segumpal darah itu baik maka baiklah perbuatan manusia, dan
apabila segumpal darah itu rusak maka rusaklah perbuatan manusia. Ingatlah dia
adalah hati.”
Baik buruk manusia ditentukan oleh hati atau jiwa. Orang
yang berjiwa mulia atau kaya akan isi Alquran mendapat julukan paling takwa,
bentuk superlatif dari takwa. Mereka adalah orang orang yang suka berderma atau
bersedekah. (QS Al Lail: 17-18) Orang yang suka bersedekah disebut paling takwa
karena itu indikator kebersihan jiwa.
Jiwa yang bersih terhindar dari keserakahan dan kerakusan.
Kekayaan alam Indonesia bisa memberi kemakmuran kepada anak bangsa jika
penyelenggara negara berjiwa kaya dan bersih. Seandainya jiwa mereka miskin,
sebanyak apa pun sumber daya alam yang kita miliki tidak akan mencukupi
kesejahteraan warga negara. Dalam kaitan ini ada korelasi antara sedekah dan
membangun jiwa.
Sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta, karena
Nabi Suci memberi isyarat bahwa tiap kebaikan itu sejatinya sedekah (kullu
ma‘ruufin sadaqah). Bahkan Rasulullah sangat memuliakan mereka yang berbuat
kebaikan, terlebih dermawan yang suka membagikan rezeki. Begitu tinggi Rasul
memuliakan dermawan sekalipun mereka kafir Dalam sebuah kasus wanita kafir
ditawan Rasulullah, wanita itu protes minta dibebaskan karena ia anak orang
terhormat.
Ketika Nabi bertanya siapa orang tuanya, wanita itu
menjawab,‘‘ Bapakku orang terhormat karena biasa memberi makan mereka yang
kelaparan, memberi pakaian mereka yang telanjang, membantu mereka yang
kesulitan, itulah kemuliaan bapakku. Bapakku bernama Hatim at Thaif.‘‘ Nabi
kemudian bersabda,‘‘ Sungguh, bapakmu orang mulia.
Jika dia masih hidup tentu saya hormat dan mencintainya dan
Allah pun sangat cinta kepadanya.‘‘ Itu seperti kata Allah dalam Surah Al
Baqarah Ayat 195 bahwa Dia sangat sayang kepada mereka yang berbuat kebaikan.
Seorang sufi besar di Spanyol bernama Ibnu Arabi adalah cucu Hatim at Thaaif, nonmuslim
yang dermawan itu.
Pada akhirnya Rasul bersabda bahwa seseorang akan
memperoleh derajat tinggi bukan karena rajin shalat dan berpuasa sunah
melainkan karena dua hal, yaitu as sakhowah (kedermawanan) dan wa shofwatul qolb atau hati yang bersih
ketika berhadapan dengan muslim. Hati yang terdalam itu tidak mengandung
prasangka, kecurigaan, dan kebencian. Kita sekarang sadar bahwa jiwa itulah
yang menentukan corak dan hasil suatu perbuatan. Membangun badan adalah kerja
keras.
Betapa Nabi Muhammad saw menaruh hormat terhadap pekerja
keras. Sepulang dari berperang, para sahabat menyambut dan menjabat tangan.
Rasul terkejut tatkala menjabat tangan Sa‘ad bin Muadz al Anshory terasa
kasar,‘‘ Mengapa tanganmu begitu kasar dan berdarah?‘‘ Sa‘ad menjawab, ‘‘Saya
kerja keras memecah batu ya Rasul untuk menafkahi keluarga.‘‘
Mendengar jawaban itu, segera Rasulullah mencium tangan
Sa‘ad seraya meneteskan air mata dan bersabda,‘‘ Kamu adalah orang terhormat.”
Kemerdekaan, kebahagian, kesucian, ingin dihormati adalah fitrah manusia.
Fitrah adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Jika kita tidak ingin ditindas, maka jangan menindas, jika
tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti, dan seterusnya. Itulah fitrah atau
naluri dasar manusia. Hati Fitrah Menindas adalah mengambil hak orang lain,
mengambil hak rakyat sehingga mereka sengsara dan menderita. Itulah orang yang
merusak kesucian atau kefitrian jiwa dan merusak kemerdekaan bangsa dan negara
Indonesia.
Allah mengkritik lewat An Nahl: 92,‘‘ Janganlah kamu
seperti seorang wanita yang memintal benang dengan kuat kemudian mengurai
menjadi cerai berai kembali.” Negara yang dibangun oleh para pendiri bangsa
hendaknya tidak kita nodai dan kita rusak untuk kepentingan kepentingan sesaat.
Termasuk ibadah yang telah kita kerjakan sehingga kita menjadi ‘‘bangkrut‘‘,
bukan dalam arti tak memiliki kekayaan apa pun.
‘‘Bangkrut‘‘ adalah mereka yang pada hari kiamat menhadap
Allah dengan membawa setumpuk ibadah sekaligus membawa segudang perbuatan
tercela. Memelihara diri dan negara dari perbuatan tercela agar tetap suci
merupakan fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah kesetaraan dan kepedulian terhadap
sesama, seperti dilukiskan pada bayi baru lahir. Bayi yang baru lahir itu
merasa dirinya setara dengan bayi lain. Bila ada 7 bayi berbaring berdampingan
dan salah satunya menangis, pasti bayi lain pun ikut menangis.
Bayi itu tidak mengenal apakah bayi lain itu muslim atau
nonmuslim. Mari kita berjanji kepada diri sendiri setelah perayaan Idul Fitri
1434 H berusaha menjadi bayi yang fitri, memegang konsep kesetaraan dan saling
menguatkan, membangun diri dengan bersedekah, tidak menodai negara dan
lingkungan dengan perbuatan tercela. Inilah indikator hati yang suci, hati yang
fitrah. Semoga Allah menerima ibadah dan mengampuni dosa kita, dan kembali
mempertemukan dengan Ramadan tahun depan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar