Indonesia,
antara Mayoritas dan Minoritas
Ali Mustafa Yaqub ;
Imam Besar Masjid Istiqlal,
Advisor Darul Uloom, New York
|
KOMPAS,
14 Maret 2014
|
SABTU, 1
Maret 2014, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta menerima kunjungan 15 wartawan
yang tergabung dalam East and West Center yang bermarkas di Honolulu, Hawaii,
AS. Kunjungan para wartawan ini dalam rangka berdialog dengan Imam Besar
tentang masalah Islam dan demokrasi. Dialog ini merupakan yang ketiga
kalinya.
Dialog
kali ini berlangsung hampir dua jam. Ada pertanyaan menarik oleh wartawan
dari Myanmar dan wartawati dari India. Mereka mengatakan bahwa mayoritas
penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Namun, mereka tidak melihat adanya
konflik antar-pemeluk agama Islam sebagai mayoritas dan pemeluk agama lain
sebagai minoritas. Kemudian mereka bertanya apa yang menyebabkan konflik
antarumat beragama itu tidak terjadi di Indonesia?
Pertanyaan
mereka ini boleh jadi karena mereka membandingkan antara kehidupan beragama
di Indonesia dan kehidupan beragama di negara masing-masing, yaitu Myanmar
dan India. Kepada mereka, kami menjelaskan bahwa Islam memiliki prinsip dalam
menjaga kerukunan antarumat beragama. Prinsip itu, sebagaimana disebut di
dalam Al Quran, adalah ”Lakum dinukum
waliyadin” (for you your religion
and for me my religion) dan seperti disebut juga di dalam hadis Nabi SAW,
”Sesungguhnya orang-orang Yahudi dari
Kabilah Bani ’Auf adalah satu bangsa dengan umat Islam. Bagi orang-orang
Yahudi, agama mereka dan bagi orang-orang Islam, agama mereka.”
Prinsip
ini berarti kelompok non-Muslim punya hak untuk menjalankan ajaran agamanya,
sementara kelompok Muslim tak boleh mengganggu mereka. Pada saat yang sama,
kelompok Muslim juga memiliki hak menjalankan ajaran agama mereka, sementara
kelompok non-Muslim tak boleh mengganggu mereka.
Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi semua makhluk hidup di alam
raya ini. Islam juga tidak hanya untuk Muslim. Karena itu, Islam menegaskan:
orang Muslim yang membunuh non-Muslim dzimmi
(yang satu warga negara dengan Muslim), maka ia tak akan masuk ke dalam
surga. Kendati di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, tidak ada
ajaran sedikit pun yang membolehkan orang Islam menghabisi kelompok
non-Muslim meski mereka minoritas.
Di Indonesia,
baik sebelum merdeka maupun sesudah merdeka, tidak pernah ada seorang pun
yang mengatakan bahwa Indonesia adalah milik orang Muslim. Inilah ajaran
Islam yang diterapkan oleh umat Islam di Indonesia ataupun di negara-negara
mayoritas Muslim lainnya.
Keterangan
ini tampaknya menarik bagi mereka, khususnya dua wartawan dari Myanmar dan
India. Tampaknya mereka tak pernah mengenal prinsip seperti itu: kelompok
mayoritas wajib melindungi kelompok minoritas. Tak dimungkiri, terkadang
memang ada sedikit gesekan antara umat beragama di Indonesia, tetapi hal itu
hanya merupakan kasus-kasus sesaat yang tidak jadi konflik berkepanjangan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar