Sabtu, 17 Agustus 2013

Delapan Setengah Windu

Delapan Setengah Windu
Toeti Pahas Adhitama Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA, 16 Agustus 2013

LEBARAN telah berlalu. Besok Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berulang tahun delapan setengah windu. Dua peristiwa besar itu memunculkan lamunan tentang kesuksesan ataupun kelengahan kita sebagai bangsa yang sudah merdeka 68 tahun. Mengutip ungkapan asing, now we are back to business--bisnis untuk merancang masa depan yang lebih baik, khususnya melalui Pemilu 2014.

Dengan belajar dari peristiwa-peristiwa menjelang Lebaran, terbukti kita telah lengah dalam bidang-bidang tertentu. Yang mencolok tentang pengadaan bahan pangan yang harganya melambung tinggi. Sebagai masyarakat agraris, semestinya kita tidak harus dibuat bingung oleh begitu tingginya harga produkproduk pertanian. Padahal dengan bertepuk dada, kita selalu mengatakan negara ini gemah ripah loh jinawi. Belum lagi soal langkanya daging sapi. Apa pun, itu menunjukkan kelengahan kita dalam bidang pertanian.

Gairah pulang mudik dan urbanisasi pun menggambarkan masalah kependudukan masih menjadi problem yang menghantui. Sistem Keluarga Berencana tidak lagi ramai didengungkan. Peningkatan dan penyebaran penduduk yang tidak diatur pada gilirannya mengakibatkan ketimpangan kesejahteraan karena membuat pembangunan menjadi tidak merata. Anjuran Profesor Sumitro Djojohadikusumo puluhan tahun lalu agar kita membangun growth centres, atau pusat-pusat pertumbuhan baru yang menyebar di seluruh wilayah, rupanya kurang diprioritaskan.

Namun kita bersyukur Ramadan berlalu dengan selamat dan kita bisa saling memaafkan pada hari Lebaran. Mohon maaf lahir batin. Kita juga bersyukur bisa berbangga karena memenangi dua gelar kejuaraan dunia untuk olahraga bulu tangkis menjelang HUT kemerdekaan kita.

Kemerdekaan 8,5 windu

Perayaan esok hari mudahmudahan membuat kita sadar bahwa sudah saatnya kita kembali menyingsingkan lengan baju untuk kerja keras demi masa depan. Untuk itu kita tentu membutuhkan jajaran pemimpin yang mumpuni. Di masa Orde Lama, Bung Karno dengan jajarannya berhasil memerdekakan wilayah bekas jajahan ini dan membentuknya menjadi NKRI. Usaha dan perhatian Orde Lama yang terfokus pada masalah politik membuatnya lengah terhadap bidang ekonomi. Sejak 1967, di masa Orde Baru, Pak Harto dan jajaran pimpinan di masanya telah mengadakan koreksi dengan mengutamakan pembangunan ekonomi. Demi kesuksesan program itu, Orde Baru yang dikenal otoriter telah mengabaikan asas demokrasi. Situasi itulah yang ingin dikoreksi Orde Reformasi.

Demokrasi tentu bukan ideologi abstrak yang akan terwujud hanya dengan angan-angan dan dengan terus-menerus menyebutkannya. Situasi sosial di masa reformasi ini masih diwarnai tradisi kekuasaan yang feodalistis yang tentu menimbulkan distorsi terhadap konsep demokrasi. Masih ada yang menafsirkan demokrasi sebagai kebebasan tanpa hambatan hingga bisa berbuat sewenang-wenang. Itu menjelaskan mengapa korupsi, yang mulai marak ketika Indonesia mengalami banjir petrodolar di masa Orde Baru, kini makin merajalela. Di lain pihak, tradisi feodalistis belum memungkinkan tumbuhnya kebersamaan demi kesejahteraan bersama.

Tradisi itu mengakibatkan munculnya demikian banyak partai politik yang bersaing untuk saling mengungguli. Diasumsikan, itu dilakukan demi kekuasaan. Partai-partai politik dengan bermacammacam ideologi bertumbuhan di masa Orde Lama, yang jumlahnya diciutkan di masa Orde Baru agar ideologinya lebih terarah. Akan tetapi, sekarang partai-partai politik marak kembali dengan ideologi tumpang tindih hingga tidak jelas beda antara partai nasionalis yang satu dan yang lainnya, atau partai agama yang satu dan yang lainnya.
Koalisi merupakan satu cara membangun kekuasaan. Apakah itu akan terjadi sebelum pemilu? Fakta yang ada sekarang, masyarakat tidak yakin memilih yang mana karena platform partai yang tumpang tindih.

Apakah hanya demi kekuasaan?

Lewat Metro TV, pernah ada narasumber yang menyatakan partai-partai politik terbentuk untuk menuai kekuasaan semata. Setelah itu, bagaimana nanti? Kritik pedas itu patut dicerna. Juga, suatu kenyataan bahwa unsur-unsur paternalisme dan feodalisme masih mewarnai kultur kerja partaipartai politik. Di kalangan politisi sendiri, ada kelompok tradisional dengan latar belakang tradisi dinasti, yang mengutamakan kerabat-kerabatan mereka untuk berbagi kekuasaan; dan ada kelompok modern yang profesional dan cendekia yang mempersaingkan ide masing-masing.

Apa yang dipikirkan rakyat banyak yang memiliki hak pilih? Apakah mereka peduli dan ingin berpartisipasi? Gejalanya, konstituen berpendidikan tinggi tidak terlalu banyak yang meminati. Diperkirakan, jumlah golput akan meningkat, sedangkan mayoritas konstituen yang berpendidikan rendah-menengah, yang berjumlah sekitar 160 juta, tidak terlalu berpikir muluk-muluk, lebih-lebih karena pendidikan politik oleh partai-partai politik pun kurang memadai. Sebenarnya pemilih bukan hanya harus mengenal gambar partai atau tahu cara mencoblos. Yang terpenting, mereka perlu tahu apakah partai-partai politik bisa mengatasi problem penghidupan mereka, mengangkat mereka dari kesengsaraan lewat pendidikan dan perluasan lapangan kerja. Karena itu, money politics sebagai jawaban instan mungkin masih akan ramai.


Di sisi lain, pemilih yang terdidik ingin mengetahui apa yang terpapar dalam platform partai. Alangkah eloknya bila partai politik mengisi platform mereka dengan agenda kepedulian kepada kaum miskin, di samping agenda solusi untuk masalah-masalah yang membangkitkan ketidakpuasan sekarang ini, seperti masalah korupsi di partai politik ataupun birokrasi, penyimpangan oleh lembaga-lembaga penegak hukum, dan tidak adanya kejelasan serta ketegasan badan legislatif dalam mengusung kepentingan rakyat. Sementara ini, kita hanya bisa berharap, berdoa, dan menunggu semoga muncul pemimpinpemimpin mumpuni baru lewat Pemilu 2014. Dirgahayu Republik Indonesia. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar