Sabtu, 10 Agustus 2013

Komunikasi Lebaran

Komunikasi Lebaran
Leila Mona Ganiem ;  Pengamat Komunikasi
REPUBLIKA, 06 Agustus 2013


Lebaran sebentar lagi. Saat ini umumnya orang Indonesia berbondong-bondong mudik (pulang kampung), meski dalam kerepotan yang luar biasa. Pulang kampung bertemu sanak saudara bagai syarat lengkapnya hajatan besar ini. Agenda tahunan spiritual ini sangatlah disayangkan bila hanya memenuhi kebutuhan kebersamaan fisik.

Minimal ada dua manfaat komunikasi penting yang dapat dioptimalkan dengan datangnya Lebaran. Dua berkah itu adalah kesempatan bersilaturahim dan kesempatan bermaaf-maafan. Bersilaturahim mengeratkan kualitas hubungan dengan keluarga dan kerabat. Bermaaf-maafan ditujukan untuk memperbaiki permasalahan yang sangat mungkin ada dalam hubungan sebuah keluarga. 

Silaturahim berasal dari bahasa Arab. Shilah yang berarti menyambung, dan rahim bermakna rahim perempuan, yang diartikan dengan bebas sebagai `persaudaraan'. Hubungan persaudaraan terutama dalam keluarga seharusnya dilandasi oleh kasih sayang, perhatian, kepercayaan, memberi-menerima, kesediaan mengungkapkan unek-unek diri, serta dukungan emosional. Semua ini perlu upaya kesungguhan untuk menyuburkannya.

Pentingnya silaturahim tertuang dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah. "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahim." Melalui silaturahim, kita mempererat tali kekeluargaan, meningkatkan kualitas hubungan, saling keterbukaan, berbagi peluang, dukungan, menyelesaikan masalah bahkan momen pembentukan nilai-nilai karakter.

Berbagai kesibukan yang penting dan mendesak dari keseharian kita membuat prioritas silaturahim menjadi nomor sekian dalam agenda. Jarak geografis memperlebar jarak keakraban bahkan mengkikis rasa kasih-sayang di antara keluarga. Perbedaan status sosial ekonomi, sudut pandang, aliran keyakinan, tak jarang menimbulkan prasangka. Akibatnya malas saling berkunjung, interaksi makin jarang, bahkan kadang lupa mengundang satu sama lain dalam momen keluarga. Kian lamanya perpisahan, membuahkan keasingan satu-sama lain.

Generasi di bawah kita, atau kehadiran pasangan, yang tak terikat dengan budaya keluarga, tak jarang membuat hati terluka karena perlakuan di luar norma yang biasanya disepakati. Luka hati kadang tak hanya menimbulkan kekerasan verbal, seperti celaan, kesombongan, kemarahan, namun juga kekerasan fisik. Kurangnya kesabaran diri kita karena kesalahan kecil yang diperbuat saudara, membuat kita lebih suka berkumpul dengan teman yang dirasa menyenangkan. Spirit senasib sepenanggungan dalam hubungan kekeluargaan kian luntur.

Untuk memulihkan rasa cinta dan hubungan kekeluargaan yang kokoh, butuh ruang dan waktu serta upaya kesungguhan. Saat lebaran inilah waktu yang tepat menyegarkannya kembali. Selain mempererat tali silaturahim, momen lebaran dapat kita manfaatkan dalam mencairkan hubungan yang terganggu, dengan cara saling bermaaf-maafan. Kata `maaf' bila diucapkan dengan kesungguhan merupakan diksi yang bermakna sangat dalam. Kata `maaf' dapat mencairkan komunikasi yang beku, memperbaiki hubungan, menenangkan dan menyem buhkan luka hati.

Permintaan maaf dapat mengubah kehidupan seseorang. Ini adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat dan empati bagi orang dirugikan. Permintaan maaf dapat mencegah kesalahpahaman lebih lanjut. Ketika kita melakukannya dengan tulus, permohonan maaf ini meminimalisasi efek negatif dari luka yang telah ada, bahkan sangat bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik kedua belah pihak.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa menerima permintaan maaf dapat menurunkan tekanan darah yang semula naik dan menormalkan pernafasan. Seseorang yang telah dirugikan merasa emosinya sembuh ketika hal yang menjengkelkannya diakui oleh pelaku kesalahan. Bahkan, dia tidak lagi memandang pelaku kesalahan sebagai ancaman pribadi atau terjebak di masa lalu yang merusak jiwa. 

Sayangnya, ada asumsi salah bahwa meminta maaf mempertontonkan kelemahan diri seseorang.
Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Okimoto dari Universitas Quuensland, disimpulkan bahwa orang yang merasa kekuasaannya lebih besar dari orang yang akan dimintai maaf cenderung malas meminta maaf. Orang menjaga self esteem-nya dengan enggan meminta maaf. Riset lain menyebut, laki-laki lebih susah meminta maaf daripada perempuan. Jikapun meminta maaf, ucapan maaf yang diucapkan tidak disampaikan dengan ketulusan.

Banyak pula yang memanfaatkan budaya orang Indonesia yang biasa menyatakan "mohon maaf lahir dan batin" sekadarnya. Kalimat yang tidak jauh beda bagai sapaan "apa kabar". Untuk kondisi kesalahan yang kronis, gaya menyampaikan maaf basa-basi itu tidak menyembuhkan. Inti penyampaian maaf adalah kerendahan hati, pengakuan, pernyataan diri atas kekhilafan yang pernah kita lakukan. Penyampaian maaf mampu melepaskan ego yang membelenggu diri dan akhirnya mencairkan sekat-sekat hubungan yang tidak harmonis. 

Untuk mengoptimalkan komunikasi di momen penuh barokah ini, sangatlah tepat bila kita menyadari bahwa kitalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan suasana dan hubungan yang berkualitas. Ada baiknya kita menghindari hal-hal yang merusak suasana kebersamaan.


Saatnya kita menyegarkan jiwa dengan persatuan yang kuat di antara keluarga dan kerabat dengan bersilaturahim. Mengingat fitrah khilaf yang melekat pada manusia, karena itu, jangan malu meminta maaf dan jangan ragu memberi maaf. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar