|
FENOMENA
mudik tidak hanya menarik untuk dibahas dari dimensi ekonomi, sosiologis, dan
kultural. Dalam dimensi dan perspektif psikologi, fenomena mudik menyimpan
banyak hal menarik untuk dikaji dan dikembangkan. Banyak sisi-sisi psikologi
yang dapat dipetik dari fenomena itu dan selanjutnya menjadi titik pengembangan
pribadi.
Dengan
demikian fenomena mudik tidak hanya dihiasi oleh hiruk-pikuk persiapan
perbaikan jalan yang tak kunjung beres, tidak juga hanya dilukisi dengan jumlah
korban meninggal akibat kecelakaan, atau hanya disibukkan dengan ketidaksiapan
berbagai moda transportasi yang layak. Paling tidak terdapat lima aspek
psikologi yang patut digali dari fenomena mudik. Jika pemudik dapat
memanfaatkannya, mudik akan menjadi suatu hal produktif.
Pertama;
tradisi mudik sesungguhnya menggambarkan profil atau karakter orang Indonesia
yang pantang menyerah dan penuh perjuangan. Bagaimana tidak? Jutaan orang yang
menjalani tradisi itu harus berjuang agar sampai di kampung tempat
kelahirannya. Perjuangan dimulai dari mengumpulkan biaya mudik, yang mungkin
bagi sebagian besar pemudik harus dilakukan sejak berbulan-bulan lalu.
Perjuangan
keras berikutnya adalah selama dalam perjalanan ke kampung halaman. Bila
menggunakan moda transportasi darat atau laut, mereka harus berjuang selama puluhan
jam . Lelah, rasa kantuk, bosan dan burukya jalan harus mereka hadapi. Mereka
harus bertahan agar selamat sampai tujuan. Bagi pemudik yang mengunakan jasa
kereta api atau kapal laut, bahkan harus berjuang beberapa bulan sebelumnya
untuk antre dan mendapatkan tiket.
Pada
saat pemberangkatan pun mereka harus berjuang dalam antrean panjang, sesak, dan
melelahkan. Perilaku-perilaku pemudik tersebut lebih dari cukup untuk
menggambarkan bahwa sesungguhnya masyarakat kita memiliki karakter sangat
positif, yaitu penuh perjuangan dan pantang menyerah.
Jika
suatu saat menghadapi kesulitan besar dalam hidup, kita dapat mengingat kembali
pengalaman menghadapi berbagai kesulitan saat mudik dan kita akan menjadi
pribadi yang tak mudah menyerah. Karakter tersebut adalah aset bagi bangsa.
Soft capital yang seharusnya dikelola dengan baik oleh para pemimpin.
Kedua;
perilaku mudik membuktikan bagaimana emosi, dalam hal ini emosi rindu
atau kangen, dapat menjadi kekuatan luar biasa besar. Didorong oleh rasa kangen
kepada saudara dan kampung halaman, pemudik memiliki energi sangat besar untuk
mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam perjalanan.
Ketahanan
dan kekuatan mereka dalam perjalanan itu tidak akan dimiliki ketika dilakukan
dalam kondisi normal atau hari biasa. Keinginan untuk segera bertemu saudara
dan sampai di kampung halaman, ditranformasi menjadi kekuatan sangat besar.
Energi itulah yang akan menjadikan manusia lebih produktif.
Ketiga;
fenomena mudik sebenarnya dapat menjadi suatu mekanisme pelepasan stres yang
sangat efektif. Pemudik dalam waktu beberapa hari melepaskan segala macam
beban, penat dan tekanan yang dialami sehari-hari dalam hidup. Mereka yang
sebagian besar hidup di kota besar, tiap hari dihadapkan pada berbagai bentuk
stressor.
Bentuk Katarsis
Kemacetan
jalan tiap hari harus dihadapi. Kesesakan dan kepadatan lingkungan tempat
tinggal adalah stressor dalam bentuk lain. Maka mudik adalah salah satu bentuk
katarsis yang cukup efektif untuk melepaskan emosi-emosi negatif. Bertemu
dengan saudara, bertemu dengan teman semasa kecil, menikmati suasana alam desa
yang relatif lebih segar adalah bentuk katarsis yang efektif.
Keempat;
fenomena mudik tidak dapat dimungkiri dapat menjadi media bagi sebagian pemudik
untuk mengekspresikan aktualisasi diri yang telah dicapai. Perjuangan di tanah
rantau yang disertai kesuksesan dalam karier dan pekerjaan, bagi sebagian
pemudik perlu untuk diekspresikan kepada saudara di kampung halaman. Ekspresi
itu tak hanya memuaskan pemudik tetapi juga menjadi sumber kebanggaan bagi
keluarga di kampung halaman.
Kelima;
perilaku mudik sesungguhnya dapat menjadi media bagi pemudik untuk menimba ilmu
atau energi baru. Tradisi bertemu dengan saudara, dan teman lama adalah media
yang sangat efektif untuk saling berbagi berbagai macam hal positif. Berbagi
kisah sukses, berbagi cerita perjuangan, berbagi ide bisnis dan sebagainya
dapat menjadi sumber inspirasi bagi pemudik untuk mengembangkan diri
sekembalinya dari kampung halaman.
Kisah
dan cerita itu bisa lebih hebat daripada materi pelatihan motivasi atau buku
motivasi. Kisah dan cerita yang nyata dan langsung dari pelaku tentunya lebih
mengena.
Bahkan
tidak menutup kemungkinan, sharing cerita dan ide itu bisa menginspirasi untuk
membangun jaringan bisnis yang baru setelah mudik.
Sambil
menyelam minum air. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan
deskripsi. Sambil mudik, kita juga mengembangkan diri melalui berbagai hal
positif. Dengan demikian mudik kita akan menjadi mudik produktif, bukan
semata-mata konsumtif. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar