|
Lebaran
sebentar lagi. Saat ini umumnya orang Indonesia berbondong-bondong mudik
(pulang kampung), meski dalam kerepotan yang luar biasa. Pulang kampung bertemu
sanak saudara bagai syarat lengkapnya hajatan besar ini. Agenda tahunan
spiritual ini sangatlah disayangkan bila hanya memenuhi kebutuhan kebersamaan
fisik.
Minimal
ada dua manfaat komunikasi penting yang dapat dioptimalkan dengan datangnya
Lebaran. Dua berkah itu adalah kesempatan bersilaturahim dan kesempatan
bermaaf-maafan. Bersilaturahim mengeratkan kualitas hubungan dengan keluarga
dan kerabat. Bermaaf-maafan ditujukan untuk memperbaiki permasalahan yang
sangat mungkin ada dalam hubungan sebuah keluarga.
Silaturahim
berasal dari bahasa Arab. Shilah yang berarti menyambung, dan rahim
bermakna rahim perempuan, yang diartikan dengan bebas sebagai `persaudaraan'. Hubungan
persaudaraan terutama dalam keluarga seharusnya dilandasi oleh kasih sayang,
perhatian, kepercayaan, memberi-menerima, kesediaan mengungkapkan unek-unek
diri, serta dukungan emosional. Semua ini perlu upaya kesungguhan untuk menyuburkannya.
Pentingnya
silaturahim tertuang dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah. "Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahim." Melalui
silaturahim, kita mempererat tali kekeluargaan, meningkatkan kualitas hubungan,
saling keterbukaan, berbagi peluang, dukungan, menyelesaikan masalah bahkan
momen pembentukan nilai-nilai karakter.
Berbagai
kesibukan yang penting dan mendesak dari keseharian kita membuat prioritas
silaturahim menjadi nomor sekian dalam agenda. Jarak geografis memperlebar
jarak keakraban bahkan mengkikis rasa kasih-sayang di antara keluarga. Perbedaan
status sosial ekonomi, sudut pandang, aliran keyakinan, tak jarang menimbulkan
prasangka. Akibatnya malas saling berkunjung, interaksi makin jarang, bahkan
kadang lupa mengundang satu sama lain dalam momen keluarga. Kian lamanya perpisahan,
membuahkan keasingan satu-sama lain.
Generasi
di bawah kita, atau kehadiran pasangan, yang tak terikat dengan budaya
keluarga, tak jarang membuat hati terluka karena perlakuan di luar norma yang
biasanya disepakati. Luka hati kadang tak hanya menimbulkan kekerasan verbal,
seperti celaan, kesombongan, kemarahan, namun juga kekerasan fisik. Kurangnya
kesabaran diri kita karena kesalahan kecil yang diperbuat saudara, membuat kita
lebih suka berkumpul dengan teman yang dirasa menyenangkan. Spirit senasib
sepenanggungan dalam hubungan kekeluargaan kian luntur.
Untuk
memulihkan rasa cinta dan hubungan kekeluargaan yang kokoh, butuh ruang dan
waktu serta upaya kesungguhan. Saat lebaran inilah waktu yang tepat
menyegarkannya kembali. Selain mempererat tali silaturahim, momen lebaran
dapat kita manfaatkan dalam mencairkan hubungan yang terganggu, dengan cara
saling bermaaf-maafan. Kata `maaf' bila diucapkan dengan kesungguhan merupakan
diksi yang bermakna sangat dalam. Kata `maaf' dapat mencairkan komunikasi yang
beku, memperbaiki hubungan, menenangkan dan menyem buhkan luka hati.
Permintaan
maaf dapat mengubah kehidupan seseorang. Ini adalah cara untuk menunjukkan rasa
hormat dan empati bagi orang dirugikan. Permintaan maaf dapat mencegah
kesalahpahaman lebih lanjut. Ketika kita melakukannya dengan tulus, permohonan
maaf ini meminimalisasi efek negatif dari luka yang telah ada, bahkan sangat
bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik kedua belah pihak.
Sebuah
penelitian menyimpulkan bahwa menerima permintaan maaf dapat menurunkan tekanan
darah yang semula naik dan menormalkan pernafasan. Seseorang yang telah dirugikan
merasa emosinya sembuh ketika hal yang menjengkelkannya diakui oleh pelaku
kesalahan. Bahkan, dia tidak lagi memandang pelaku kesalahan sebagai ancaman
pribadi atau terjebak di masa lalu yang merusak jiwa.
Sayangnya, ada asumsi
salah bahwa meminta maaf mempertontonkan kelemahan diri seseorang.
Dalam
sebuah riset yang dilakukan oleh Okimoto dari Universitas Quuensland,
disimpulkan bahwa orang yang merasa kekuasaannya lebih besar dari orang yang
akan dimintai maaf cenderung malas meminta maaf. Orang menjaga self esteem-nya dengan enggan meminta
maaf. Riset lain menyebut, laki-laki lebih susah meminta maaf daripada
perempuan. Jikapun meminta maaf, ucapan maaf yang diucapkan tidak disampaikan
dengan ketulusan.
Banyak
pula yang memanfaatkan budaya orang Indonesia yang biasa menyatakan "mohon
maaf lahir dan batin" sekadarnya. Kalimat yang tidak jauh beda bagai
sapaan "apa kabar". Untuk kondisi kesalahan yang kronis, gaya
menyampaikan maaf basa-basi itu tidak menyembuhkan. Inti penyampaian maaf
adalah kerendahan hati, pengakuan, pernyataan diri atas kekhilafan yang pernah
kita lakukan. Penyampaian maaf mampu melepaskan ego yang membelenggu diri dan
akhirnya mencairkan sekat-sekat hubungan yang tidak harmonis.
Untuk
mengoptimalkan komunikasi di momen penuh barokah ini, sangatlah tepat bila kita
menyadari bahwa kitalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan suasana dan
hubungan yang berkualitas. Ada baiknya kita menghindari hal-hal yang merusak
suasana kebersamaan.
Saatnya
kita menyegarkan jiwa dengan persatuan yang kuat di antara keluarga dan kerabat
dengan bersilaturahim. Mengingat fitrah khilaf yang melekat pada manusia,
karena itu, jangan malu meminta maaf dan jangan ragu memberi maaf. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar