Ikhwan
Membelah Timteng
Azis Anwar Fachrudin ;
Koordinator Forum
Studi Arab dan Islam
(FSAI), Yogyakarta
|
REPUBLIKA,
17 Maret 2014
|
Kabar mutakhir dari Timur
Tengah: Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, yang kontra-Mursi
dan al-Ikhwan al-Muslimun, menarik dubes-dubesnya dari Qatar, satu-satunya
pendukung Ikhwan di kawasan Teluk. Warta ini makin menunjukkan,
ditumbangkannya Mursi pada Juni tahun lalu telah menyebabkan polarisasi tajam
di Timur Tengah.
Arab Saudi sudah "berfatwa"
bahwa Ikhwan adalah organisasi teroris (jama'ah irhabiyyah). Ikhwan menjadi
satu-satunya organisasi tak bersenjata, tidak seperti Hizbullah misalnya,
yang dilabeli teroris oleh Saudi. Dan dengan corak pemerintahan
totalitariannya, muncul sejumlah kemungkinan bahwa Saudi akan memberi sanksi
warganya yang memberikan dukungan kepada Ikhwan.
Kabar ini, kendatipun sudah
diduga sejak lama, sebab Mesir sendiri pun sudah memberi label teroris ke
Ikhwan, menyisakan sejumlah kejanggalan. Label itu diduga kuat hanya untuk
mempertahankan stabilitas posisi Saudi dkk dalam mendukung rezim Mesir saat
ini.
Salafi dan Ikhwani kini sedang
bersitegang. Salafi kentara sisi pragmatisnya-- dan karena itu cukup
dimaklumi jika Ikhwan menuduhnya sebagai pengkhianat perjuangan
Islam--politik.
Saudi sebagai representasi
Salafisme di kawasan wajib
mengamankan interes politiknya. Dan tentu sikap Saudi ini tidak ada kaitannya
sama sekali dengan prospek demokrasi di Mesir. Amerika saja tidak sefrontal
Saudi. Amerika justru mencabut bantuan rutin tahunan ke militer Mesir, dan
belum melabeli Ikh wan sebagai teroris.
Ambiguitas di Suriah
Kejanggalan lainnya yang nanti
akan menyeruak pula ialah sikap oposisional terhadap rezim Suriah saat ini.
Saudi, Qatar, dan Turki ialah tiga negara yang menjadi penyokong terbesar
oposisi Suriah. Jamak diketahui, gerakan politik terkuat di dalam oposisi
Suriah kini ialah Islamis-Ikhwan.
Posisi Qatar dan Turki dalam
kasus Mesir dan Suriah sampai saat ini adalah pendukung Ikhwan. PM Turki
Erdogan dianggap sebagai penghasut dan pemecah belah Mesir, bahkan oleh Al-Azhar,
karena mempopulerkan Rabi'a (yang kini jadi simbol perlawanan pendukung
Ikhwan). Aljazeera (punya Qatar) menjadi corong propaganda pendukung Ikhwan--tapi
kini sudah dijegal dari Mesir oleh rezim as-Sisi.
Tapi di Mesir, Saudi mendukung
rezim militer, antara lain dengan bantuan 12 miliar AS, sebagai ganti dari
dicabutnya bantuan rutin Amerika. Sejak tumbangnya Mursi, al-Arabiya (punya
Saudi) dan Aljazeera saling beradu berita, yang satu sama lain bisa saling
bertentangan propaganda.
Dengan ketegangan yang sudah sedemikian
panas antara Saudi dengan Qatar, apakah itu akan merembet pada sikap
kesepahamannya dalam kasus Suriah?
Apakah Saudi akan menarik dukungannya
terhadap Ikhwan yang dominan di Koalisi Nasional Suriah (grup oposisi
terbesar di Suriah)? Ini masih menjadi pertanyaan besar dan masih menunggu
jawab. Kalau polarisasi Saudi-Qatar benar mencapai titik akut, maka
diprediksi bahwa di tubuh oposisi Suriah pun akan muncul faksionalisasi.
Tapi, terlepas dari soal itu, satu garis merah setidaknya bisa diambil kesimpulan:
Ikhwan telah menjadi kekuatan proxy baru di Timur Tengah.
Proxybaru
Ikhwan menjadi kekuatan
proxybaru sebab, kita tahu, selepas sapuan angin Arab Spring tiga tahun mutakhir, Ikhwan dan segala afiliasi
politiknya di Timteng dan Afrika Utara memenangi pemilu. Ikhwan menjadi
pemain besar dalam geopolitik Timteng, yang semula hanya dihegemoni oleh
proxySaudi vs Iran.
Di Tunisia, misalnya, selepas
rezim an-Nahdhah menyatakan bahwa yang terjadi di Mesir adalah "kudeta
terhadap legitimasi" (al-inqilab
dhidd as-syar'iyyah), kekuatan sekuler turun ke jalanan. Kaum sekuler
menyerukan pembubaran Dewan Konstituante Tunisia. Di antara korbannya:
Mohamed Brahmi, politikus kiri-sekuler, tewas. Tapi kabar baiknya, an-Nahdhah
sigap menangkap sinyalemen kasus Mesir: bahwa jika mereka ngotot, maka
zero-sum game akan memanaskan tensi politik. An-Nahdhah mau berkompromi.
Di Libya pun terjadi friksi.
Setelah as-Sisi berhasil mengudeta Mursi, faksi sekuler Libya menginginkan
militer dapat lebih tegas menghalau ekstrimis Islam mendominasi parlemen,
terutama menyikapi kasus di Benghazi. Demikian pula di Maroko. Partai
Keadilan dan Pembangunan (afiliasi Ikhwan di Maroko yang telah memenangkan
pemilu) menerima ancaman dari faksi sekuler setelah terjadi kudeta terhadap
Mursi. Itu dilakukan, antara lain, dengan menarik dirinya Partai Istiqlal,
koalisi Ikhwan-Maroko, dari parlemen dan menuntut PM Maroko untuk mundur.
Tapi "Efek Mesir" (the Egypt effect) paling panas
tetaplah terjadi di kawasan Syam (Levant). Di sini kita melihat jejaring aliansi
yang rumit diurai: Di Suriah, Iran mendukung rezim Assad, sedangkan
negara-negara Teluk menentang Assad. Assad kontra terhadap Ikhwan. Ikhwan dan
Amerika menentang rezim interim Mesir kini. Namun negara-negara Teluk, minus
Qatar, mendukung rezim as- Sisi.
Sikap paradoks: negara-negara
Teluk bersetuju dengan Ikhwan di Suriah, tapi berseberangan secara ekstrim
dengan Ikhwan dalam menyikapi Mesir. Iran adalah pendukung Hamas melawan
Israel. Hamas mendukung Ikhwan. Rezim Obama mendukung Ikhwan di Mesir. Sedang
Ikhwan kontra rezim Assad. Ada sikap paradoks lagi: di Mesir, Ikhwan sependapat
dengan Iran, sedangkan di Suriah, Ikhwan berseberangan secara ekstrim dengan
Iran.
Begitulah, kita tak lagi bisa
memetakan geopolitik Arab kini sekadar perang proxySuni-Syiah atau
Iran-Amerika.
Faksi Islamis terbelah. Bahkan,
proxy Barat-sekuler pun tak sepaham. Opisisinya tak lagi biner. Dengan
dimasukkanya Ikhwan ke daftar hitam oleh rezim-rezim di Arab kini, geopolitik
Arab meng alami--meminjam istilah Marwan Muasher, analis Timur Tengah--"reshuffle"
aliansi. Dan kabar yang kurang menggembirakan ialah, aliansi yang sudah rumit
itu dipanas-panasi oleh zero sum politik Islamis vs sekuler. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar