|
Upaya pemerintah mencapai
pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,3 persen mustahil dapat tercapai.
Tingginya tekanan eksternal dan tekanan inflasi memupus target pertumbuhan
ekonomi itu. Upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi yang tinggi memiliki risiko
sangat besar.
Tidak tercapainya target
pertumbuhan ekonomi tahun 2013 tecermin dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal
I/2013 yang hanya 6,03 persen. Dan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2013
hanya sebesar 5,81 persen. Sehingga, pertumbuhan ekonomi semester I/2013 hanya
5,92 persen.
Terkoreksinya pertumbuhan ekonomi
semester I/2013 karena mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi, yakni
konsumsi rumah tangga, menurun cukup besar akibat kenaikan harga BBM
bersubsidi. Pada kuartal II/2012, bertumbuh 5,24 persen, tetapi kuartal II/2013
menurun, menjadi 5,06 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi juga
akibat penurunan pertumbuhan investasi, yang tercermin dari menurunnya
pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kuartal II/2013, menjadi 4,67
persen, dari 12,47 persen pada kuartal II/2012.
Konsumsi pemerintah juga menurun
sangat besar akibat rendahnya penyerapan anggaran pemerintah hingga sekarang
ini. Pada kuartal II/2013, pertumbuhan konsumsi pemerintah hanya 2,13 persen
dari 8,64 persen pada kuartal II/2012.
Kontribusi ekspor meningkat pada
kuartal II/2013 menjadi 4,78 persen dari 2,63 persen pada kuartal II/2012. Akan
tetapi, pada target pertumbuhan ekspor untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada
APBN-P 2013 sebesar 6,6 persen. Besaran pertumbuhan ekspor kuartal II/2013 ini
rendah juga.
Pertumbuhan impor kuartal II/2013
cukup menggembirakan sebesar 0,62 persen dari 11,33 persen pada kuartal
II/2012. Penurunan drastis pertumbuhan impor ini akibat penurunan pertumbuhan
konsumsi rumah tangga dan penurunan pertumbuhan investasi.
Penyokong pertumbuhan ekonomi
masih tertekan hingga akhir 2013, maka diperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal
III/2013 menurun lagi menjadi 5,7 persen. Dan, meningkat kuartal IV/2013 hingga
mencapai 6 persen. Pertumbuhan ekonomi 2013 diperkirakan realistis hanya 5,8 -
5,9 persen.
Ekspor Melambat
Dhus, untuk mencapai pertumbuhan
ekonomi 6,3 persen mustahil tercapai karena membutuhkan pertumbuhan ekonomi
pada semester II/2013 minimal sebesar 6,6 persen. Padahal, daya beli masyarakat
sudah menurun cukup besar, investasi masih menurun, pertumbuhan ekspor masih
melambat akibat perekonomian global masih dalam pemulihan.
Termasuk target pertumbuhan
ekonomi tahun 2014 direncanakan pemerintah 6,4 - 6,9 persen sangat sulit
dicapai juga. Karena, kondisi perekonomian global tahun 2014 belum signifikan
pemulihannya.
Sejatinya, kapasitas pertumbuhan
ekonomi kita memang terbatas. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi dalam
sepuluh tahun terakhir ini yang rata-rata hanya bertumbuh 5,5 persen dan
pertumbuhan ekonomi tahun 2012 hanya sebesar 6,2 persen.
Kalau digenjot pertumbuhan ekonomi
yang tinggi dengan asumsi di atas, 6,4 persen cukup sulit mencapainya, karena
industri membutuhkan impor barang modal dan bahan baku yang sangat besar ketika
kapasitasnya ditingkatkan, tetapi porsi produksi yang diekspor kecil. Maka, semakin
besar pertumbuhan ekonomi, semakin sangat besar pula dolar AS yang dibutuhkan
untuk mengimpor barang modal dan bahan baku.
Begitu juga kebutuhan minyak,
semakin besar pertumbuhan ekonomi, semakin besar pula impor minyak. Karena,
kita sudah mengalami defisit minyak. Lifting minyak kita hanya mencapai 861
ribu barel per hari (bph), padahal konsumsi minyak kita membutuhkan 1,4 juta
bph. Akibat defisit minyak ini, kita terpaksa mengimpor dengan menggunakan
dolar AS yang sangat besar. Ironis memang, jika dibandingkan industri
perminyakkan kita di masa Orde Baru manakala kita mampu memproduksi 1,6 juta
bph.
Rentan
Krisis
Besarnya cadangan devisa untuk
membiayai kebutuhan impor barang modal, bahan baku, barang penolong, dan impor
minyak tercermin pada transaksi berjalan yang mengalami defisit selama 7
kuartal terakhir ini. Dan, tercermin pula besarnya defisit pada kuartal I/2013
sebesar 5,8 miliar dolar AS dan kuartal II/2013 meningkat lagi, menjadi 9
miliar dolar AS.
Semakin besarnya defisit transaksi
berjalan diakibatkan pembelian barang modal, bahan baku dan minyak, maka
cadangan devisa sangat besar tersedot. Maka, nilai rupiah mudah mengalami
tekanan seperti saat ini. Jika tidak ada perbaikan pada industri, mengerem
kebutuhan minyak dan tidak mengembangkan industri berbasis ekspor, rupiah dan
perekonomian kita rentan terhadap krisis.
Ada dilema pada perekonomian kita.
Di satu sisi kita memiliki sumber daya dan pasar yang sangat besar, di sisi
lain perekonomian mudah 'panas'. Untuk memutus dilema perekonomian dan
memperbesar kapasitas yang lebih besar, Indonesia membutuhkan reformasi
struktural untuk membentuk industri berbasis bahan baku dan barang modal yang
dihasilkan industri di dalam negeri, mendiversifikasikan energi, khususnya
memanfaatkan energi terterbarukan, dan meningkatkan infrastruktur. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar