Komunikasi
Budi Setyarso ;
Wartawan Tempo
|
TEMPO.CO,
13 Maret 2014
|
Di ujung
utara Sulawesi Selatan, saya menikmati hasil positif demokrasi. Tepatnya di
Masamba, sekitar delapan jam bermobil dari Makassar. Ibu kota Kabupaten Luwu
Utara itu juga bisa ditempuh satu jam menggunakan pesawat kecil-umumnya
berpenumpang 8-12 orang-dari Bandar Udara Hassanudin, Makassar.
Pada
malam hujan lebat, Kamis pekan lalu, Bupati Arifin Junaidi duduk di satu
ruang studio stasiun radio swasta lokal yang ditata dengan kursi melingkar.
Ruang ini berupa lantai satu ruko, terbuka dan terhubung dengan teras, tempat
kafe menyajikan aneka makanan. Mungkin karena hujan, tak banyak pengunjung
hadir. Hanya belasan orang. Itu pun sebagian anggota staf Bupati. Aroma mi
instan menguar di sekujur ruang.
Yang
membuat saya kagum, Bupati malam itu bicara langsung melalui radio kepada
masyarakatnya. Ia bertanya-jawab dengan pembawa acara, tentang rekrutmen tenaga
honorer kategori II menjadi calon pegawai negeri. Program itu didemo
sekelompok masyarakat beberapa hari sebelumnya, dengan tuduhan hanya
menguntungkan segolongan orang.
Bupati
memanggil pendengar radio dengan sebutan "anak-anakku". Ia menjelaskan tentang proses rekrutmen
yang merupakan program pemerintah pusat itu. Pada akhir acara, ia memberi
kesempatan kepada masyarakat yang datang dan pendengar radio untuk bertanya.
Tak ada pertanyaan, memang. Yang ada malah dukungan dan segera saja dipotong
oleh pembawa acara.
Bagi
saya, berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat melalui radio
memerlukan keberanian-dan sikap terbuka dari politikus. Sebab, masyarakat
bisa saja mengajukan pertanyaan yang di luar dugaan. Dan ini menarik, karena
program yang diberi nama "Warung Demokrasi" itu rutin digelar di
Luwu Utara. Yang duduk di depan mikrofon bisa bupati, wakil bupati, atau
pejabat lainnya. Bergantung pada topik yang dibicarakan.
Saya
kira, kegiatan semacam ini juga dilakukan di banyak tempat. Dulu, ketika
menjadi Bupati Kebumen, Jawa Tengah, Rustriningsih setiap pagi berkomunikasi
melalui radio dengan masyarakatnya. Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto pada
waktu menjabat juga menyapa masyarakatnya melalui siaran radio setiap Senin
pagi. Aneka problem rakyat disampaikan dalam komunikasi interaktif ini.
Pada
zaman Orde Baru, hubungan kepala daerah dan masyarakat tak bisa
"sedekat" itu. Bupati atau wali kota terpisah tembok tinggi dengan
rakyatnya. Mereka tinggal di istana yang dijaga protokoler ketat. Apalagi
pada saat itu banyak kepala daerah yang masih berpangkat perwira aktif, yang
menjaga hierarki dengan kuat.
Jika
masih ada kepala daerah dengan "sifat" semacam itu pada era
demokrasi ini, mereka adalah pemimpin yang ketinggalan zaman. Pemimpin
sekarang sepatutnya melibatkan sebanyak mungkin peran masyarakat. Komunikasi
yang cair merupakan elemen penting dalam kepemimpinan. Apalagi kemajuan
teknologi komunikasi termasuk media sosial mendukung usaha ke arah itu.
Saya
menghargai kepala daerah-atau politikus-yang tetap terjangkau konstituennya
dan rajin berkomunikasi menggunakan Twitter atau media sosial lainnya.
Terutama jika mereka memegang sendiri akunnya tanpa bantuan administrator.
Tak harus sepanjang hari. Mereka perlu membagi waktu dengan cerdas. Tentu
saja, pemimpin daerah juga tidak perlu memerintahkan anak buahnya menggunakan
media sosial. Apalagi rajin "twit
war" dengan kepala daerah lainnya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar