Kamis, 15 Agustus 2013

Dilema Perekonomian Indonesia

Dilema Perekonomian Indonesia
Sabaruddin Siagian Dosen Institut Perbanas Jakarta
SUARA KARYA, 13 Agustus 2013

Upaya pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,3 persen mustahil dapat tercapai. Tingginya tekanan eksternal dan tekanan inflasi memupus target pertumbuhan ekonomi itu. Upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi memiliki risiko sangat besar.

Tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi tahun 2013 tecermin dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2013 yang hanya 6,03 persen. Dan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2013 hanya sebesar 5,81 persen. Sehingga, pertumbuhan ekonomi semester I/2013 hanya 5,92 persen.

Terkoreksinya pertumbuhan ekonomi semester I/2013 karena mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi rumah tangga, menurun cukup besar akibat kenaikan harga BBM bersubsidi. Pada kuartal II/2012, bertumbuh 5,24 persen, tetapi kuartal II/2013 menurun, menjadi 5,06 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi juga akibat penurunan pertumbuhan investasi, yang tercermin dari menurunnya pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kuartal II/2013, menjadi 4,67 persen, dari 12,47 persen pada kuartal II/2012.

Konsumsi pemerintah juga menurun sangat besar akibat rendahnya penyerapan anggaran pemerintah hingga sekarang ini. Pada kuartal II/2013, pertumbuhan konsumsi pemerintah hanya 2,13 persen dari 8,64 persen pada kuartal II/2012.

Kontribusi ekspor meningkat pada kuartal II/2013 menjadi 4,78 persen dari 2,63 persen pada kuartal II/2012. Akan tetapi, pada target pertumbuhan ekspor untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada APBN-P 2013 sebesar 6,6 persen. Besaran pertumbuhan ekspor kuartal II/2013 ini rendah juga.

Pertumbuhan impor kuartal II/2013 cukup menggembirakan sebesar 0,62 persen dari 11,33 persen pada kuartal II/2012. Penurunan drastis pertumbuhan impor ini akibat penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan penurunan pertumbuhan investasi.

Penyokong pertumbuhan ekonomi masih tertekan hingga akhir 2013, maka diperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2013 menurun lagi menjadi 5,7 persen. Dan, meningkat kuartal IV/2013 hingga mencapai 6 persen. Pertumbuhan ekonomi 2013 diperkirakan realistis hanya 5,8 - 5,9 persen.

Ekspor Melambat

Dhus, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,3 persen mustahil tercapai karena membutuhkan pertumbuhan ekonomi pada semester II/2013 minimal sebesar 6,6 persen. Padahal, daya beli masyarakat sudah menurun cukup besar, investasi masih menurun, pertumbuhan ekspor masih melambat akibat perekonomian global masih dalam pemulihan.

Termasuk target pertumbuhan ekonomi tahun 2014 direncanakan pemerintah 6,4 - 6,9 persen sangat sulit dicapai juga. Karena, kondisi perekonomian global tahun 2014 belum signifikan pemulihannya.
Sejatinya, kapasitas pertumbuhan ekonomi kita memang terbatas. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir ini yang rata-rata hanya bertumbuh 5,5 persen dan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 hanya sebesar 6,2 persen.

Kalau digenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan asumsi di atas, 6,4 persen cukup sulit mencapainya, karena industri membutuhkan impor barang modal dan bahan baku yang sangat besar ketika kapasitasnya ditingkatkan, tetapi porsi produksi yang diekspor kecil. Maka, semakin besar pertumbuhan ekonomi, semakin sangat besar pula dolar AS yang dibutuhkan untuk mengimpor barang modal dan bahan baku.

Begitu juga kebutuhan minyak, semakin besar pertumbuhan ekonomi, semakin besar pula impor minyak. Karena, kita sudah mengalami defisit minyak. Lifting minyak kita hanya mencapai 861 ribu barel per hari (bph), padahal konsumsi minyak kita membutuhkan 1,4 juta bph. Akibat defisit minyak ini, kita terpaksa mengimpor dengan menggunakan dolar AS yang sangat besar. Ironis memang, jika dibandingkan industri perminyakkan kita di masa Orde Baru manakala kita mampu memproduksi 1,6 juta bph.

Rentan Krisis

Besarnya cadangan devisa untuk membiayai kebutuhan impor barang modal, bahan baku, barang penolong, dan impor minyak tercermin pada transaksi berjalan yang mengalami defisit selama 7 kuartal terakhir ini. Dan, tercermin pula besarnya defisit pada kuartal I/2013 sebesar 5,8 miliar dolar AS dan kuartal II/2013 meningkat lagi, menjadi 9 miliar dolar AS.

Semakin besarnya defisit transaksi berjalan diakibatkan pembelian barang modal, bahan baku dan minyak, maka cadangan devisa sangat besar tersedot. Maka, nilai rupiah mudah mengalami tekanan seperti saat ini. Jika tidak ada perbaikan pada industri, mengerem kebutuhan minyak dan tidak mengembangkan industri berbasis ekspor, rupiah dan perekonomian kita rentan terhadap krisis.

Ada dilema pada perekonomian kita. Di satu sisi kita memiliki sumber daya dan pasar yang sangat besar, di sisi lain perekonomian mudah 'panas'. Untuk memutus dilema perekonomian dan memperbesar kapasitas yang lebih besar, Indonesia membutuhkan reformasi struktural untuk membentuk industri berbasis bahan baku dan barang modal yang dihasilkan industri di dalam negeri, mendiversifikasikan energi, khususnya memanfaatkan energi terterbarukan, dan meningkatkan infrastruktur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar