Kamis, 15 Agustus 2013

Fitrah Kemandirian

Fitrah Kemandirian
Aji Dedi Mulawarman Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
REPUBLIKA, 12 Agustus 2013


Membaca idealisme pembangunan Indonesia, terutama di bidang ekonomi, sungguh menyejukkan, menenangkan, sekaligus membahagiakan. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan pemerintah dan DPR-RI lewat UU No 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. 

Berkaca dari tantangan bidang Ekonomi Point 5 RPJPN, garis besarnya adalah bagaimana Indonesia dapat mempertahankan kedaulatan perekonomian. Tantangan utama kemajuan ekonomi kemudian diarahkan untuk mengembangkan aktivitas perekonomian yang didukung penguasaan dan penerapan teknologi serta peningkatan produktivitas sumber daya manusia, mengembangkan kelembagaan ekonomi, serta menjamin ketersedian kebutuhan dasar dalam negeri. 

Namun, `hasrat' kebahagiaan ekonomi RPJPN menjadi hilang dan bersifat deklinasi sampai di titik minus ketika penulis membaca salah satu hasil kinerja pemerintahan negeri ini melalui Naskah Pidato Kenegaraan Presiden SBY 16 Agustus 2012. Pidato lebih menekankan antisipasi ekonomi di tengah gejolak makro ekonomi lewat keamanan sektor riil, pertumbuhan ekonomi, kehati-hatian stimulus fiskal, kemungkinan pengurangan subsidi BBM, proyek bantuan ekonomi lemah, ketahanan (dan bukannya kemandirian) pangan, serta implementasi Master-Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dari RPJPN lewat pembangunan infrastruktur dan sektor riil senilai Rp 490 triliun. 

Penulis percaya, kemandirian bangsa tetap dijalankan. Tetapi, mengapa indikator makro selalu lebih dominan? Mengapa rilis-rilis hasil aksi pemerintah tidak pernah lebih mengarusutamakan kemandirian dan kedaulatan sebagai ukuran-ukuran keberhasilan ekonomi?

Pertanyaan kemudian, apakah me mang implementasi MP3EI lebih ditekankan pada pertumbuhan ekonomi dan bukannya pada keberpihakan usaha domestik? Seberapa jauh dan besar keikutsertaan ataupun penguatan pelaku usa ha kecil dan menengah memiliki kesempatan dinaikkan menjadi domain utama atau sekadar subordinat swasta besar dan BUMN?

Kerancuan atas campur aduk konseptual RPJPN tak terbantahkan ketika kita melihat korelasi program MP3EI dengan peningkatan PDB per kapita. Apakah dengan PDB per kapita naik secara tidak langsung akan berdampak pada realisasi keberpihakan kedaulatan ekonomi bangsa ataukah malah menggiring pada middle income trap? Apalagi, bila hal itu dikaitkan dengan kesiapan AFTA 2015, nyata-nyata kualitas SDM nasional kita masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara di lingkungan ASEAN. 

Janji idealisme produktivitas dan kedaulatan ekonomi melarut, bahkan mendekati habis luluh lantak menjadi hiasan perencanaan ekonomi negeri lewat RPJPN. Penulis teringat tulisan lama Soekarno Muda dalam Fikiran Ra'jat pada 1933 (kumpulan tulisan Di Bawah Bendera Revolusi) yang menegaskan "Aanvaarden, tetapi revolution- air aanvaarden, itulah sembojan kita!" 
Bolehlah kita menerima (aanvaarden) serta bermain-main dengan kekuatan asing, tetapi revolusi atas kemandirian bangsa tetap harus ditanamkan.
Betapapun sulitnya menggerakkan perekonomian nasional, gejolak global yang berdampak pada ekonomi nasional, kerumitan sosial, budaya, politik, kehidupan beragama, serta pengentasan kemiskinan, bagi penulis, akarnya hanyalah kembali pada semangat "ruh" RPJPN. 

Pembangunan infrastruktur ya, stabilitas ekonomi ya, pertumbuhan ya, tetapi janganlah penguatan pribumi dan kekuatan bangsa dari level mikro, kecil, dan menengah diprioritaskan dalam jangka panjang sebagai motor perubahan ekonomi negeri menjadi terlupakan. 

Di tangan mereka, seharusnya pengembangan koridor ekonomi Indonesia digagas. Bukan hanya menekankan penguatan BUMN dan swasta, tanpa kejelasan siapa itu swasta. Penulis juga tidak melihat Master-Plan Percepatan dan Perluasan Penurunan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2012-2025 sebagai salah satu bagian penanggulangan kemiskinan yang efektif dari RPJPN akan menjadi senjata jitu penguatan ekonomi nasional karena stigmatisasi masyarakat miskin tetap dilanjutkan.

Rasanya, bila program MP3KI hanya menggiring stigma masyarakat miskin tak mampu bergerak maju maka menjadi benar statement MP3KI yang hanya diarahkan pada `keterlibatan secara langsung dan menerima manfaat pertumbuhan ekonomi yang tinggi'. Masyarakat harusnya tetap diorientasikan sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan, fitrah ekonomi Indonesia yang asli yang berpotensi dengan menciptakan milieu kekuatan nasional, sehingga tidak menjadi "alat" dan "subordinat" kekuatan ekonomi besar baik nasional maupun MNC's (Multi National Companies) abadi.

Kemuliaan hanya ada pada kedaulatan manusia atas orang lain, kedaulatan ekonomi masyarakat di negeri sendiri yang berdikari. Kemuliaan untuk kedaulatan seharusnya tidak bisa dikalahkan demi masifitas ukuran makro ekonomi liberal pro pasar. Pilihan campuran liberalisasi dan pemberdayaan memang membutuhkan kearifan dan konsistensi keberpihakan pilihan ekonomi.
Bila kemuliaan memang penting, rakyat adalah pilihannya dengan konsekuensi liberalisasi pasar perlu tereduksi pada skala tertentu.

Perekonomian negeri kita bukan hanya sebagai puluhan ribu lini bisnis yang berlainan dan dipersatukan hanya karena mereka kebetulan berada dalam batas-batas suatu negara yang sama. Indonesia, seperti kata Muhammad Hatta sang proklamator, adalah kumpulan manusia yang memiliki keterikatan batin dan kebersamaan untuk menggabungkan salah satu kekuatan sosial politiknya, yaitu ekonomi bersama, cooperation

Cooperation juga bukanlah bentuk teknis badan usaha koperasi yang simpel, tetapi memiliki ruh menggerakkan sumber daya bersama untuk mengembangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata kuncinya, kemandirian dalam kebersamaan. 

Akhirnya, untuk mencapai cita-cita RPJPN, yaitu Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur terletak pada seberapa besar pemimpin negeri ini berpihak untuk kemandirian dalam kebersamaan. Mampukah kita mencapai fitrah ini? Seperti sabda Rasulullah, "Tiada seorang makan makanan yang lebih baik, kecuali dari hasil usahanya sendiri. Dan, Nabi Daud AS juga makan dari hasil tangannya sendiri.". 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar