|
IDUL Fitri
kembali tiba setelah sebulan kita menempuh puasa Ramadan. Hari ketika kita
kembali kepada fitrah yang suci, kembali kepada lembaran yang bersih. Dalam
sebuah kata-kata hikmah dikatakan Laisa al-Id li man yalbasu al-jadid, wa
innama al-id li man taqwahu yazid. Artinya, bukanlah yang disebut hari raya
itu hanya untuk orang yang berpakaian baru atau alat parabot rumah tangga yang
baru. Tetapi, yang dinamakan hari raya adalah bagi orang yang bertambah taatnya
kepada Allah. Selain melestarikan hablum
minallah, Idul Firti ini juga berfungsi sebagai sarana hablum minan nas.
Menghayati inti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad dan menyadari persoalan bangsa pada saat ini serta memperhatikan bagaimana perjuangan beliau dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera melalui ajaran Islam (Islam tamaddun) menjadi momentum sangat penting.
Puasa dan Idul Fitri ini kita gunakan sebagai momentum untuk membangun Indonesia yang lebih cerah, bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Islam. Ibadah itu seyogianya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang benar terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya yang lebih mendasar dan luas.
Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan, jiwa atau spritualitas yang dalam, serta akhlak yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spritualitas, dan akhlak yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat Alquran pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan, yakni dalam bentuk perintah membaca, iqra', dan larangan berbuat angkara murka. Sungguh, Rasulullah Muhammad diperintahkan untuk membangun akhlak yang mulia (bu'itstu li utammima makarimal akhlaq). Karena itu, disabdakan "al-dinu husnul khulq", bahwa agama identik dengan kebaikan budi pekerti.
Puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat untuk esok yang lebih baik. Akhir-akhir ini, muncul dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti bangsa terpuruk, bangsa korup, bangsa yang karut-marut, bangsa yang berada pada titik nadir, dan istilah-istilah lain yang kurang sedap. Bisa jadi, ini akan melahirkan mental bangsa yang inferior ('adamul muru'ah), tidak percaya diri, dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain.
Sebaliknya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta penduduk berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal kemakmuran bersama.
Puasa dan Idul Fitri dapat bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit jika terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah adalah buah dari adanya kesediaan para pejuang, termasuk di garda depan adalah peran para ulama-ulama kita yang ikhlas berkorban. Rasulullah telah memberikan teladan berharga bahwa beliau tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.
Selaras dengan dinamika, pemerintah wajib terus-menerus memegang teguh prinsip memperjuangkan kemakmuran dan kemaslahatan rakyat. Dalam kaidah fikih dikatakan tasharruf al-imam 'ala al-ra'iy manuthun bi al-mashlahah. Maksudnya, kebijakan pemerintah wajib ditaati selama kebijakan tersebut berpijak pada kebijakan yang memberikan kebaikan bagi banyak rakyat. Imam Syafi'i menggambarkan hubungan rakyat dan penguasa ibarat hubungan wali dan anak yatim.
Karena itu, jelas bahwa puasa dan Idul Fitri selayaknya melahirkan sifat-sifat profetis, seperti amanah, 'adalah, istiqamah, dan salam. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, mampu melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, tawakal, dan istiqamah. Perlu diresapi al-dinu huwa al-nashihah lillahi wa li rasulihi wa lil mu'minin yang artinya agama adalah nasihat.
Akhirnya, melalui momentum Idul Fitri ini, perlu semakin menguat kesadaran betapa penting semua komponen bangsa bersigap membangun bangsa. Demikian juga, semua komponen bangsa, terutama ormas-ormas dan institusi keagamaan, seharusnya memberikan corak bagi khazanah keberagamaan, sosial, politik, dan budaya di Indonesia.
Dengan visi, semangat, dan tekad seperti itu, akan ada upaya maksimal untuk turut memikirkan dan menindaki pembangunan Indonesia yang lebih maju dan beradab. Kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam upaya membangun bangsa, yang terpenting adalah membangun peradaban (tsaqafah wa al-hadharah). Hal ini diperlukan demi terwujudnya impian Indonesia menjadi "negeri yang berperadaban adiluhung" (madinah al-fadhilah). Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. ●
Menghayati inti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad dan menyadari persoalan bangsa pada saat ini serta memperhatikan bagaimana perjuangan beliau dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera melalui ajaran Islam (Islam tamaddun) menjadi momentum sangat penting.
Puasa dan Idul Fitri ini kita gunakan sebagai momentum untuk membangun Indonesia yang lebih cerah, bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Islam. Ibadah itu seyogianya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang benar terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya yang lebih mendasar dan luas.
Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan, jiwa atau spritualitas yang dalam, serta akhlak yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spritualitas, dan akhlak yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat Alquran pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan, yakni dalam bentuk perintah membaca, iqra', dan larangan berbuat angkara murka. Sungguh, Rasulullah Muhammad diperintahkan untuk membangun akhlak yang mulia (bu'itstu li utammima makarimal akhlaq). Karena itu, disabdakan "al-dinu husnul khulq", bahwa agama identik dengan kebaikan budi pekerti.
Puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat untuk esok yang lebih baik. Akhir-akhir ini, muncul dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti bangsa terpuruk, bangsa korup, bangsa yang karut-marut, bangsa yang berada pada titik nadir, dan istilah-istilah lain yang kurang sedap. Bisa jadi, ini akan melahirkan mental bangsa yang inferior ('adamul muru'ah), tidak percaya diri, dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain.
Sebaliknya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta penduduk berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal kemakmuran bersama.
Puasa dan Idul Fitri dapat bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit jika terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah adalah buah dari adanya kesediaan para pejuang, termasuk di garda depan adalah peran para ulama-ulama kita yang ikhlas berkorban. Rasulullah telah memberikan teladan berharga bahwa beliau tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.
Selaras dengan dinamika, pemerintah wajib terus-menerus memegang teguh prinsip memperjuangkan kemakmuran dan kemaslahatan rakyat. Dalam kaidah fikih dikatakan tasharruf al-imam 'ala al-ra'iy manuthun bi al-mashlahah. Maksudnya, kebijakan pemerintah wajib ditaati selama kebijakan tersebut berpijak pada kebijakan yang memberikan kebaikan bagi banyak rakyat. Imam Syafi'i menggambarkan hubungan rakyat dan penguasa ibarat hubungan wali dan anak yatim.
Karena itu, jelas bahwa puasa dan Idul Fitri selayaknya melahirkan sifat-sifat profetis, seperti amanah, 'adalah, istiqamah, dan salam. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, mampu melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, tawakal, dan istiqamah. Perlu diresapi al-dinu huwa al-nashihah lillahi wa li rasulihi wa lil mu'minin yang artinya agama adalah nasihat.
Akhirnya, melalui momentum Idul Fitri ini, perlu semakin menguat kesadaran betapa penting semua komponen bangsa bersigap membangun bangsa. Demikian juga, semua komponen bangsa, terutama ormas-ormas dan institusi keagamaan, seharusnya memberikan corak bagi khazanah keberagamaan, sosial, politik, dan budaya di Indonesia.
Dengan visi, semangat, dan tekad seperti itu, akan ada upaya maksimal untuk turut memikirkan dan menindaki pembangunan Indonesia yang lebih maju dan beradab. Kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam upaya membangun bangsa, yang terpenting adalah membangun peradaban (tsaqafah wa al-hadharah). Hal ini diperlukan demi terwujudnya impian Indonesia menjadi "negeri yang berperadaban adiluhung" (madinah al-fadhilah). Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar