Rabu, 15 Agustus 2012

Indonesia Dibayangi Ancaman Kekeringan


Indonesia Dibayangi Ancaman Kekeringan
Posman Sibuea ; Ketua LPPM dan Guru Besar di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Katolik Santo Thomas Sumatra Utara
MEDIA INDONESIA,  14 Agustus 2012


KEKERINGAN yang melanda sejumlah negara menjadi peringatan serius terhadap ketahanan pangan. Krisis air yang dialami sektor pertanian telah mengakibatkan harga pangan melambung. Peringatan dini sudah dikumandangkan lembaga internasional seperti FAO bahwa kenaikan harga pangan secara global tak terhindarkan lagi. Kekeringan yang melanda Amerika Serikat merupakan serpihan contoh yang membuat pengusaha tempe dan tahu di Indonesia meradang. Itu karena harga kedelai asal AS melambung tinggi.

Di Indonesia pun, musim kemarau sudah mulai unjuk gigi. Pasalnya, musim kemarau di negeri agraris ini identik dengan kekeringan yang acap ekstrem. Saat ini banyak tanaman padi mengalami puso karena tidak mendapat air cukup. Pasokan air sungai berkurang cukup drastis. Debit air terutama di Jawa menyusut tajam. Sebagian besar petani tanaman pangan hanya dapat pasrah terhadap dampak buruk kekeringan. Mereka cuma bisa menatap sawah yang sudah ditanami padi makin lama makin kering dengan lumpur mengeras dan pecah-pecah yang membuatnya tak layak disebut sawah.

Pertanyaannya, mengapa jika musim hujan terjadi banjir dan saat musim kemarau terjadi defisit air atau kekeringan? Meski penyebabnya cukup kompleks, satu hal yang bisa diamati secara kasatmata ialah di dataran tinggi seperti gunung atau bukit, saat ini hutannya sudah gundul dan persawahan sudah berubah menjadi perumahan. Ketika hujan turun di pegunungan, airnya langsung mengalir ke sungai dan lempeng menuju laut.

Pemanasan Global

Indonesia kini dibayangi ancaman kekeringan yang efeknya semakin nyata di tengah warga seiring dengan datangnya fenomena pemanasan global. Dampak buruk pemanasan global bukan lagi sekadar wacana. Fakta ilmiah menunjukkan Bumi sudah semakin panas dan kehidupan manusia semakin tidak nyaman. Persoalan besar lainnya akan semakin banyak orang kehilangan tempat tinggal akibat serangan badai dan bencana ekologi lainnya. Jumlah penduduk dunia yang mengalami kekurangan air akan terus bertambah.

Tak termungkiri lagi, pemanasan global merupakan persoalan konkret yang sedang berlangsung saat ini. Cuaca tidak menentu yang kerap menyebabkan banjir dan kekeringa an merupakan salah satu ciric cirinya. Perubahan iklim akan memperburuk sektor pertanian di perdesaan dan konsekuensi logisnya, akan jumlah orang yang kelaparan bertambah secara signifikan. Masyarakat perdesaan yang menggantungkan hidup dari pertanian akan mengalami proses pemiskinan yang kian berat.

Laporan para pakar yang tergabung dalam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim menyebutkan salah satu penyebab pemanasan global ialah konsumsi energi berlebihan. Bumi dieksploitasi untuk memenuhi konsumsi yang diciptakan, bukan konsumsi yang lahir karena kebutuhan dasar. Untuk memenuhi konsumsi itu, terjadi pembakaran bahan bakar fosil dan eksploitasi tanah untuk pertanian, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, naman industri, hingga bahan tambang.

Konsumsi energi yang berlebihan itu pada gilirannya akan meningkatkan pro duksi gas karbon dioksida (CO2), metana, dan oksida nitrogen di udara yang membentuk atap kaca di atas ruang at mosfer, membuat panas sinar matahari terhalang tak bisa lepas ke luar. Sadar atau tidak, manusia terus berlomba merusak lingkungan.

Aktivitas berlebihan sejumlah orang dalam mencari kenikmatan lewat penggunaan alat penyejuk udara telah mencederai lapisan ozon yang berada di ketinggian sekitar 20 km dari permukaan Bumi yang ber fungsi sebagai saringan alam untuk menahan sinar ultraviolet bergelombang pendek dari matahari. Freon mengandung klorin yang digunakan dalam alat penyejuk udara (AC) telah membolongi saringan alam ini secara dahsyat. Bahan kimia perusak ozon itu, selain digunakan sebagai bahan pendingin di lemari es dan AC, juga mudah ditemukan dalam styrofoam, cairan pembersih atau aerosol, hingga pendorong (spray) pada perlengkapan kosmetik.

Kearifan Ekologi

Dua abad industrialisasi telah merusak keseimbangan kimiawi atmosfer Bumi. Alih fungsi lahan yang kian masif untuk kebutuhan perkebunan sawit dan miliaran ton gas karbon dioksida dimuntahkan ke udara oleh negara-negara industri dan berjuta-juta ton gas metana disemburkan dari eksplorasi gas Bumi. Muaranya, suhu Bumi naik secara signifikan dan mendorong munculnya krisis air. Upaya penanggu langannya patut segera dirumuskan sebagai tanggung jawab moral bersama untuk membangun sebuah `kearifan ekologi'.

Laju konversi lahan pertanian di Indonesia sebesar 100 ribu hektare per tahun dan tingginya perusakan hutan, selain mengancam pilar ketahanan pangan, juga mencederai pembangunan berkelanjutan. Suara rakyat kian nyaring mengkritisi laju konversi lahan ke perkebunan kelapa sawit. Mereka menuduh perkebunan kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Industri tersebut mendorong percepatan perubahan iklim.

Komersialisasi kelapa sawit di Indonesia telah menetaskan berbagai masalah lingkungan. Terakhir ialah masalah perubahan iklim akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Kampanye yang terus digulirkan sejumlah LSM menempatkan Indonesia sebagai mesin perusak hutan tercepat di dunia. Rusaknya hutan dituding sebagai penyebab utama pemanasan global.

Patut diakui, hutan Indonesia tengah mengalami tekanan yang luar biasa akibat perluasan kelapa sawit. Jika pada 1980 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia baru mencapai 29.560 hektare--terbatas hanya di Sumatra Utara dan Aceh--dengan produksi 0,7 juta ton CPO, pada 2011 Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 8,9 juta hektare dengan produksi CPO 24,1 juta ton (Sibuea, 2012).

Tentang alih fungsi hutan guna percepatan perluasan perkebunan kelapa sawit, ada yang tidak adil dalam kasus tersebut. Penilaian kemampuan hutan Indonesia untuk meredam secara alami efek gas rumah kaca kerap diabaikan. Yang ditonjolkan hanyalah perluasan perkebunan kelapa sawit dan menjaga kelestarian hutan dilalaikan.

Di sisi lain, negara-negara maju yang telah lama kehilangan hutan sejak revolusi industri berjalan tidak disebut sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar dunia. Hutan di negara berkembang dijadikan tumpuan menyerap karbon buangan negara maju. Kerusakan hutan di Indonesia menjadi alasan yang menghambat ekspor produk CPO asal Indonesia karena dinilai berkontribusi atas terjadinya pemanasan global.

Citra positif industri perkebunan sawit di Indonesia harus dibangun secara baik. Pendekatan sistematis melalui pedoman perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia (Indonesian sustainable palm oil/ISPO) yang sudah diluncurkan sejak Maret 2011 perlu dukungan akademik dari perguruan tinggi yang mampu menjelaskan ISPO dan membuktikan secara ilmiah bahwa perkebunan kelapa sawit dapat menjaga lingkungan, melindungi masyarakat setempat, dan menjaga kelestarian sumber daya hutan sesuai dengan tuntutan masyarakat global.

Suhu Bumi yang naik sekitar 1 derajat celsius bila dibandingkan dengan seabad silam memperlihatkan perubahan iklim secara dramatis. Gagal panen pun kerap membayangbayangi hidup dan kehidupan petani. Efek domino perubahan iklim terus menghantam pilar ketahanan pangan. Ketersediaan bahan pangan utama di dalam negeri yang kian tergerus mendorong keran impor beras dan pangan lainnya dibuka setiap tahun, yang menghabiskan devisa yang jumlahnya tidak sedikit.

Karena itu, perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri dan dijadikan momen penting guna merancang program revitalisasi pertanian berkelanjutan yang membumi guna mewujudkan pembangunan kedaulatan pangan. Masa depan bangsa ini harus diarahkan ke Indonesia yang hijau, sustainable, dan sejahtera. Pembangunan berkelanjutan menuntut perubahan gaya hidup dari yang berbasis ekonomi kapitalistis menjadi ekonomi hijau yang pro-poor, pro-job, pro-growth, dan pro-environment.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar