Kamis, 15 Agustus 2013

Potret Karakter Pemudik

Potret Karakter Pemudik
Ferdinand Hindiarto Dosen Fakultas Psikologi,
Wakil Rektor III Unika Soegijapranata Semarang
SUARA MERDEKA, 13 Agustus 2013


FENOMENA mudik tidak hanya menarik untuk dibahas dari dimensi ekonomi, sosiologis, dan kultural. Dalam dimensi dan perspektif psikologi, fenomena mudik menyimpan banyak hal menarik untuk dikaji dan dikembangkan. Banyak sisi-sisi psikologi yang dapat dipetik dari fenomena itu dan selanjutnya menjadi titik pengembangan pribadi.

Dengan demikian fenomena mudik tidak hanya dihiasi oleh hiruk-pikuk persiapan perbaikan jalan yang tak kunjung beres, tidak juga hanya dilukisi dengan jumlah korban meninggal akibat kecelakaan, atau hanya disibukkan dengan ketidaksiapan berbagai moda transportasi yang layak. Paling tidak terdapat lima aspek psikologi yang patut digali dari fenomena mudik. Jika pemudik dapat memanfaatkannya, mudik akan menjadi suatu hal produktif.

Pertama; tradisi mudik sesungguhnya menggambarkan profil atau karakter orang Indonesia yang pantang menyerah dan penuh perjuangan. Bagaimana tidak? Jutaan orang yang menjalani tradisi itu harus berjuang agar sampai di kampung tempat kelahirannya. Perjuangan dimulai dari mengumpulkan biaya mudik, yang mungkin bagi sebagian besar pe­mudik harus dilakukan sejak berbulan-bulan lalu.

Perjuangan keras berikutnya adalah selama dalam perjalanan ke kampung halaman. Bila menggunakan moda transportasi darat atau laut, mereka harus berjuang selama puluhan jam . Lelah, rasa kantuk, bosan dan burukya jalan harus mereka hadapi. Mereka harus bertahan agar selamat sampai tujuan. Bagi pemudik yang mengunakan jasa kereta api atau kapal laut, bahkan harus berjuang beberapa bulan sebelumnya untuk antre dan mendapatkan tiket.

Pada saat pemberangkatan pun mereka harus berjuang dalam antrean panjang, sesak, dan melelahkan. Perilaku-perilaku pemudik tersebut lebih dari cukup untuk menggambarkan bahwa sesungguhnya masyarakat kita memiliki karakter sangat positif, yaitu penuh perjuangan dan pantang menyerah.
Jika suatu saat menghadapi kesulitan besar dalam hidup, kita dapat mengingat kembali pengalaman menghadapi berbagai kesulitan saat mudik dan kita akan menjadi pribadi yang tak mudah menyerah. Karakter tersebut adalah aset bagi bangsa. Soft capital yang seharusnya dikelola dengan baik oleh para pemimpin.

Kedua; perilaku mudik membuktikan bagaimana  emosi, dalam hal ini emosi rindu atau kangen, dapat menjadi kekuatan luar biasa besar. Didorong oleh rasa kangen kepada saudara dan kampung halaman, pemudik memiliki energi sangat besar untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam perjalanan.

Ketahanan dan kekuatan mereka dalam perjalanan itu tidak akan dimiliki ketika dilakukan dalam kon­disi normal atau hari biasa. Keinginan untuk segera bertemu saudara dan sampai di kampung halaman, ditranformasi menjadi kekuatan sangat besar. Energi itulah yang akan menjadikan manusia  lebih produktif.

Ketiga; fenomena mudik sebenarnya dapat menjadi suatu mekanisme pelepasan stres yang sangat efektif. Pemudik dalam waktu beberapa hari melepaskan segala macam beban, penat dan tekanan yang dialami sehari-hari dalam hidup. Mereka yang sebagian besar hidup di kota besar, tiap hari dihadapkan pada berbagai bentuk stressor.

Bentuk Katarsis

Kemacetan jalan tiap hari harus dihadapi. Kesesakan dan kepadatan lingkungan tempat tinggal adalah stressor dalam bentuk lain. Maka mudik adalah salah satu bentuk katarsis yang cukup efektif untuk melepaskan emosi-emosi negatif. Bertemu dengan saudara, bertemu dengan teman semasa kecil, menikmati suasana alam desa yang relatif lebih segar adalah bentuk katarsis yang efektif.

Keempat; fenomena mudik tidak dapat dimungkiri dapat menjadi media bagi sebagian pemudik untuk mengekspresikan aktualisasi diri yang telah dicapai. Per­juangan di tanah rantau yang disertai kesuksesan dalam karier dan pekerjaan, bagi sebagian pemudik perlu untuk diekspresikan kepada saudara di kampung halaman. Ekspresi itu tak hanya memuaskan pemudik tetapi juga menjadi sumber kebanggaan bagi keluarga di kampung halaman.

Kelima; perilaku mudik sesungguhnya dapat menjadi media bagi pemudik untuk menimba ilmu atau energi baru. Tradisi bertemu dengan saudara, dan teman lama adalah media yang sangat efektif untuk saling berbagi berbagai macam hal positif. Berbagi kisah sukses, berbagi cerita perjuangan, berbagi ide bisnis dan sebagainya dapat menjadi sumber inspirasi bagi pemu­dik untuk mengembangkan diri sekembalinya dari kampung halaman.

Kisah dan cerita itu bisa lebih hebat daripada materi pelatihan motivasi atau buku motivasi. Kisah dan cerita yang nyata dan langsung dari pelaku tentunya lebih mengena.
Bahkan tidak menutup kemungkinan, sharing cerita dan ide itu bisa menginspirasi untuk membangun jaringan bisnis yang baru setelah mudik.

Sambil menyelam minum air. Barang­kali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan deskripsi. Sambil mudik, kita juga mengembangkan diri melalui berbagai hal positif. Dengan demikian mudik kita akan menjadi mudik produktif, bukan semata-mata konsumtif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar