Membangun
Optimisme Bangsa
M Joko Lelono ; Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sanata Dharma
|
KORAN
JAKARTA, 20 Maret 2014
|
Dalam
kehidupan, ada saatnya bosan, jenuh, dan muak atas situasi yang tidak
menyenangkan. Hari berganti, situasi bukannya membaik, malah memburuk.
Situasi
demikian pernah dialami orang yang menjalani kemoterapi atau harus menjalani
cuci darah. Mereka cemas dengan masa depan yang kian tak menentu.
Gambaran
pribadi tersebut bisa juga terjadi pada masyarakat atau suatu bangsa.
Indonesia yang sedang sakit membawa pesimisme dalam diri masyarakat.
Indonesia
layak jenuh melihat kasus-kasus korupsi sedemikian banyak. Uang yang diperas
dari keringat rakyat dijarah secara liar oleh pejabat negara.
Banyak
pejabat meraup korupsi ratusan miliar, sementara ada warga yang hanya makan
nasi aking setiap hari. Ironi ini begitu mengerikan, untuk tidak mengatakan
kejam.
Di
tengah situasi demikian, wajar bila masyarakat merasa jenuh, bosan, dan muak.
Berita korupsi yang berkelindan dengan pembakaran hutan, kerusakan
lingkungan, pembunuhan, perceraian artis, dan berbagai musibah kecelakaan
menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat yang menambah kemuakan dan kejenuhan.
Mental demikian
harus diubah karena bangsa tak boleh hanya meratapi kehidupan. Dalam logika
kehidupan, semuanya berjalan dan berganti.
Tidak
ada sesuatu yang pasti, tetap, dan terus bertahan. Ada saatnya kehilangan
orang-orang yang dicintai entah karena kematian atau harus berpindah. Tak
lama berselang, datang orang-orang baru dalam kehidupan.
Orang
dewasa kehilangan masa kecil. Kemudian dia harus mulai menyesuaikan diri
dengan kehidupan baru, beserta situasi baru pula. Dari logika ini, bisa
dipelajari bahwa kesulitan dan tantangan tidak boleh menghentikan jejak
langkah manusia. Hidup terus harus dihidupi. Hidup yang tidak dihidupi adalah
kematian. The show must go on.
Rasanya,
lebih baik menyalakan lilin kecil daripada terus-menerus mengutuk kegelapan.
Soekarno mengatakan, "Revolusi
belum selesai!" Indonesia masih membutuhkan masyarakat untuk bangkit
dengan optimisme membangun masa depan. Masyarakat harus terus membangun mimpi
Indonesia sejahtera.
Masyarakat
terus dicekoki berbagai berita negatif tentang politik sampai soal pribadi di
panggung hiburan. Misalnya, dari berita korupsi, terbuka juga info soal
perceraian seorang pengacara dengan mantan penyanyi terkenal. Media secara
vulgar mengumbar permusuhan antarartis.
Media
secara terang-terangan membuka kedok negatif politisi yang gagal menjaga
moral atau secara jelas menceritakan sisi negatif kehidupan keluarga dengan
gosip-gosip murahan. Indoktrinasi ini membuat masyarakat dengan mudah
memandang negatif situasi negara.
Fenomena
Menarik
untuk membaca fenomena terakhir, saat ada pembunuhan seorang mahasiswi
bernama Ade Sara. Cerita pembunuhannya sendiri memang mengerikan. Namun, yang
menarik sikap hati Suroto dan Elisabeth Diana. Kedua orang tua Ade Sara itu
dengan tegas mengatakan, "Hafitd
dan Assyifa, Mama dan Papa mengampuni kalian berdua."
Mereka
beralasan kedua pelaku sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kata-kata
Elizabeth yang melawan arus normal zaman ini menjadi oase di tengah padang
gurun yang serba bermusuhan yang penuh balas dendam.
Saat
masyarakat dipenuhi, digiring, oleh satu logika bernama balas dendam dan
penghukuman, ada logika lain bernama pengampunan. Di tengah arus itu, ada
hukum pengampunan yang membuat orang lalu bisa memutus rantai balas dendam
dan menjadikan hidup lebih mudah dijalani.
Dalam
logika balas dendam, yang ada rantai permusuhan yang pada akhirnya melahirkan
kekerasan. Dalam arena ini, kisah Ade Sara menjadi sebentuk warta yang perlu
dikabarkan.
Mengapa
tidak kisah macam ini diwartakan lebih sering? Atau lebih tepatnya mengapa
tidak bangsa ini lebih sering menghadirkan logika semacam itu? Sebuah
pencerahan di tengah karut marut bangsa. Saya mendengar dalam siaran sebuah
radio berdurasi dua menit berjudul, "Dua
menit positif tentang Indonesia!"
Siaran
itu merupakan salah satu usaha membangun masyarakat bersikap positif. Media
harus lebih banyak membangun pikiran positif agar masyarakat semakin segar.
Pada
hari-hari terakhir menjelang pemilu, bangsa dihadapkan pada pertanyaan,
"Seberapa besarkah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara?"
Seruan "jangan golput" muncul di sana-sini menjadi gambaran bahwa
golput mulai jadi momok. Pertanyaan selanjutnya, seberapa optimiskah bangsa
akan ada perbaikan setelah pemilu?
Golput,
terlepas dari berbagai alasan dan halangan praktis, menjadi gambaran
ketidakpercayaan masyarakat pada negara. Namun, apakah ini sikap yang baik?
Banyak orang mengatakan tidak. Satu suara memang tidak akan sangat menentukan
hasil pemilu. Namun, kalau ada 1.000 orang mengatakan, satu orang tidak
menentukan hasil pemilu, maka akan ada 1.000 suara hilang.
Dalam
suasana ini, apakah rakyat akan pesimistis? Rasanya masyarakat harus hadir
menawarkan kesegaran dalam konteks kesediaan membangun negeri. Masyarakat
perlu membangun optimisme. Media membangun citra pencerahan bagi kehidupan
pribadi dan negara, sementara pemilu menjadi jalan bersama membangun bangsa.
Filsuf
mistis Jawa, Ki Ageng Suryamentaram, menuliskan, "Hidup yang sempurna tidak akan pernah ada. Hidup semacam itu
hanya terjadi dalam imajinasi yang berupaya menutupi hasrat tak terpuaskan
atas kebahagiaan abadi" (Afthonul
Afif, peny, 2012).
Mungkin
memang masyarakat ideal Indonesia tidak pernah akan dicapai dan selalu hanya
menjadi mimpi, tetapi perlu terus membangun optimisme. Tujuannya bukanlah
untuk terus meratapi masa lampau, tetapi mulai berpikir demi kebaikan masa
depan.
Ki Ageng
Suryamentaram juga menulis, "Di dalam Pancasila, Indonesia memiliki
sekumpulan prinsip yang mampu menyulut sikap mental berujung pada dukungan
terhadap persatuan bangsa.
Hal
terpenting dari kelima sila tersebut adalah "kedaulatan rakyat (panguwasa rakyat), yang oleh Ki Ageng
Suryamentaram dimaknai sebagai pengakuan atas hak kebebasan setiap individu
atau pengutamaan semangat sosial yang melampaui dorongan instingtif
tersembunyi dari tiap manusia ("kebinatangan yang ada dalam diri
manusia").
Pada
titik inilah semangat luhur (raos luhur)
yang mengejawantah dalam Pancasila dapat digunakan manusia Indonesia:
semangat kemanusiaan, semangat nasionalisme, dan keadilan sosial" (Afthonul Afif, peny, 2012). Di sini
harapan akan kemajuan sebuah bangsa perlu terus diusahakan oleh tiap
individu.
Semoga
pemilu kali ini menjadi milik rakyat demi mulai membangun optimismenya.
Dukungan media dibutuhkan untuk membangun citra positif demi kemajuan bangsa.
Meratapi masa lalu bukanlah sikap untuk maju.
Meratap
sebentar boleh untuk belajar, tetapi harus langsung bangkit membangun hidup
lebih baik. Masa depan masih panjang. Bangsa harus bergairah. Jangan hanyamuak,
mengeluh, dan meratap tanpa bisa memberi solusi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar