|
Lebaran ini berjuta orang
gembira. Bukan saja karena bisa berkumpul dengan keluarga, melainkan karena
merasa berhasil mengendalikan dirinya selama puasa Ramadan.
Lebaran ini berjuta orang merasa bahagia. Dalam psikologi
positif, keadaan ketika di dalamnya orang merasakan kebahagiaan disebut
sebagai “flow”.
Menurut tokoh psikologi positif Mihaly
Csikszentmihalyi, flow adalah suatu keadaan pikiran yang di
dalamnya kesadaran manusia berada dalam keadaan teratur dan selaras. Dan itu
dapat dicapai lewat 'pengendalian diri' dan 'pengendalian hidup'.
Dalam komunikasi, keadaan ini menjadi salah satu tujuan
utama. Sebab, jika tidak, maka penyampaian pesan dianggap gagal, karena
komunikasi yang dilakukan tidak berhasil membuat orang merasa senang atau
bahagia.
Dan itu bukan saja fenomena ketika kita berkomunikasi
dengan sesama manusia, melainkan saat kita 'berbicara' dengan alam semesta, dan
dengan Tuhan, Pencipta Manusia dan Alam Semesta.
Itu sebabnya, para pakar komunikasi yang memahami agama dan
psikologi percaya, bahwa komunikasi dengan Tuhan saat kita mengendalikan diri
waktu puasa akan menciptakan flow yang kita harapkan.
Mihaly mengatakan bahwa, di antara ciri keadaan flowadalah
ketika kita masuk dalam kondisi konsentrasi yang lebih dalam (pikiran yang fokus),
perasaan memiliki kendali penuh atas segala sesuatu, dan menganggap saat
'sekarang' sebagai satu-satunya hal yang penting.
Saat berada dalam flow itu lazimnya orang
merasa tidak lagi terpengaruh pada dimensi waktu -- yang sering (dalam keadaan
biasa) menginterupsi perjalanan kehidupan kita.
Saat itu, kita tak lagi mementingkan diri (ego)-nya, karena
sirnanya batasan-batasan individual kita. Dan itu amat serupa dengan kondisi
saat kita 'kembali menjadi fitri', berkat latihan mengendalikan diri (ego) selama
Ramadan lalu.
Tentu komunikasi hamba dengan Tuhan bukan saja saat puasa,
melainkan terus menerus sepanjang hidupnya. Salah satu bentuk komunikasi lain
antara kita dengan Tuhan adalah saat salat. Ajaran Islam menyatakan bahwa, jika
hendak berbicara kepada Tuhan salatlah; dan jika hendak mendengar apa yang
dibicarakan Tuhan bacalah Al Quran.
Nah, menurut Mihaly, cara 'meditasi' (seperti salat) itu
sangat berperan menelurkan keadaan flow tadi.
Mihaly berpendapat bahwa berbagai cara meditasi Timur,
termasuk yoga, dan berbagai praktik dalam Buddhisme dan Taoisme, sebagaimana
tasawuf, telah dipakai untuk mencapai keadaan itu. Menurutnya, hal itu terbukti
berhasil, karena pelakunya 'mampu mengendalikan diri dari pengaruh atau
sejumlah gangguan dari luar dirinya.
Sejumlah sumber sejarah menduga bahwa Michelangelo mungkin
saja melukis atap Gereja Vatikan ketika ia sedang flow. Dikatakan
bahwa ia melukis selama berhari-hari tanpa henti, dan ia telah begitu
terabsorbsi pada pekerjaannya sehingga lupa makan dan tidur, sampai pingsan.
Boleh jadi flow juga berkait dengan
keterbukaan diri dan komunikasi yang tulus (genuine communication).
Menurut Carl Rogers, lewat karya yang belakangan disebut
sebagai 'Kekuatan Ketiga' (Third Force) dalam psikologi,
"tujuan komunikasi adalah pemahaman yang akurat tentang diri sendiri dan
pihak lain, dan bahwa pemahaman hanya bisa terjadi melalui komunikasi yang
tulus."
Guna mendapat 'pemahaman diri' perlu proses 'pembukaan
diri' (self-disclosure), memberi feedback, dan peka terhadap keterbukaan
pihak lain. Jika tidak, akan muncul kesalahpahaman dan kekecewaan (dissatisfaction) dalam relationship kita dengan pihak lain,
akibat ketidakjujuran, kurang konkruen-nya perasaan dan tindakan,
kurangnya feedback, dan menahan diri untuk bersikap terbuka
(transparan).
Meski para ahli -- yang mengembangkan teori di atas dalam
pendekatan psikologi humanistik -- itu tidak membahas hal-hal di atas dalam
kaitan khusus dengan meditasi atau solat, tetapi secara logis kita bisa
menganalogikannya begini: saat orang solat secara serius dan khusyu' sudah
pasti ia membuka diri kepada Tuhan. Ia bersikap transparan, mengakui kekurangan
diri, dan melalukan genuine communication. Dari situlah antara
lain, ia memperoleh satisfaction, kepuasan.
Ia, misalnya mengakui bahwa dirinya dan segala yang ada
selain tuhan hanya kecil belaka. Tuhan saja yang Maha Besar -- dan segala
kenikmatan (atau kesulitan) hidup, diri pribadi, keluarga, harta benda, dan
semua yang ada di lingkungannya tidak ada artinya sama sekali dibanding keagungan-Nya.
Dengan kata lain, pelaksana salat yang baik mestinya
memiliki perasaan yang konkruen dengan perilakunya. Sejatinya memang demikian,
salat yang dilakukan secara khusyu' dapat menciptakan ciri-ciri yang menandai
keadaan flow, bahkan secara lebih efektif.
Sejatinya, manusia bisa melatih dirinya untuk memutuskan
hanya fokus pada apa yang ingin diperhatikannya. Maka, ketika seseorang dalam
keadaan flow, ia tercerap sepenuhnya dalam satu task yang
dijalaninya, dan tanpa sengaja ia kehilangan awareness-nya terhadap
segala sesuatu yang lain: waktu, orang lain, distractions, dan
bahkan kebutuhan dasar tubuhnya.
Ini terjadi karena semua perhatian orang itu berada dalam
keadaan flow; sehingga tidak ada lagi 'ruang' bagi soal lain untuk dialokasikan
saat itu.
Para ahli juga menyimpulkan bahwa sebagai suatu bentuk
zikir, salat juga memiliki pengaruh positif terhadap upaya pencegahan dan
penyembuhan dari berbagai penyakit yang biasanya dikaitkan dengan
ketidaktenteraman dan kekurangbahagiaan, seperti penyakit jantung, stroke,
stres, depresi, dan sebagainya.
Salah seorang ahli itu adalah pakar kedokteran Harvard University dan pendiri Body-
Mind Institute Dr. Herbert Benson. Menurut Benson, meditasi serta pembacaan
mantra -- yang dibaca dalam kerangka keimanan atau sebagai wujud ajaran agama
-- memiliki tingkat efektivitas yang lebih tinggi dalam mendatangkan ketenangan
dan mengatasi berbagai penyakit tubuh dan kejiwaan yang menghalangi terciptanya
kebahagiaan hidup.
Walhasil, pasca-Ramadhan ini semestinya kita akan makin
bahagia. Bukan saja karena lebih efektif berkomunikasi dengan (dan membantu)
orang-orang yang lemah, melainkan juga karena berhasil dalam komunikasi dengan
Tuhan, berkat makin tingginya kemampuan mengendalikan diri dari pengaruh atau
gangguan-gangguan eksternal diri.
Selamat berbahagia
dalam flow yang indah. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar