Sabtu, 10 Agustus 2013

Ilusi-Ilusi Idul Fitri

Ilusi-Ilusi Idul Fitri
Asep Salahudin ;  Esais dan Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya, Tasikmalaya
MEDIA INDONESIA, 07 Agustus 2013

SELEPAS Lebaran hampir dipastikan yang saya, dan mungkin juga lainnya, lakukan ialah pulang ke kampung halaman. Bersilaturahim dengan orangtua dan kaum kerabat. Sambil mencicipi aneka kue yang disuguhkan dalam bentuk dan rasa nyaris sama. Kemudian dilanjutkan acara berziarah kepada mereka yang telah mendahului kita. Tafakur, bermunajat, dan mengirim doa sambil mengenang seluruh jejak-jejak silam yang telah ditorehkannya ketika masih hayat.

Sepanjang jalan pergi dan pulang dari perkuburan tidak hentinya kita ulurkan tangan dengan raut semringah kepada yang berpapasan sambil meminta maaf sekaligus mengucap selamat Hari Raya Idul Fitri lengkap dengan doa yang nyaris menjadi klise, yakni minal aidzin wal-faizin taqabballohu minna waminkum. Sesekali menanyakan kabar di perantauan atau kabar mereka yang tidak lama bersua. Kepada kawan akrab diajaknya untuk mengobral lebih lama lagi di teras rumah.

Membincang hal ihwal. Boleh jadi sampai larut malam ditemani kakaren (kue untuk Lebaran) tradisional khas Lebaran dalam tradisi Sunda serupa ranginang, wajit, saroja, opak, dodol, apem, kue ali, burayot, bugis, dapros, dan lain sebagainya.

Selepas ritus-sosial Lebaran, biasanya seminggu setelah itu, kita kembali dalam rutinitas kerja. Kembali bergumul dengan dunianya masingmasing. Untuk kemudian, kalau Tuhan menghendaki, dipertemukan kembali dengan puasa dan Lebaran yang akan datang. Siklus yang nyaris berputar terus seperti itu. Bahkan juga dari sisi hal yang negatif tampaknya akan tetap tidak akan banyak mengalami perubahan. Peristiwa seakan berdaur ulang. Bergerak menuju titik tuna perubahan bahkan mungkin tuna kebenaran.

Dalam ranah sosial masih tetap digaduhkan dengan banyak kemungkaran horizontal. Sebut saja korupsi yang nyaris tak ubahnya lingkaran setan dengan penyelesaian yang serbatidak jelas. Yang satu tertangkap di belakangnya menunggu ribuan koruptor masih antre dari semua sektor layaknya negara yang dengan sempurna telah tersekap dalam sistem kleptokrasi. Dengan banyaknya koruptor yang ditangkap KPK alihalih menumbuhkan efek jera, tetapi seakan bangga kalau telah berhasil menggasak uang negara dalam d jumlah yang y nyaris tak terbayangkan oleh nalar. Korupsi menjadi endemi dan virusnya menular, menyebar, merata dari atas sampai bawah.

Politik, apalagi menghadapi 2014, akan semakin bising dengan kerumunan manusia yang bernafsu menjadi wakil masyarakat tak peduli kapasitas isi kepala yang dimilikinya; juga kekerasan simbolik dan fisik yang direpresentasikan kelompok kaum radikal semakin menunjukkan alamat negara yang kian tidak berwibawa bahkan nyaris absen. Sisi lain ekonomi seakan tercekik dalam drama `pasar bebas', dan kita hanya menjadi penonton di tengah kaum pemodal-kapitalis yang dengan rakus mencaplok apa pun yang dianggapnya akan mendatangkan keuntungan finansial.

Pascapuasa

Entahlah. Boleh jadi `budaya populer' (popular culture) itu bukan hanya menjangkiti persoalan yang dianggap `profan' bahkan hal yang `sakral' pun tidak mampu berkelit dari pesona serbuan budaya populer. Mungkin termasuk di dalamnya ritus puasa.

Laiknya budaya populer, di dalamnya hanya menyisakan kedangkalan yang dirayakan dengan kemeriahan tidak terkendali. Menyemarakkan aspek `prosedural' dan lupa akan hal `substansial'. Mementingkan citra ketimbang kejujuran fakta. Menomorsatukan capaian pesona jasmaniah daripada keheningan kudus rohaniah. Memburu decak kagum pujian manusia daripada sunyi dalam martabat keagungan dari Tuhan. Menyesuaikan dengan selera massa ketimbang menggali autentisitas diri memperoleh keuntungan (making profits).

Bolehlah kita renungkan. Betapa tidak, selama bulan puasa kita menjadi pribadi yang sa ngat saleh. Malam dihidupkan dengan tarawih. Alquran dibaca setiap saat dan zakat ditebar ke berbagai pihak. Be lum lagi kalau dikaitkan dengan ideologi TV yang selama Ramadan selalu menampilkan acaraacara religius lengkap dengan artis-artis yang nyaris tidak bisa dibedakan dengan tampilan ustazah. Belum lagi para ustad di layar kaca yang mengepung kita selama sebulan dengan fatwa dan humornya yang lebih lucu dari para pelawak plus tampilannya yang modis nan wangi.

Selepas Ramadan ceritanya menjadi berbeda berbanding terbalik. Puasa seperti tidak menyisakan jejak apa-apa kecuali sekadar sebuah kenyataan untuk menunaikan kewajiban formalistik atau bisa jadi benar analisis kaum antropolog bahwa masyarakat kita termasuk manusia yang gemar melakukan upacara dan menyelenggarakan ritus. Baik ritus keagamaan ataupun ritus kebangsaan.
Atas nama `upacara' apa pun ditinggalkan bahkan sekolah dan kantor diliburkan, yang penting upacara itu dapat terselenggarakan. Bagaimana pesan moral di balik upacara? Jawaban dari pertanyaan seperti ini dianggap sangat tidak penting.

Puasa menjadi sangat tidak bisa dibedakan dengan gejala hiruk pikuk gejala umrah, animo haji yang semakin bergairah, fesyen yang telah berubah menjadi industri busana muslim(ah). Janganjangan di balik semua itu tersembunyi semangat `keberagamaan pasar'. Keberagamaan yang ditaklukkan kapitalisme/kapitalisasi Islam.

Ilusi modernitas

Fenomena seperti itulah yang dibilang Peter L Berger sebagai `ilusi-ilusi modernitas'. Kaum agamawan mengira bahwa ritual yang telah dilakukannya akan dapat menghampiri Tuhan. Padahal, Tuhan akan semakin menjauh justru ketika budaya populer dijadikan sebagai haluan utama dalam altar ritus kita.

Ilusi ini yang dibahasakan Jalaludin Rumi (1207-1273) sebagai `hijab' (penghalang). Hijab antara bumi manusia dan langit ketuhanan. Hijab yang kemudian membuat kaum agamawan kehilangan sensitivitas dan tidak dapat melihat arah yang harus ditempuh. Hijab yang bikin negara kian tidak berpihak terhadap warganya karena para pengelolanya terhalang oleh kepentingan sesaat dan nafsu degil.

Padahal justru, ujar mistikus sekaligus penyair dari Konya itu, puasa hakiki seharusnya dapat membakar seratus hijab agar ketika keluar dari Ramadan seseorang tak ubahnya bayi; suci, bening, dan tulus. Keluar dari Ramadan kita menjadi para pemenang sejati karena seluruh kesalahan dan kekhilafan terbakar (Ramadan secara semantik bermakna membakar) dan kita baik secara personal ataupun sosial kebangsaan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.


Kembali ke fitrah kesucian (Idul Fitri) sudah seharusnya menjadi `modal sosial' untuk membangun kehidupan yang tidak kehilangan adab, menjadi `modal kultural' untuk menciptakan masyarakat berbudaya sekaligus `modal spiritual' dalam menggapai marwah kemanusiaan kita. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar