Indonesia
Dibayangi Ancaman Kekeringan
|
Posman Sibuea ; Ketua LPPM dan Guru
Besar di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Katolik Santo Thomas
Sumatra Utara
|
MEDIA
INDONESIA, 14 Agustus 2012
KEKERINGAN yang melanda sejumlah negara menjadi peringatan serius
terhadap ketahanan pangan. Krisis air yang dialami sektor pertanian telah
mengakibatkan harga pangan melambung. Peringatan dini sudah dikumandangkan
lembaga internasional seperti FAO bahwa kenaikan harga pangan secara global tak
terhindarkan lagi. Kekeringan yang melanda Amerika Serikat merupakan serpihan
contoh yang membuat pengusaha tempe dan tahu di Indonesia meradang. Itu karena
harga kedelai asal AS melambung tinggi.
Di Indonesia pun, musim kemarau sudah mulai unjuk gigi. Pasalnya,
musim kemarau di negeri agraris ini identik dengan kekeringan yang acap
ekstrem. Saat ini banyak tanaman padi mengalami puso karena tidak mendapat air
cukup. Pasokan air sungai berkurang cukup drastis. Debit air terutama di Jawa
menyusut tajam. Sebagian besar petani tanaman pangan hanya dapat pasrah
terhadap dampak buruk kekeringan. Mereka cuma bisa menatap sawah yang sudah
ditanami padi makin lama makin kering dengan lumpur mengeras dan pecah-pecah
yang membuatnya tak layak disebut sawah.
Pertanyaannya, mengapa jika musim hujan terjadi banjir dan saat
musim kemarau terjadi defisit air atau kekeringan? Meski penyebabnya cukup
kompleks, satu hal yang bisa diamati secara kasatmata ialah di dataran tinggi
seperti gunung atau bukit, saat ini hutannya sudah gundul dan persawahan sudah
berubah menjadi perumahan. Ketika hujan turun di pegunungan, airnya langsung
mengalir ke sungai dan lempeng menuju laut.
Pemanasan Global
Indonesia kini dibayangi ancaman kekeringan yang efeknya semakin
nyata di tengah warga seiring dengan datangnya fenomena pemanasan global.
Dampak buruk pemanasan global bukan lagi sekadar wacana. Fakta ilmiah
menunjukkan Bumi sudah semakin panas dan kehidupan manusia semakin tidak nyaman.
Persoalan besar lainnya akan semakin banyak orang kehilangan tempat tinggal
akibat serangan badai dan bencana ekologi lainnya. Jumlah penduduk dunia yang
mengalami kekurangan air akan terus bertambah.
Tak termungkiri lagi, pemanasan global merupakan persoalan konkret
yang sedang berlangsung saat ini. Cuaca tidak menentu yang kerap menyebabkan
banjir dan kekeringa an merupakan salah satu ciric cirinya. Perubahan iklim
akan memperburuk sektor pertanian di perdesaan dan konsekuensi logisnya, akan
jumlah orang yang kelaparan bertambah secara signifikan. Masyarakat perdesaan
yang menggantungkan hidup dari pertanian akan mengalami proses pemiskinan yang
kian berat.
Laporan para pakar yang tergabung dalam Panel Antarpemerintah
tentang Perubahan Iklim menyebutkan salah satu penyebab pemanasan global ialah
konsumsi energi berlebihan. Bumi dieksploitasi untuk memenuhi konsumsi yang
diciptakan, bukan konsumsi yang lahir karena kebutuhan dasar. Untuk memenuhi
konsumsi itu, terjadi pembakaran bahan bakar fosil dan eksploitasi tanah untuk
pertanian, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, naman industri, hingga
bahan tambang.
Konsumsi energi yang berlebihan itu pada gilirannya akan
meningkatkan pro duksi gas karbon dioksida (CO2), metana, dan oksida nitrogen
di udara yang membentuk atap kaca di atas ruang at mosfer, membuat panas sinar
matahari terhalang tak bisa lepas ke luar. Sadar atau tidak, manusia terus
berlomba merusak lingkungan.
Aktivitas berlebihan sejumlah orang dalam mencari kenikmatan lewat
penggunaan alat penyejuk udara telah mencederai lapisan ozon yang berada di ketinggian sekitar 20 km dari permukaan Bumi
yang ber fungsi sebagai saringan alam untuk menahan sinar ultraviolet
bergelombang pendek dari matahari. Freon
mengandung klorin yang digunakan dalam
alat penyejuk udara (AC) telah membolongi saringan alam ini secara dahsyat.
Bahan kimia perusak ozon itu, selain digunakan sebagai bahan pendingin di
lemari es dan AC, juga mudah ditemukan dalam styrofoam, cairan pembersih atau aerosol, hingga pendorong (spray) pada perlengkapan kosmetik.
Kearifan Ekologi
Dua abad industrialisasi telah merusak keseimbangan kimiawi
atmosfer Bumi. Alih fungsi lahan yang kian masif untuk kebutuhan perkebunan
sawit dan miliaran ton gas karbon dioksida dimuntahkan ke udara oleh
negara-negara industri dan berjuta-juta ton gas metana disemburkan dari
eksplorasi gas Bumi. Muaranya, suhu Bumi naik secara signifikan dan mendorong
munculnya krisis air. Upaya penanggu langannya patut segera dirumuskan sebagai
tanggung jawab moral bersama untuk membangun sebuah `kearifan ekologi'.
Laju konversi lahan pertanian di Indonesia sebesar 100 ribu
hektare per tahun dan tingginya perusakan hutan, selain mengancam pilar ketahanan
pangan, juga mencederai pembangunan berkelanjutan. Suara rakyat kian nyaring
mengkritisi laju konversi lahan ke perkebunan kelapa sawit. Mereka menuduh
perkebunan kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Industri tersebut mendorong
percepatan perubahan iklim.
Komersialisasi kelapa sawit di Indonesia telah menetaskan berbagai
masalah lingkungan. Terakhir ialah masalah perubahan iklim akibat alih fungsi
hutan menjadi perkebunan sawit. Kampanye yang terus digulirkan sejumlah LSM
menempatkan Indonesia sebagai mesin perusak hutan tercepat di dunia. Rusaknya
hutan dituding sebagai penyebab utama pemanasan global.
Patut diakui, hutan Indonesia tengah mengalami tekanan yang luar
biasa akibat perluasan kelapa sawit. Jika pada 1980 luas perkebunan kelapa
sawit di Indonesia baru mencapai 29.560 hektare--terbatas hanya di Sumatra
Utara dan Aceh--dengan produksi 0,7 juta ton CPO, pada 2011 Indonesia memiliki
perkebunan kelapa sawit seluas 8,9 juta hektare dengan produksi CPO 24,1 juta
ton (Sibuea, 2012).
Tentang alih fungsi hutan guna percepatan perluasan perkebunan
kelapa sawit, ada yang tidak adil dalam kasus tersebut. Penilaian kemampuan
hutan Indonesia untuk meredam secara alami efek gas rumah kaca kerap diabaikan.
Yang ditonjolkan hanyalah perluasan perkebunan kelapa sawit dan menjaga
kelestarian hutan dilalaikan.
Di sisi lain, negara-negara maju yang telah lama kehilangan hutan
sejak revolusi industri berjalan tidak disebut sebagai penghasil gas rumah kaca
terbesar dunia. Hutan di negara berkembang dijadikan tumpuan menyerap karbon
buangan negara maju. Kerusakan hutan di Indonesia menjadi alasan yang
menghambat ekspor produk CPO asal Indonesia karena dinilai berkontribusi atas
terjadinya pemanasan global.
Citra positif industri perkebunan sawit di Indonesia harus
dibangun secara baik. Pendekatan sistematis melalui pedoman perkebunan kelapa
sawit berkelanjutan Indonesia (Indonesian
sustainable palm oil/ISPO) yang sudah diluncurkan sejak Maret 2011 perlu
dukungan akademik dari perguruan tinggi yang mampu menjelaskan ISPO dan
membuktikan secara ilmiah bahwa perkebunan kelapa sawit dapat menjaga
lingkungan, melindungi masyarakat setempat, dan menjaga kelestarian sumber daya
hutan sesuai dengan tuntutan masyarakat global.
Suhu Bumi yang naik sekitar 1 derajat celsius bila dibandingkan
dengan seabad silam memperlihatkan perubahan iklim secara dramatis. Gagal panen
pun kerap membayangbayangi hidup dan kehidupan petani. Efek domino perubahan
iklim terus menghantam pilar ketahanan pangan. Ketersediaan bahan pangan utama
di dalam negeri yang kian tergerus mendorong keran impor beras dan pangan lainnya
dibuka setiap tahun, yang menghabiskan devisa yang jumlahnya tidak sedikit.
Karena itu, perubahan iklim
menjadi tantangan tersendiri dan dijadikan momen penting guna merancang program
revitalisasi pertanian berkelanjutan yang membumi guna mewujudkan pembangunan
kedaulatan pangan. Masa depan bangsa ini harus diarahkan ke Indonesia yang
hijau, sustainable, dan sejahtera.
Pembangunan berkelanjutan menuntut perubahan gaya hidup dari yang berbasis
ekonomi kapitalistis menjadi ekonomi hijau yang pro-poor, pro-job, pro-growth, dan pro-environment. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar