Rabu, 14 November 2012

Momentum Bersih-Bersih


Momentum Bersih-Bersih
Mohammad Nasih ;  Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI
dan FISIP UMJ, Wakil Rektor STE Bank Islam Mr Sjafruddin Prawiranegara, Jakarta
SINDO, 13 November 2012



Harapan untuk menjadikan Indonesia bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dengan menjalankan secara konsisten agenda reformasi bisa dikatakan telah hilang, sebab yang terjadi tak lama setelah momentum gerakan besar pada Mei 1998 adalah paradoks-paradoks. 

Banyak harapan perbaikan yang berjawab sebaliknya. Dalam konteks KKN,praktik haram yang diharapkan hilang itu ternyata justru semakin menggila dan menggurita di segala level dan lini kekuasaan. Korupsi yang sebelumnya terjadi di pusat kekuasaan eksekutif saja, kemudian dan sampai kini terjadi di manamana, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Bahkan, trias politica yang diharapkan melahirkan fungsi checks and balances, justru berkomplot dan melakukan kongkalikong untuk menyelewengkan kekuasaan bersama-sama untuk berkorupsi. 

Dari sinilah muncul dan populer istilah “korupsi berjamaah”. Mereka berkolusi dengan berbagai macam cara, dari yang sembunyi-sembunyi sampai yang setengah terangterangan. Para elite penyelenggara negara juga tak segansegan melakukan praktik nepotisme, dengan menjadikan anggota-anggota keluarga mereka masuk dalam lingkaran kekuasaan dengan cara-cara yang melanggar aturan main dan menerabas etika. 

Suara-suara nyaring dari berbagai kelompok kritis untuk kembali pada agenda perbaikan Indonesia, salah satunya yang paling penting adalah menghentikan praktik korupsi, seolah menjadi angin lalu belaka. Praktik korupsi terus terjadi dalam struktur-struktur kekuasaan, tanpa memedulikan suara-suara yang membahana dalam setiap aksi antikorupsi di depan kantor-kantor lembaga kenegaraan yang di dalamnya terjadi indikasi kuat korupsi. 

Sampai kemudian, suara-suara tersebut seolah menjadi sesuatu yang biasabiasa saja.Biasa untuk diteriakkan dengan volume tertinggi oleh kumpulan massa dengan kekuatan numerik yang besar, tetapi biasa pula untuk diabaikan oleh mereka yang sedang menyelewengkan kekuasaan. Para elite penguasa juga memiliki sikap yang membuat situasi dan kondisi menjadi sangat kondusif bagi kelangsungan praktik KKN. Mereka memegang semacam prinsip “tahu sama tahu”. 

Dan prinsip “tahu sama tahu” ini, kemudian melahirkan sikap untuk tidak saling mengganggu. Yang penting, masing-masing pihak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan bagian. Jadilah praktik KKN sangat sistemik dan sistematik, sehingga sangat sulit dibuktikan.Kebenaran tentang adanya praktik korupsi hanya berhenti pada kebenaran logis, tidak bisa dibuktikan secara faktual dengan mengajukan bukti-bukti ke lembaga penegak hukum. 

Padahal, tindakan korupsi berada dalam ranah hukum. Dan bicara masalah hukum sesungguhnya, adalah bicara masalah bukti. Tanpa bukti, kebenaran logis menjadi tidak berarti dan lembaga penegak hukum menjadi tidak berdaya. Karena itu, praktik korupsi di Indonesia tampak hanya sebagai fenomena puncak gunung es.Yang terungkap hanyalah sebagian kecil, ibarat puncak gunung es yang hanya sedikit bagiannya yang menyembul, sementara bagian bawahnya yang besar tersembunyi di bawah permukaan air laut. 

Sesungguhnya masih sangat banyak skandal KKN yang terjadi, tetapi sulit dan bahkan tidak bisa diungkap oleh penegak hukum, karena selalu saja menghadapi kendala untuk mendapatkan bukti faktual. Atau kalau toh ada bukti faktual, tetapi mengalami kendala politis, sehingga kemudian dipetieskan. Karena para elite penyelenggara negara telah tahu sama tahu, masing-masing mereka, jika diibaratkan dengan permainan kartu, telah memiliki kartu-kartu mati lawanlawan politik mereka. 

Dengan begitu, mereka tidak akan berani membongkar skandal yang dilakukan oleh lawan-lawan politik, sebab lawan politik juga memiliki kartu yang bisa membuatnya mati. Jika ada pihak yang mengambil sikap membongkar, sesungguhnya telah ada pihak yang berani untuk mengambil risiko yang dikenal dengan ungkapan Jawa “tiji tibeh”, mati siji, mati kabeh. Jika satu mati maka akan mati semua. 

Jika yang satu jatuh maka yang lain juga akan diseret agar ikut jatuh.Tentu saja mereka tidak akan memilih cara yang dianggap konyol ini. Mereka akan lebih memilih untuk semuanya berjalan “normal-normal saja”. Sikap itulah yang kemudian menyebabkan sebuah skandal yang pada awalnya diramaikan oleh aksi saling serang para elite politik, kemudian hilang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. 

Bahkan,mereka yang awalnya berada di garda depan dengan semangat berkobar untuk membongkar,kemudian mengambil sikap “balik kanan” dan bahkan dengan tegas menyatakan bahwa membicarakan kembali kasus yang sebelumnya ramai dibicarakan sudah tidak relevan.Kejadian macam ini dalam permainan catur disebut dengan istilah “remis”.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Semua berakhir begitu saja, tanpa ada kejelasan dan hanya meninggalkan publik yang sebelumnya berharap besar menjadi kecewa. 

Keberanian Dahlan 

Keberanian Dahlan Iskan untuk mengungkapkan nama-nama anggota DPR yang melakukan pemalakan terhadap BUMN perlu dijadikan sebagai sebuah momentum untuk melakukan upaya bersih-bersih. Dahlan telah menyebut bahwa ada sekitar sepuluh nama yang melakukan tindakan pemalakan. Urusan bahwa dalam perkembangan kemudian ia hanya menyebut dua nama, itu harus dipahami bahwa nampaknya Dahlan berada dalam dilema besar, karena tidak menutup kemungkinan nama-nama lain yang masih disimpan di sakunya adalah nama-nama yang berasal dari partai inti kekuasaan. 

Sinyalemen yang disampaikan oleh Dahlan Iskan seharusnya dijadikan oleh para aktivis antikorupsi,dan terutama aparat penegak hukum yang masih memiliki idealisme mewujudkan Indonesia bersih sebagai momentum untuk merevitalisasi semangat menjadikan Indonesia terbebas dari praktik kolusi dan korupsi.Momentum ini sangat penting karena sangat jarang ada pejabat negara yang memiliki keberanian untuk berbicara apa adanya secara lantang. 

Jika momentum ini lewat, satu kesempatan untuk memulai kembali upaya bersihbersih juga hilang. Dan untuk mendapatkan momentum lagi, diperlukan pejabat yang memiliki keberanian lebih besar dibandingkan Dahlan, sebab sikap seolah memiliki keberanian besar sudah ditunjukkan oleh Dahlan. Namun, dia kemudian hanya menyebut dua nama. 

Dengan begitu, jika di masa yang akan datang ada yang memiliki keberanian dengan skala yang sama,bisa saja publik akan menjadi pesimistik, karena telah menduga bahwa kejadian yang sama akan terjadi. Mereka akan merasa bahwa itu hanyalah kejadian sebagaimana kata pepatah “hangat-hangat tahi ayam”, yang kemudian akan hilang dengan sendirinya tanpa harus didinginkan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar