Jalan
Terjal Jokowi
Karel Susetyo ;
Analis Politik POINT Indonesia
|
SINAR
HARAPAN, 10 Januari 2014
|
Tahun 2013 menjadi masa kejayaan bagi Joko Widodo alias
Jokowi. Namanya merajai hampir seluruh survei calon presiden (capres).
Angkanya bahkan jauh melampaui para capres lain.
Tak sampai di situ, sejumlah kelompok organisasi
pendukungnya pun mulai bermunculan, mulai yang bergerak di sosial media
sampai kelompok massa, dari sekadar simpatisan sampai fanatik.
Sejumlah pengamat politik mencoba “bermain aman” dengan
tidak mengkritik Jokowi. Siapa pun yang mengkritik dirinya, harus siap
mengambil langkah tidak populis dan berhadapan dengan para pendukung Jokowi
di ranah sosial media. Jokowi memang telah menjadi magnet besar dalam politik
nasional sepanjang 2013.
Kehadirannya di kancah politik nasional menjadi fenomena,
di luar pakem yang
berlangsung selama ini bahwa seorang capres adalah
pemimpin partai politik (parpol).
Lalu, apakah fakta tersebut mendorong Jokowi berhasil
menjadi presiden pada pemilihan presiden (pilpres) nanti? Sejauh mana Jokowi
menghadapi beragam variabel politik di luar kontrol dirinya. Apa saja itu?
Tulisan ini mencoba membedah beberapa fakta politik untuk menjawab kedua
pertanyaan tersebut.
Membaca peta politik 2014, tak mungkin kita mengabaikan
faktor Megawati dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mengapa
demikian? Itu karena PDIP adalah partai tempat Jokowi bernaung selama ini.
Setiap konstelasi internal yang bergerak dinamis memiliki pengaruh terhadap
pencapresan Jokowi nanti. Sebagai kader, Jokowi tak mungkin bergerak sendiri
dalam Pilpres 2014.
Berdasarkan kongres terakhir PDIP, Megawati masih menjadi
satu-satunya capres dari Partai Banteng Gemuk tersebut. Putusan itu masih
solid dan bulat sampai saat ini. Tak ada nama lain yang muncul, baik sebagai
figur pendamping atau sekadar figur alternatif, termasuk Jokowi tentunya.
Sikap politik resmi PDIP ini tentunya tak diperlihatkan jelas di hadapan publik.
Pada berbagai kesempatan, Megawati justru selalu tampil
“mesra” dengan Jokowi. Hal ini dapat dipahami, Megawati tak ingin melawan
arus dengan mengucilkan Jokowi, yang merupakan pesaingnya sebagai capres. Di
satu sisi, Megawati ingin memanfaatkan tingginya popularitas dan
elektabilitas Jokowi untuk mendongkrak perolehan suara PDIP di pemilu
legislatif (pileg). Itu sesuatu yang lumrah dalam politik praktis.
PDIP sebagai organisasi politik tak lepas dari berbagai
kepentingan di dalamnya. Hal itu terepresentasikan dalam bentuk faksi-faksi
internal. Apalagi, PDIP merupakan kepanjangan napas PDI, parpol fusi dengan
spektrum ideologi luas.
Secara politis, Jokowi bukan berasal dari faksi mana pun
dan tidak menjadi bagian faksi-faksi tersebut. Posisi ini bisa membawa
keuntungan bagi Jokowi. Ia dapat berdiri di atas semua faksi dan menjadi
titik temu kepentingan semua faksi.
Di sisi lain, Jokowi tak memiliki kekuatan politik yang
berarti secara internal, meski memiliki posisi tawar yang tinggi di luar
partai. Kondisi ini tak mudah bagi Jokowi. Ibaratnya, semua faksi menjadikan
dirinya sebagai vote getter, hanya upaya taktis belaka.
Hal yang tak kalah penting adalah mencermati konstelasi
Pemilu 2014. Data elektorat pemilu menyajikan fakta, PDIP mengalami tren
penurunan sejak Pemilu 1999. Pada pemilu 1999, PDIP tampil perkasa dengan
mendulang suara nasional sebesar 35,689,073 (33,74 persen).
Fakta ini dapat dipahami bahwa PDIP merupakan representasi
kekuatan politik anti status quo Ode Baru (Orba) yang paling militan dan
konsisten ketika itu. Tentunya, pemilih sedang berada pada euforia politik
pasca-Orba.
Situasi justru berbeda ketika PDIP menghadapi Pemilu 2004
dan 2009. Pada Pemilu 2004, PDIP hanya memperoleh 21,026,629 (18,53 persen)
suara. Kenyataan ini didapat justru ketika Megawati menempati posisis
presiden petahana.
Pemilu 2009 pun tak membawa hasil yang baik bagi PDIP.
Pada pemilu ini, mereka hanya memperoleh 14,600,091 (14,03 persen) suara.
Situasi ini diperburuk dengan menjadikan Megawati capres. Ia gagal kedua
kalinya dalam kompetisi pilpres sejak 2004.
Menilik data elektorat tersebut, adangan terbesar bagi
pencapresan Jokowi, apabila lolos dalam dinamika internal, adalah kemungkinan
PDIP menghadapi penurunan suara dalam Pemilu 2014. Namun, bukankah figur Jokowi
merupakan vote getter terbaik yang pernah dimiliki PDIP? Setidaknya hal itu
dibuktikan dengan selalu menjadi juaranya Jokowi di hampir semua survei
capres sepanjang 2013.
Faktanya di lapangan, berbagai hasil survei tersebut
justru dimentahkan sejumlah kegagalan calon gubernur (cagub) dari PDIP dalam
banyak pemilihan kepala daerah (pilkada) pasca-Pilkada Jakarta. Padahal dalam
berbagai pilkada itu, Jokowi dijadikan vote
getter dan aktif memberikan political
endorsement untuk para cagub PDIP.
Itu terhitung Pilkada Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur
(Jatim), Bali, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Selatan (Sumsel), para
cagub PDIP bertumbangan. Artinya, tak terjadi sinkronisasi antara simpatisan
dan pendukung Jokowi, yang secara otomatis juga memilih PDIP, meski Jokowi
identik dengan PDIP.
Prediksi dari beberapa hasil survei Pemilu 2014
menunjukkan, tak ada parpol yang bisa melampaui presidential threshold untuk
kemudian melaju sendirian dalam pencapresan. Parpol-parpol jelas harus
berkoalisi, sebagaimana terjadi pada dua pilpres sebelumnya.
PDIP bagaimana pun harus menjaga komitmen kontrak
politiknya dengan Partai Gerindra yang dibangun pada Pilpres 2009, meski
internal PDIP resmi menolak fakta akan adanya kontrak tersebut. Namun, publik
telah mengamini kebenaran keberadaannya pada Partai Gerindra.
Apabila PDIP melaksanakan kontrak tadi, tak mungkin
Prabowo Subianto bersanding dengan Jokowi dan ditempatkan sebagai calon wakil
presiden (cawapres). Kondisi ini akan semakin rumit karena tak dapat
dimungkiri, pencalonan Jokowi dalam Pilkada Jakarta hadir dari adanya tangan
dingin Prabowo dan Hasjim.
Meski namanya merajai sejumlah survei capres, tak berarti
dengan mudah Jokowi menjadi capres dari PDIP. Itu karena variabel internal
PDIP harus dibaca sebagai rintangan awal. Tentunya, PDIP memikirkan tidak
hanya memenangi pemilu dan pilpres 2014, tapi juga masa depan partainya
apabila Jokowi berhasil naik sebagai presiden setelah Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY).
Akan terjadi perubahan drastis di tingkat internal dan pergeseran
kekuasaan dari keluarga Sukarno kepada kelompok lain yang berada dalam
gerbong Jokowi. Tak mungkin proses tersebut berlalu secara damai. Setidaknya
riak-riak kecil akan terjadi. Keutuhan dan soliditas PDIP menjadi taruhannya,
mengingat stabilitas internal yang dibangun Megawati selama ini membawa PDIP
sebagai partai yang disiplin.
Buat Jokowi, jalan menuju kursi presiden memang tak
semudah berkompetisi pada Pilkada Jakarta 2012. Pada saat itu, Jokowi jelas
menjadi titik sentral representasi kekuatan PDIP di persaingan politik ibu
kota. Semua potensi kekuatan dari berbagai faksi yang ada bersatu untuk
kemenangan PDIP, yang terepresentasikan dalam sosok Jokowi.
Semua faksi unjuk gigi melawan Partai Demokrat. Namun,
tatkala Jokowi tampil sebagai capres, ia berhadapan dengan fatsun politik
seluruh faksi internal PDIP, Megawati sebagai capres adalah harga mati.
Mampukah Jokowi melewati semua jalan terjal itu? Walahuallam bishawab. Hanya waktu yang membuktikan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar