(Persepsi
tentang) Kepribadian Pemimpin
Reza Indragiri Amriel ;
Psikolog Forensik, Anggota Asosiasi Psikologi Islami
|
KORAN
SINDO, 07 Juli 2014
|
Di tengah caci-maki, baku fitnah, dan saling hujat antarpendukung calon
presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), riset tentang
kepribadian capres-cawapres yang dilakukan–antara lain–UI dan UNPAD patut
dihargai.
Kontribusi ilmiah dari perguruan tinggi diharapkan dapat membantu
masyarakat luas memiliki referensi lebih luas sebelum memutuskan untuk
memilih duet capres-cawapres tertentu. Dalam survei tersebut, jika harus
dipetakan berdasarkan menang-kalah, Jokowi-Jusuf Kalla mengungguli Prabowo-
Hatta Rajasa. Pasangan nomor dua dinilai baik oleh responden hampir pada
seluruh sifat kepribadian.
Sementara duet nomor satu memperoleh penilaian positif pada beberapa
sifat saja. Dalam survei tersebut, para responden adalah komunitas psikologi
sendiri. Penentuanresponden tersebut hingga derajat tertentu menjadikan hasil
survei lebih legitimate . Komunitas psikologi selama ini dianggap sebagai
pihak yang paling kompeten dalam memahami dan menilai individu. Termasuk,
barangkali, ketika individu dimaksud adalah capres-cawapres.
Bagaimana hasil survei tersebut dipresentasikan dan bagaimana
(sebagian) media kemudian mengemasnya menjadi bahan ulasan, perlu disikapi
secara bijak. Ini menjadi hal serius agar khalayak luas tidak terposisikan ke
kedudukan inferior sehingga secara apriori memfungsikan hasil survei tersebut
sebagai–katakanlah– acuan kebenaran.
Hemat saya, ada dua hal berbeda yang perlu disampaikan secara lebih
tegas kepada publik. Pertama, dengan mengidentifikasi para peneliti dan
metode yang mereka terapkan, bisa dipastikan bahwa survei tersebut sangat
akurat, dalam pengertian bahwa survei tersebut benar-benar mengungkap dan
menyajikan data sematamata perihal persepsi para anggota komunitas psikologi
tentang kepribadian capres-cawapres.
Di dalam data tersebut niscaya tidak ada respons insinyur, pilot,
tukang ledeng, arsitek, pesulap, dan profesi-profesi lain. Dengan demikian,
tak perlu ada pertanyaan apalagi bantahan tentang kebenarannya. Itulah
penilaian para warga psikologi tentang Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, titik.
Beda penyikapan tertuju pada hal kedua yakni apakah persepsi para responden
memang benar-benar sesuai kondisi kepribadian para capres dan cawapres.
Dengan kata lain, perlu cermatan lebih seksama terhadap seberapa jauh
kesebangunan antara watak capres-cawapres dengan apa yang para warga
psikologi pikirkan tentang watak keempat pemimpin masa depan Indonesia
tersebut. Masyarakat perlu diberikan garis bawah bahwa penelitian tersebut
bukan merupakan–katakanlah– bedah psikologis secara langsung terhadap diri
kedua pasangan capres dan cawapres.
Pada ihwal itu ada beberapa alasan untuk mengedepankan skeptisisme.
Alasan utama, sudah seberapa jauh sesungguhnya para responden secara tekun
mempelajari perjalanan hidup para capres-cawapres yang menjadi objek survei.
Kepribadian manusia adalah sesuatu yang kompleks. Atas dasar itu, jangankan
untuk memperoleh potret utuh, untuk mendapat gambaran memadai tentang trait
individu pun sesungguhnya membutuhkan kerja besar.
Anggaplah misalnya sebagian responden patut dianggap sebagai ilmuwan
yang telaten mencoba mempelajar i diri Jokowi. Tapi, bagaimana dengan
responden lain? Pun seintens apakah ilmuwan yang sama pada saat yang sama
juga sempat membaca kepribadian Prabowo, Hatta, dan JK dengan level kedalaman
setara?
Kedua, seberapa tinggi sesungguhnya kualitas produk kognitif para
pemikir profesional (kalangan terdidik) dibandingkan dengan orang biasa?
Semestinya, dengan asumsi bahwa kaum intelektual- profesional memiliki
perbendaharaan pengetahuan lebih luas dan konstelasi sinaps di dalam otak
mereka lebih kompleks, masuk akal untuk berkeyakinan bahwa mutu pemikiran
mereka jauh lebih tinggi dari orang biasa.
Tapi, silakan kaget! Daniel Kahneman dan Amos Tversky (1973) ternyata
membangun simpulan berbeda berdasarkan studi-studi mereka mengenai proses
kognitif dan–lebih spesifik–proses pembuatan keputusan manusia. Menerima
nobel di bidang ekonomi, Kahneman (dan Tversky) memberikan warisan emas bagi
dunia psikologi dalam memahami aktivitas berpikir manusia.
Bertitik tolak dari pandangan dasar mereka bahwa mustahil manusia mampu
berpikir secara rasional (komprehensif, sistematis, dan kompleks), Kahneman
dan Tversky menyimpulkan bahwa manusia lebih sering mempraktikkan proses
berpikir jalan pintas. Di mata keduanya, ketika dituntut untuk membuat
keputusan yang kompleks, manusia justru acap gagal menganalisis situasi
secara utuh.
Kerja kognitif jalan pintas itu bisa dikatakan merupakan keniscayaan
karena faktanya banyak hal yang harus dipikirkan atau dikerjakan oleh manusia
secara bersamaan dalam waktu yang terbatas dan dengan stamina yang terbatas
pula. Walau berpikir heuristic tidak
serta-merta buruk, dalam salah satu riset Kahneman dan Tversky menyinggung
bahwa proses berpikir jalan pintas juga bisa menghasilkan jebakan kognitif
berupa bias representatif (representative
bias).
Melalui eksperimen, Kahneman dan Tversky meminta para subjek untuk
menentukan sekian nama dengan karakteristik- karakteristik tertentu sebagai
pengacara dan sekian nama lain sebagai teknisi mesin. Si X misalnya karena
bersifat konservatif dikelompokkan sebagai teknisi. Sementara si Y yang
menggemari debat dimasukkan subjek eksperimen ke dalam kelompok pengacara.
Kahneman dan Tversky melihat bahwa pengasosiasian melalui proses
stereotyping berlangsung sangat kuat melatarbelakangi para subjek ketika
melakukan kategorisasi. Proses tersebut jauh lebih berpengaruh ketimbang
informasi dasar yang telah Kahneman Tversky berikan sebelumnya kepada para
subjek eksperimen. Error kognitif ternyata juga tidak bisa dihindari oleh
dokter, insinyur, serta berbagai pemangku profesi dan kaum intelektual lain.
Karena bukti ilmiah menunjukkan bahwa orang awam ternyata menghasilkan
produk kognitif yang tak terpaut jauh–bahkan setara– dengan pemikir kelas
kakap, melesetnya persepsi para anggota komunitas psikologi tentang
kepribadian Prabowo- Hatta dan Jokowi-JK pun menjadi dugaan yang memiliki
basis ilmiah. Basis tersebut adalah bias representatif.
Artikel ini pada akhirnya sepantasnya ditanggapi sebagai sambutan
positif terhadap para pelaku survei di atas. Akan lebih besar lagi
sesungguhnya pencerahan psikologi yang bisa diberikan tim penyurvei kepada
publik kalau penjelasan teoritis tentang proses mental yang terjadi di dalam
kepala para responden juga dipaparkan secara terbuka.
Kritisi ini dilontarkan sebagai safeguard
agar hasil survei tidak dimanfaatkan oleh pihak mana pun dengan mendistorsi
realita bahwa penelitian tersebut seolah menyajikan gambaran tentang
kepribadian para capres-cawapres. Produk intelektual berupa survei politik
tersebut ”sebatas” persepsi atau penilaian pihak ketiga (responden) terhadap
sifat-sifat empat kandidat pemimpin nasional.
Akhirul kalam , satu garis bawah patut ditarik yakni hasil riset yang
diselenggarakan dengan iktikad luhur (tanpa agenda setting menyimpang) tidak
sepantasnya dimanipulasi sebagai amunisi politik untuk merendahkan kubu mana
pun dalam kontes Pemilihan Presiden 2014.
Kata-kata bijak dilontarkan Nabi Muhammad SAW ratusan tahun silam dan
kembali menemukan relevansinya hari ini, ”Cintailah
orang yang kamu cintai dengan sewajarnya karena boleh jadi kelak ia akan
menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang kau benci dengan
sewajarnya sebab mungkin saja suatu hari nanti ia akan menjadi orang yang
engkau cintai .” Wallahualam” . ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar