Senin, 12 November 2012

Obama Menang Berita Gembira?


Obama Menang Berita Gembira?
Makmur Keliat ;  Pengajar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia
KOMPAS, 09 November 2012



Barack Obama akan kembali memimpin Amerika Serikat untuk lima tahun yang akan datang. Sebagai negara dengan ukuran ekonomi terbesar di dunia, perhatian besar terhadap proses pemilihan di negeri itu tentu saja wajar.
Sebagai kekuatan ekonomi terbesar, kinerja ekonomi Amerika Serikat memang memberikan pengaruh cukup menentukan, baik terhadap kinerja ekonomi global maupun regional. Bagi sebagian pihak, terpilihnya kembali Obama menyampaikan berita baik. Diperkirakan tidak akan banyak perubahan dalam hubungan Amerika Serikat dengan dunia luar.
Kemenangan Obama berarti akan terdapat konsistensi dan kesinambungan kebijakan Amerika Serikat, seperti prioritas pada pendekatan multilateral dalam kerja sama internasional. Namun, di luar faktor kepemimpinan ini terdapat faktor obyektif yang perlu dicermati sehingga kita tidak menumbuhkan harapan terlalu tinggi tentang kesinambungan dan konsistensi kebijakan itu.
Menghindari ”Batu Karang”
Faktor obyektif itu terkait dengan persoalan defisit anggaran federal yang kini telah mencapai angka sekitar 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) negeri itu. Angka ini sangat jauh di atas standar normatif Eropa.
Kesepakatan Maastricht, misalnya, telah menetapkan pagu defisit anggaran sebaiknya tidak melebihi angka 3 persen. Kata kunci untuk melihat betapa seriusnya persoalan defisit anggaran federal ini telah diungkapkan oleh Ben Bernanke, pimpinan Bank Sentral Amerika Serikat.
Melalui terminologi fiscal cliff yang disampaikannya dalam dengar pendapat dengan Kongres AS pada 7 Juli 2012, Bernanke bermaksud menyatakan bahwa AS ibarat sebuah kapal yang tengah berlayar mendekati suatu ”batu karang”. Agar kapal itu tidak celaka karena terbentur dengan batu karang, sesuatu tentu saja harus dilakukan.
Batu karang itu muncul sehubungan dengan semakin mendekatnya batas akhir berlakunya ”kesepakatan politik” yang dibuat sejak masa pemerintahan Bush. Konsensus politik itu tak lain adalah kebijakan pemotongan pajak yang bersifat temporer, yang telah menyebabkan defisit anggaran federal negeri itu sangat sukar untuk mematuhi standar baku internasional.
Jika sesuatu tidak dilakukan hingga 31 Desember mendatang, konsensus politik yang dibuat pada masa Bush itu memandatkan bahwa kebijakan pemotongan pajak itu harus dihentikan dan secara otomatis diberlakukan pula kebijakan pemotongan untuk pengeluaran anggaran. Karena itu, terdapat tiga opsi kebijakan yang akan dihadapi oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk menghadapi persoalan fiscal cliff ini.
Opsi pertama adalah dengan menggunakan instrumen kebijakan peningkatan pajak (tax increase) sekaligus pengurangan pengeluaran pemerintah (government spending cut). Jika kedua instrumen kebijakan ini diambil sekaligus, Badan Anggaran Kongres Amerika Serikat (CBO) memproyeksikan bahwa ekonomi AS akan mengalami resesi pada 2013. Tingkat pengangguran di negeri itu pun akan meleset tajam di atas 9 persen. Namun, sisi baiknya adalah jika kebijakan ini diambil, defisit anggaran Amerika Serikat akan menurun secara drastis dan diperkirakan menjadi 1 persen dari PDB pada 2016.
Opsi kedua adalah melanjutkan instrumen kebijakan pemotongan pajak dan menunda pemotongan pengeluaran yang telah dijadwalkan. Jika Kongres dan Presiden sepakat untuk kembali melanjutkan penggunaan instrumen kebijakan yang telah dibuat sejak masa Bush ini, kehancuran ekonomi mungkin bisa dicegah untuk sementara waktu.
Dalam jangka pendek, ekonomi Amerika Serikat akan tetap tumbuh walau lambat dan tingkat pengangguran tidak akan setinggi dalam opsi pertama. Namun, defisit anggaran tetap tinggi dan diperkirakan utang pemerintah akan meningkat tajam dari angka 73 persen dari PDB untuk tahun ini menjadi hampir sebesar 90 persen dari PDB pada 2022.
Di luar dua opsi ini, tentu saja ada opsi kombinasi. Pilihan ini yang tampaknya akan dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama pada tahun-tahun yang akan datang. Pilihan ini secara politik dianggap lebih dapat diterima. Hal ini mengingat pilihan pertama ataupun kedua mensyaratkan adanya dukungan penuh dari Kongres, baik itu yang berasal dari Senat maupun dari Majelis Rendah (House of Representatives).
Namun, pemilihan yang baru saja dilakukan menyampaikan pesan bahwa dukungan politik itu akan sangat sukar diperoleh oleh Obama. Walau perhitungan akhir tentang jumlah kursi belum dapat diperoleh hingga tulisan ini dibuat, kelompok Republik sudah dapat dipastikan tetap mengendalikan Majelis Rendah. Oleh karena itu, kebutuhan untuk melakukan kebijakan konsolidasi fiskal kemungkinan besar tidak akan ditempuh dengan opsi kebijakan pertama ataupun opsi kedua.
Konsekuensi
Ada beberapa konsekuensi dari pilihan kebijakan seperti ini terhadap lingkungan global dan regional. Pertama, keharusan untuk melakukan konsolidasi fiskal akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan berjalan dengan sangat lambat.
Laporan IMF (IMF Country Report No 12/213 Juli 2012) memproyeksikan bahwa ekonomi negeri ini akan tumbuh rata-rata sekitar 3 persen hingga 2017. Ini berarti pula bahwa kontribusi Amerika Serikat untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi global tidak terlalu dapat diandalkan pada masa lima tahun pemerintahan Obama yang akan datang.
Kedua, Amerika Serikat akan berusaha untuk mengintensifkan pendekatan regional dan bilateral untuk mengurangi beban konsolidasi fiskal ini. Salah satu wilayah yang sangat menjanjikan untuk pendekatan regional dan bilateral ini adalah kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik.
Negara-negara di kawasan ini, Asia Timur dan Asia Pasifik, tetap mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Amerika Serikat tidak bisa menoleh dan mengandalkan wilayah Atlantik karena Uni Eropa tengah mengalami krisis keuangan. Hal ini sebagian bisa menjelaskan mengapa AS terlihat sangat aktif mempromosikan kerangka kerja sama regional, baik melalui KTT Asia Timur (East Asia Summit), Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), dan Trans-Pacific Partnership ataupun melalui inisiatif-inisiatif diplomatik bilateral terhadap beberapa negara di kawasan untuk mengikuti kerangka perdagangan bebas (FTA) yang telah dibuatnya dengan Singapura, Australia, dan Korea Selatan.
Ketiga, kebutuhan untuk melakukan konsolidasi fiskal itu juga dapat mengakibatkan penurunan kapasitas daya serap impor Amerika Serikat dari China. Penurunan ekspor China ke Amerika Serikat ini tentu saja akan membawa dampak ke Indonesia.
Patut mencatat bahwa China kini adalah mitra perdagangan ketiga terbesar Indonesia setelah Jepang dan Singapura. Rentetan seperti ini, pada gilirannya, dapat memunculkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan bagi pelaku-pelaku ekonomi Indonesia yang selama ini mengandalkan pertumbuhan ekspor China di pasar global.
Keempat, beberapa sektor usaha di Amerika yang terkena dampak dari kebutuhan konsolidasi fiskal ini akan berusaha untuk mencari jalan keluar (exit strategy). Salah satu sektor usaha itu adalah kelompok industri pertahanan.
Persoalan fiscal cliff diperkirakan akan mengakibatkan pengurangan alokasi pertahanan sebanyak 10 persen. Kontraktor industri pertahanan Amerika Serikat akan berusaha untuk mengatasi pemotongan anggaran pertahanan ini dengan menjalin kerja sama dengan industri pertahanan negara lain.
Situasi ini pulalah yang bisa menjelaskan mengapa telah terdapat sinyal positif dari Pemerintah Amerika Serikat untuk bersedia membantu Indonesia dalam mengembangkan industri pertahanannya. Oleh karena itu, Indonesia sebaiknya memanfaatkan momentum ini semaksimal mungkin untuk melakukan modernisasi pertahanannya. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar